
Naina rela kepanasan diparkiran demi bisa duduk di jok belakang motor Satria dan memeluk pinggangnya.
"Nai, pulang yuk!" ajak salah satu lelaki yang jabatannya seorang manager.
"Kamu duluan ya, aku masih nunggu Satria."
"Satria? masih juga nyaman naik mobil gue jauh, Cantik."
"Tapi sayangnya gue mau sama Satria," jawab Naina ketus.
Saat asyik membicarakan Satria, tiba tiba lelaki yang dibicarakan muncul dari pintu keluar para staf.
"Pangeran yang kamu tunggu sudah datang, kata Leo," lelaki yang juga tampan, tapi sayangnya ketampanannya kini tersaingi oleh pesona Satria.
"Hai, Sat."
"Kamu belum pulang Nay, bukannya kamu sudah sejak tadi keluar?"
"Iya Mas belum, aku masih nunggu kamu."
"Kenapa nunggu aku? bukannya kamu bawa mobil. Kempes lagi ya?" tebak Satria
"I-iya, Mas." Naina baru sadar kalau dia sudah terlalu sering beralasan ban mobil kempes.
"Mas apakah aku bisa ...." Naina ingin bertanya kalau dia ingin meminta tolong diantar pulang.
"Nay tapi hari ini aku ada janji." Satria memasang wajah memelas, tanda meminta maaf.
"Mas, aku sudah menunggu, masa kamu tega biarin aku kepanasan."
"Kalau gitu ikut Leo ya? Aku sudah janji akan pergi bersama Alya.
"Mas!" panggil Wanita cantik memakai baju warna biru toska dan celana kulot hitam, hijab sederhana, berbentuk persegi panjang yang diatur sedemikian rupa hingga menjadi sangat anggun. Wanita itu baru masuk dari pintu gerbang dan turun dari angkot.
"Mas, kebetulan kamu juga baru keluar, kita pergi sekarang yuk, Oma katanya akan datang melihat rumah kita hari ini, kita harus lakukan persiapan."
"Baiklah Sayang," Satria membiarkan Alya mengecup tangannya dan satu pipinya.
Alya biasanya tidak suka cipika cipiki di tempat umum, tapi melihat wanita yang sejak tadi terus melihatnya membuat dia ingin memberitahukan pada dunia kalau Satria sudah menjadi miliknya dan hanya miliknya.
"Ayo naik!"
"Baiklah, Mas." Alya dengam cepat naik di motor besar Satria dan memeluk tubuh suami lebih erat dan nempel mengalahkan jaket kulit.
__ADS_1
Naina yang masih terkejut karena kedatangan Alya yang tiba-tiba. Dia hanya bisa diam terpaku. "Pantas Satria tidak tergoda denganku. istrinya begitu cantik." Naina memuji Alya sangat cantik.
"Leo, aku duluan ya." Satria menatap Leo yang hanya menjadi penonton.
Setelah Alya dan Satria pergi meninggalkan parkiran perusahaan Naina menghentakkan kakinya.
" Nona jadi anda menyukai lelaki yang sudah memiliki wanita lain?"
" Diam manager Leo, kau tidak perlu kepo dengan urusan saya. atau kau akan kehilangan pekerjaan"
Leo hanya tertawa melihat Naina yang wajah nya mendadak seperti kepiting rebus karena menahan malu.
Manager Leo menyalakan mobilnya untuk pergi, Naina kekeuh tak mau pulang dengannya. Dia memilih menunggu sopir pribadinya yang masih mengisi angin saja.
***
Sampai di rumah Satria mengutarakan maksud hatinya tapi kali Ini Satria menjelaskan kalau dia tidak bisa berkutik. karena ada rasa berhutang budi.
"Aku harus ikut Mas, Aku tidak mau ada ulat bulu yang menempel ditubuh suamiku,"
"Baiklah kamu boleh ikut."Satria merangkum wajah istrinya dan mendekap tubuh mungilnya. tapi kita tidak bisa berangkat bersama, aku akan menunggumu di sana.
Alya diam dalam pelukan suami, sadar kalau perasaan saat ini sangat merepotkan. Tapi sesungguhnya dia sangat senang, demi cinta, demi menjaga hubungan, Alya bisa dibilang sekarang menjadi wanita krisis kepercayaan. Meski dari lubuk hatinya yakin Satria setia, tapi semua kadang tak disangka, bagaimana kalau wanita itu nekat menjebak suaminya. bukankah cinta itu kadang buta.
Satria meminta Alya untukik segera berkemas, besok dia akan segera terbang ke Korea.
Umi dan Abi sebenarnya keberatan, tapi bagaimana lagi, itu sudah keputusan Alya.
"Alya suamimu itu bekerja, tak patut kau ikut, nanti kau akan diduga tidak percaya dengannya.
"Maaf Bunda, aku percaya pada suamiku, tapi tidak percaya pada wanita lain di luar sana, apalagi anak bosnya akan ikut bersama Sedangkan aku tahu betul wanita itu menaruh hati dengan suamiku."
"Ya sudahlah, lagian kuliah kamu juga libur, sekalian kalian bulan madu disana. Umi akan menunggu kabar baiknya.
"Iya umi." telepon Alya dan umi berakhir. Do'a yang sama yang diinginkan mertuanya, dia berharap Alya akan segera hamil, dan tak sabar lagi menunggu kabar baiknya.
***
Esok hari Satria benar-benar berangkat, dari kantor mereka berdua saja dengan Naina, tak tahunya Alya sudah menunggu di bandara.
Naina sudah membayangkan setiap saat akan memiliki banyak kesempatan berdua dengan Satria.
Naina dan Satria diantar oleh sopir yang bekerja di perusahaan. Sepanjang perjalanan Naina terus melihat ke arah Satria yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Mas, kamu suka nggak dengan pekerjaan ini."
"Suka, Nay, nggak suka masa harus berangkat."
"Sama dong Mas. aku bahkan seneng banget, apalagi perginya berdua sama kamu." Naina menatap Satria dengan wajah berbinar.
Satria dan Naina sudah sampai di bandara, mereka segera mwnpati kursi yang bersebelahan, Naina selalu berpempilan perveck dan seksi. Naina juga tak sungkan menempelkan kepalanya di pundak Satria.
Saat Satria membenarkan posisi tidur Naina, tak lama posisi kepala Naina sudah berada di bahu Satria lagi. Wanita itu juga tak melepaskan genggaman tangannya dengan beralasan takut.
Selama tujuh jam lima nelasenit mereka di pesawat, Nainaa selalu menpel seperti perangko, tangannya tak sedetikpun melepaskan genggamnya pada lengan Satria.
Tiba di bandara sebuah negara yang nyaris tertutup salju itu, Naina dan Satria bergegas menuju hotel yang akan mereka tempati selama bekerja di negara ini.
Kebetulan kamar hotel yang akan mereka tempati bersebelahan. semuanya seakan sudah di atur oleh Pak Arya.
Andaikan Naina jujur pada orang tuanya soal status Satria, Pak Arya tidak akan melakukan hal sampai sejauh ini.
Setelah mereka masuk ke kamar hotel masing-masing, Naina mandi dan berdandan lagi, dia tidak mau terlihat kucel di depan Satria saat mwtinh nanti malam, bahkan gaun yang dipakainya juga sudah dia rencanakan.
"Sedangkan Satria mulai mempelajari pekerjaannya lewat laptop, Satria sangat serius menanggapi proyek ini, selain tidak mau mengecewakan sang pemberi kepercayaan yang akan menggajinya. Proyek ini saja, Gaji Satria bisa mencapai milyaran rupiah.
Tak terasa dia jam berkutat di depan laptop, lagi-lagi Naina mendatangi Satria.
"Nai, kamu sudah siap?"
"Iya Mas." Naina tersenyum menggoda, karena acaranya malah hari sambil dinner, mereka tidak perlu berpakaian formal.
"Mas!"
"Iya aki akan memanggilmu sama seperti Alya," kata Naina sengaja bersikap kekanakan.
Gaun yang dipakai Naina berwarna merah maroon dengan bentuk lengan pendek yang mengembang di bagian bawah, serta belahan dada rendah berbentuk V, memperlihatkan belahan yang indah dan putih.
"Sat kenapa tak melihatku? apakah malam ini aku terlihat jelek." Naina yang baru saja datang sudah diacuhkan Satria, tentu saja kesal.
"Apakah aku perlu memujimu. jika malam ini kamu sangat cantik?"
"Iya kau harus memujiku, aku senang jika kalimat itu keluar dari bibirmu."
"Baiklah, kau cantik sekali, semoga kau lekas menemukan lelaki yang baik yang tulus mencintaimu."
Naina kini mendekati Satria, duduk di meja dekat laptop. "Nai jika kamu duduk disitu, kamu akan mengganggu aku bekerja," protes Satria.
__ADS_1
"Aku akan terus mengganggu, sebelum aku memastikan kalau kamu berkata serius, lelaki akan mencium wanita yang sudah berdandan cantik untuknya."
Satria tersenyum lalu menatap Naina yang tengah duduk tepat di depannya. Satria sungguh ingin memberi pengertian kalau dia tidak bisa melakukannya, karena dia sudah beristri, dan mencium wanita lain itu dilarang. "Nay, aku sadar kamu sudah tumbuh dan besar di negara barat, tapi aku yakin kamu gadis baik yang tidak akan melupakan adat negara timur.