
Alya kamu sekarang istri Satria kan?
Alya mengangguk pelan. "Iya."
"Kamu nggak keberatan kan kalau aku dan Satria tetep berkawan? kamu tahu sendiri tentunya, kita sudah jauh lebih dekat sebelum kalian menikah."
"Nggak kok, sahabat dan istri pasti memiliki tempat yang berbeda di hati Satria."
Elisa mengangguk berulang kali, cukup pintar jawaban yang diambil oleh Alya.
"Kalian bisa tunggu Satria di dalam, dia masih lihat-lihat motor koleksi kakak Arka, yang akan dipakai untuk lomba besok."
Alya dan Sadewo menurut, mereka bertiga duduk di serambi rumah, sambil melihat bunga anggrek yang bergelantungan di dekat tempatnya duduk.
Alya sekarang tahu Elisa rupanya anak orang berada. Pantas saja, fasilitas yang dipakainya ke kampus selama ini terkesan mewah.
Alya merasa Satria beruntung memiliki banyak teman yang begitu peduli dan respek dengan dia. Satu yang Alya tidak mengerti kenapa harus dirinya yang dipilih, wanita yang selalu gagal move-on.
"Dengar ya Alya, beberapa hari ini aku lihat Satria sedikit berubah, dia selalu murung dan sedih, jika kamu nggak cinta sama dia, mending lepasin, jangan buat dia merasa harus bertanggung jawab dengan kesalahan hubungan kamu dengan kakaknya, Satria nggak seharusnya nanggung semuanya," ujar Elisa sambil menyodorkan minuman kaleng yang dia ambil dari kulkas.
Gadis itu lalu ikut duduk, dia terlihat terus mengawasi gerak gerik Alya, dari nada bicaranya saja Alya tahu kalau Elisa suka sama Satria.
"Semua keputusan Satria sendiri yang ambil, aku hanya ikut apa kata dia saja. Kalau dia emang nggak nyaman sama hubungan ini dan minta pisah? why not? aku tidak pernah memaksa dia untuk menikahi aku waktu itu" Alya bukan gadis bodoh, dia calon bidan, dia berpendidikan, dia tentu punya saja kalimat untuk memenangkan ucapannya dengan Elisa.
"Tapi sayang, Satria tidak mau,"
Dewo menyimak kata kata Elisa dan Alya, sekarang dia paham ke mana arah dua wanita ini bicara, Elisa dan Alya sama-sama suka dengan Satria.
Elisa mengangguk, dia sadar sudah terlalu dalam ikut campur dalam hubungan rumah tangga Alya.
"Diminum Alya, sebentar lagi pasti mereka kembali. " Elisa kembali berbasa-basi setelah Alya tak lagi tertarik membicarakan masalah rumah tangganya.
Benar dugaan Elisa, Satria sudah kembali. Satria nampak berbicara dengan Arka, senyumnya terlihat bahagia, hingga lesung di pipinya terlihat makin cekung.
Satria terkejut melihat Alya dan Elisa sama sama memandangnya.
"Hei, kamu kesini, sama siapa? kamu minta antar Dewo ya?"
Alya memilih berdiri daripada menjawab pertanyaan Satria. Dicium punggung tangan lelaki yang langsung tegang, Satria merasa bersalah semalam sudah tidak pulang.
__ADS_1
"Maafin aku Sat, ponsel kamu si, susah banget aku hubungi."
"Soryy, Alya semalam ...."
"Kehabisan kuota kan? aku sudah isikan tadi."
Satria terlihat gugup, dilihatnya ponsel di saku dan ternyata benar. Alya sudah mengisinya.
Satria mengusap kepala Alya dengan gemas, Elisa memalingkan wajahnya. bagaimanapun Satria adalah First love baginya. lelaki yang pertama membuatnya nyaman.
"Kita bicara di rumah Sat, pagi ini aku sudah masak kesukaanmu, tapi kamu malah tak pulang," terang Alya lagi.
Satria tersenyum kala melihat Alya sama sekali tak marah, rupanya dia bisa menjaga harga diri suami di depan teman-temannya.
Maaf Elisa, Dewo, kayaknya aku harus pulang dulu.
"Sat, tapi mama juga sudah masak kesukaanmu hari ini. Kamu nggak kasian sama mama aku." Netra Elisa berkaca kaca. Elisa benci dia menjadi gadis cengeng. Dia sudah lama sekali tak menangis.
Satria memandang Alya, gadis itu menarik kedua tangannya.
Alya menatap kedua bola mata Satria. "Untuk menjaga hati Elisa, sebaiknya kamu sarapan dulu disini nggak apa-apa, kasihan keluarganya sudah repot-repot masak untuk kamu. Aku tunggu di motor aja, aku sudah sarapan tadi.
Apa-apa'an Alya, meminta Satria sarapan, sedangkan dia tak mau, sebenarnya lihat mama Elisa yang siapin sarapan sendiri buat dirinya, ada rasa tak enak hati, tapi apa iya, dia harus sarapan sendiri dengan Sadewo, sedangkan Alya akan memandanginya dari kejauhan.
Satria segera pamit pada Tante Mariana, meski wanita seusia Bunda Aisyah itu menampakkan raut kecewa, Satria juga harus memikirkan perasaan Alya.
"Sat, Tante kecewa berat sama kamu, masa Tante dah bikin masakan kesukaan kamu malah dicuekin. Dewo, sana sarapan dulu sama Elisa."
Tante Mariana benar-benar kecewa dengan Satria. Satria juga merasa Tante Mariana mengacuhkan keberadaan Alya.
"Siap Tante, Kalau Dewo mah, gak mau nolak rezeki,"
Satria mulai menyalakan motornya, Alya mengingatkan Satria untuk memakai helm. "Lupa nggak dipake helm, mau kena tilang."
"Sorry, sengaja, biar ada yang membantu pakai."
Alya membantu memakaikan helm di kepala Satria. Satria menatap Alya yang kini begitu dekat dengannya.
Bahkan Satria bisa mencium aroma parfum yang dipakai Alya.
__ADS_1
"Yuk, naik."
Alya buru-buru naik di boncengan Satria, wanita itu segera melingkarkan lengannya di pinggang Satria sebelum diminta oleh Sang Suami.
Tentu saja Satria senang melihat kemajuan yang ditunjukkan oleh Alya.
Satria sesekali mendekap tangan Alya yang melingkar erat hingga di perutnya. Satria sudah biasa nyetir dengan satu tangan.
"Satria maaf."
"Tidak apa-apa, aku senang Al."
"Satria, kamu marah ya? semalam pake acara nggak pulang."
"Nggak, aku nggak pulang karena emang ada perlu, penting banget."
"Mau ikut balap motor!" sela Alya.
Satria tahu hobinya tidak dapat dukungan dari istri, Alya tidak pernah suka dengan lelaki yang suka bermain layaknya berandal, belum lagi penampilan urakan dan celana suka disobek sana sini, jacket identik dengan warna gelap. dan tak bisa dipungkiri anak geng motor akan memiliki banyak musuh.
"Bukan semata karena balap motornya, ada tujuan lain," ungkap Satria berusaha meyakinkan Alya.
Alya merasa tangannya kedinginan, reflek pelukannya di pinggang Satria makin kuat. "Ingin jadi pemenang, hadiahnya lumayan, Kamu ada hutang dengan Sadewo, iya kan, karena itu semua kamu sangat ber ambisi ."
'Duh, Sadewo Ember banget, kenapa harus cerita pada Alya.' Gumam Satria dalam hati.
Tapi Alya sepertinya bisa menerka. "Sadewo nggak salah, aku yang minta dia untuk bicara, lagian dia juga nggak cerita semuanya, dia menghargai persahabatan kalian."
Setelah bicara tentang Dewo, Suasana kembali hening. mereka sedang berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
"Semalam di rumah Elisa, tidur dimana."
"Di ranjang lah, masa di lantai."
"Satria aku tidak bercanda, Serius!"
"Aku juga jawabnya serius, Alya."
"Semalam aku tidur di atas ranjang dan kepala beralaskan bantal" jawab Satria selengekan.
__ADS_1
"Sudah nggak nanya." Alya kembali ngambek. Dia lepaskan pegangan tangannya di pinggang Satria.
Satria memainkan gas motornya. mau tidak mau Alya kembali berpegangan kuat. Namun Alya masih belum puas dengan jawaban Satria barusaja, Satria harus menjawab semuanya dengan jelas.