
Pagi hari Satria dan Alya masih berada dalam peraduan, seprei putih yang semalam begitu rapi kini sudah kusut tak karuan.
Alya segera bangkit begitu mengamati jam sudah pukul enam lewat sedikit.
"Sayang mau kemana?"
"Mau siapkan sarapan, bukankah Mas harus bekerja pagi ini."
"Tidak perlu buru-buru, aku Sudah putuskan tidak kerja hari ini, aku akan cari pekerjaan yang lain."
"Tapi Mas?" Alya menatap suaminya dengan tatapan sendu.
"Tidak apa-apa. Aku akan cari alasan untuk tetap keluar dengan baik-baik, Kebahagiaanmu lebih berharga dari apapun, aku tidak mau kamu menangis lagi."
Satria lalu bersandar di sisi ranjang, dengan selimut menutup pinggangnya hingga kaki. Sedangkan perut ke atas terekspos tanpa sehelai benang.
Dengan posisi tangan dilipat di perut Satria berkata lagi," Aku sudah terlanjur membuat keputusan, dalam hidup ini aku hanya ingin membuatmu bahagia.
Alya kini dilema, dia tidak mau menyusahkan Satria lagi, sudah cukup penderitaan Satria karena menikahinya. Alya tidak mau Satria harus kembali kesulitan mencari kerja.
Diambilnya seragam kerja Satria dari lemari dan perlengkapan lainnya seperti sepatu dan tas yang berisi berkas.
Maafkan aku, jika kemaren aku terlalu kekanak-kanakan. Seharusnya aku percaya kalau kamu bisa menjaga diri, dan tak semua orang itu sama, meski kalian bersaudara, tidak mungkin akan melakukan hal yang sama."
Satria mengerti ucapan Alya yang secara tidak langsung membandingkan dirinya dengan Aditya.
Akhirnya Satria memilih ke kamar mandi, mengabaikan ucapan Alya dan prasangkanya, Satria menarik lengan Alya untuk ikut bersamanya.
Pagi ini mereka mandi bersama untuk yang pertama kalinya semenjak tinggal di kontrakan baru.
"Apakah kamu yakin akan memberiku kepercayaan sebesar itu?"
"Iya, aku akan menerima konsekuensinya memiliki suami tampan, aku tidak boleh egois."
"Aku akan berusaha menjaga kepercayaan yang kau berikan itu."
Satria mengecup bibir Alya dibawah guyuran air shower. Mereka seolah tak pernah lelah untuk saling mencumbu. Alya tidak pernah menolak permainan yang diberikan Satria. Satria terlalu cepat menaklukkan hatinya.
"Kalau sudah ada waktu segera periksakan diri ke bidan, siapa tahu ada calon anakku yang sudah tumbuh disini."
Dielusnya perut rata Alya setelah mereka baru saja melakukan permainan di kamar mandi dengan posisi berdiri.
__ADS_1
Satria mulai mengenalkan Alya dengan banyak gaya, dan semua itu tentu membuat Alya merasakan kenikmatan yang semakin bertambah setiap kali bercinta.
'Aku tidak mungkin hamil, aku masih konsumsi pil itu. Maafkan aku Mas aku akan menghentikannya jika waktunya sudah pas nanti.'
Satria menggendong tubuh Alya yang sudah memakai handuk berbentuk kimono yang hanya ada tali dipinggngnya. Alya masih saja merasakan ngilu tiap Basooka sakti suaminya kembali memasuki miliknya yang selalu sempit.
Setelah keduanya selesai mandi Alya dan Satria bersiap siap untuk menjalani aktifitasnya masing-masing.
***
Satria mengantar Alya ke kampus, kali ini Alya berangkat lebih pagi karena Satria harus segera ke kantor usai mengantarnya.
"Mas, apakah aku boleh datang ke kantor, mungkin jam siang nanti akan kosong karena dosen Prily sudah memberi kabar sejak kemaren."
"Datanglah, aku akan menunggumu, kita makan siang bersama."kata Satria sambil membiarkan Alya mencium tangannya. Aditya yang kebetulan mengikutinya sejak tadi hanya bisa pasrah dengan keadaan, Alya tak mungkin lagi mau kembali padanya.
"Kalaupun aku tak bisa kembali kepada Alya, bukan berarti aku harus menerima keadaan bersama Kinan, gadis itu sudah sering keluar masuk hotel bersama lelaki yang berbeda-beda. Kalaupun yang dikandung dia benar anakku. Aku akan merawatnya dan menyayangi sepenuh hati. Tapi tidak dengan ibunya, aku tidak bisa mencintai dia."
Aditya melanjutkan perjalanan ke kantor, setelah Satria juga melajukan motornya. Adik kakak itu beriringan menjelajahi jalanan di tengah padatnya lalu lintas pagi ini.
Aditya berlahan mulai merelakan Satria menjadi pendamping Alya. Aditya mulai bangga dengan Satria yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan mengurangi kegiatan balap liar yang pernah menjadi olahraga favoritnya.
Sampai di kantor Satria segera masuk ruangan, Satria lega pagi ini tidak bertemu Naina dimanapun. Satria segera masuk ruangan dan mengunci pintu.
Setelah memeriksa semuanya, Satria memasang foto Alya dan dirinya saat prosesi pernikahan pada wallpaper laptopnya. Lalu dipandanginya cincin polos di jari manisnya yang menjadi simbol pernikahan.
Alya, bisa-bisanya kau meragukan aku yang benar-benar sayang padamu. Jika otakku waras, tak mungkin aku akan mengkhianati pernikahan ini, jika itu terjadi berarti aku sudah gila.
Tok! tok!
"Masuklah!" Satria membuka kunci dengan remote di tangannya.
Satria terkejut, tak menyangka yang datang adalah Naina. penampilan Naina pagi ini begitu cantik dan anggun. Naina selain cantik rupanya pandai menyesuaikan warna baju dengan kulitnya yang putih.
"Pagi Satria."
"Pagi Nai." Satria bingung harus bersikap seperti apa, jelas-jelas masalah pekerjaan mereka tidak ada hubungan secara langsung.
"Maaf, ada apa Nai? ini masih sangat pagi untuk bersantai, aku akan ke lapangan untuk memastikan para mandor, siapa tahu ada yang akan dia tanyakan perihal gambar dan miniatur itu.
"Satria melepas jas dan kini memakai seragam untuk di lapangan. Setelah selesai dia mengisyaratkan pada Naina untuk segera keluar.
__ADS_1
"Satria tunggu."
"Ada apa Nay?"
"Sat aku pusing sekali, mataku tiba-tiba berkunang."
"Kenapa bisa mendadak seperti ini."
"Entahlah, tolong bawa aku ke ruang ruang kesehatan.
"Apa kamu bisa berjalan." tanya Satria yang bersiap menggandeng
"kamu harus menggendongku." ujar Naina manja.
"Baiklah, tunggu sebentar." Satria melipat kemeja lengan panjangnya hingga sebatas siku. Naina sudah tak sabar lelaki pemilik tubuh, wangi, maskulin dan kokoh itu membawa tubuhnya melayang di udara.
Bukannya menggendong, tapi Satria malah keluar entah kemana.
"Pak bisakah membantuku menyelesaikan sebuah pekerjaan, sebentar saja Pak, aku akan kasih upah untuk anda."
"Pekerjaan apa pak?" tanya Pak Bejo.
"Nanti akan tahu." ujar Satria sambil menyodorkan uang sebesar lima puluh ribu.
Satria meminta tolong seorang office boy untuk menggendong Naina dan membawanya hingga ruang kesehatan. Pegawai itu tak mungkin menolak permintaan Satria.
"Naina? apa masih sakit?" tanya Satria lagi begitu kembali.
"Sat, tolong Aku sepertinya maq aku kambuh, perut aku makin melilit.
"Baiklah Naina, bersiaplah, pak Bejo yang akan membawamu. Aku kebetulan juga kurang enak badan."
"Apa!" Naina terkejut. dilihatnya tubuh Pak Bejo yang baru masuk ruangan setelah namanya disebut. "Tunggu Sat, a-ku a-ku butuh air putih saja, aku pasti akan segera baikan."
"Nona, anda tidak perlu meragukan kekuatan saya, meski tak muda lagi, otot saya cukup kuat untuk membawa tubuh mungil Anda."
Naina yang duduk di kursi satria kembali melarang Pak Bejo untuk maju. "Saya hanya butuh waktu sebentar untuk beristirahat. Pergilah, aku sudah lebih baik setelah meminum obat.
Satria hanya memberi isyarat pada Bejo untuk pergi, "Sepertinya Naina tidak perlu di bawa ke Dokter Pak. Anda bisa pergi. Terimakasih sudah bersedia membantu
Naina bernafas lega setelah Bejo pergi. Dalam hati dia menggerutu kesal. Rencananya untuk bisa dekat dengan Satria kembali menuai kegagalan.
__ADS_1
Naina juga makin penasaran dengan wajah istri Satria. Kenapa lelaki normal itu tak tertarik dengan dirinya yang sudah berpenampilan maksimal pagi ini. Secantik apakah dia hingga lelaki tampan seperti Satria menjadi bertekuk lutut.