Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Pagi hari, hareudang.


__ADS_3

Tak ada pilihan lain bagi Alya selain mengangguk. 


"Dek, kamu kenapa sekarang sangat berubah, kamu melihat ku seperti seorang penjahat saja." Aditya memasang wajah iba. Seolah dia yang diperlakukan paling tidak adil selama ini.


"Sikap kamu yang seperti ini,  membuat aku takut, Mas. Kamu masih saja mengganggu aku dan Satria. Sudah kukatakan berulang kali, ini jalan yang kau pilih. Kesalahanmu yang membuat kita tidak bisa bersatu."


Aditya berlahan menurunkan tangan nya dari mulut Alya. Tapi satu tangannya masih berada di bahu untuk menahan tubuh mantan kekasihnya agar tak kabur. 


Aku seperti ini karena kamu membenciku Dek, aku tak bisa terus mendapat tatapan kebencian dari kamu, kamu menganggap aku asing. Setidaknya anggap aku sebagai Kakak. Kamu bisa meminta tolong aku melakukan hal sekecil apapun. Bantu aku merubah rasa cinta ini menjadi hubungan yang lain, jangan benci aku, aku tidak kuat. 


Alya terlihat berfikir, mungkinkah sikapnya selama ini sudah keterlaluan, menyakiti Aditya hingga berubah menjadi sosok yang tak di kenal. Mungkinkah selama ini harus bersikap normal seolah hubungan masa lalu itu tak pernah ada, dan berusaha menjadikan kakak yang baik. 


Aditya memalingkan wajahnya dan melepaskan pandangan dari tubuh Alya. Tanda merah di leher dan dada itu membuat dia semakin sakit saja. 


Aditya juga melihat perhiasan baru di tangan Alya. "Mulai hari ini aku sudah merelakan kamu dan Satria, Aku akan ikut bahagia jika melihat kamu bahagia, tak ada alasan aku untuk memisahkan kalian berdua. Maafkan aku yang khilaf dan membuat semua jadi begini." Aditya tersenyum dalam kepahitan. 


"Percaya ini takdir, Mas. Maka hati kamu akan cepat merelakan." Alya membalas senyum Aditya. Alya menepuk bahu Aditya pelan lalu pamit. 


"Alya," lirih Aditya.


"Aku akan ke kamar dulu Mas," pamit Alya.


"Silahkan, Selamat malam. Semoga mimpi indah" 


"Malam juga untukmu, Mas. Semoga kamu dan Kinan secepatnya bisa saling melengkapi."


Alya berlahan menaiki tangga, Aditya terus menatapnya dari bawah. Dalam hati lagi dia membenarkan ucapan Kinan. Kenapa selama ini dia sangat bodoh. Membuat Alya ketakutan dengan sikapnya, Jika dia bisa mendekati Alya dengan cara yang halus seperti ini.


Alya membuka kamar berlahan, lalu dia menaruh teko di atas nakas dan menuang satu gelas untuk diri sendiri. 


Alya lalu duduk di tepi ranjang. Kehadirannya rupanya mengganggu Satria yang sedang lelap. "Sayang kamu dari mana? Tanya Satria dengan suara serak, tubuh polos tertutup selimut itu menggeliat lalu melingkarkan lengan di perut sang istri.


"Aku ambil air, Mas. Tekonya tadi kosong."


"Umph, apa sudah diambil airnya." Satria mengecupi punggung Alya.

__ADS_1


"Iya sudah, Mas." Alya merasa geli.


"Mau lanjut tidur, apa nambah lagi," goda Satria.


Satria membantu Alya terlentang lalu diciumi wajah istrinya dengan gemas. Dipeluknya semakin erat.


Mas, istirahat aja ya, besok kamu harus kerja, aku nggak mau kamu terlalu capek, kita bisa lakukan besok lagi. 


"Kamu lelah ya?" Tanya Satria. 


"Sedikit." Jawab Alya yang merasa tubuhnya seperti dilolosi. Satria memang perkasa dalam urusan ranjang. Selain tubuhnya yang berotot, Satria rajin olahraga. tenaganya tidak diragukan lagi.


"Maaf, sudah membuatmu lelah." Satria akhirnya berusaha memejamkan mata kembali dengan posisi memeluk Alya.


Alya membelai wajah suaminya yang terlihat tulus dan tampan.


"Satria, aku tidak menyangka dengan hati ini. Rupanya tidak butuh waktu lama untuk membuat aku jatuh cinta padamu."


Pagi hari telah tiba. Alya dan Satria bangun dengan tubuh yang lebih segar. 


"Baiklah. Sebentar aku siapkan airnya," kata Alya. 


Satria menahan tubuh Alya. "Biar aku saja, kamu cukup siapkan baju kita." pintanya. 


"Baiklah,"Alya mengambil baju milik Satria dan miliknya sendiri. 


Satria yang hanya memakai boxser, kini berjalan menuju kamar mandi dan mengisi bathup. Sambil menunggu bathup penuh Satria menggosok gigi dan menuntaskan gejolak di perutnya. 


Begitu air sudah penuh, Satria menghampiri Alya dan membantu melepaskan kancing satu persatu. 


Satria tidak mengurungkan niatnya meski Alya menahan gerakan tangannya. Alya masih merasa malu Satria melihat lekuk tubuhnya dalam keadaan sadar seperti saat ini. 


"Sudahlah, izinkan aku membantu," jawab Satria modus. 


Setelah baju Alya terlepas dan tinggal menyisakan dua penutup aset berharganya, Satria lalu mengangkatnya ke kamar mandi dengan mata terus saling menatap, dan menurunkan tubuh ideal itu di bathup berlahan.

__ADS_1


Satria lalu menyusul setelah tubuh Alya tenggelam berbaur dengan busa dan aromatherapi.


Mandi bersama dengan pasangan rupanya mampu membuat senam jantung. Alya kembali melayang dan terbuai ketika satria membasahi tubuhnya dengan sponge yang sudah dilumuri dengan sabun cair. 


Melihat istrinya begitu menikmati sentuhan lembut tangannya, Satria semakin berani, dia menyisipkan tangan di punggung sang istri dan tak lama 'takk' kaitan itu terlepas. Dua bukit kembar terlepas dari kekangan. 


Satria dengan agresif menarik dan menghempaskan penghalang itu, dia mulai meremas dan mengecup bibir yang bergetar karena menahan gejolak yang membuncah. 


***


Aditya pagi ini dandan rapi dan tampan, semua yang melekat ditubuhnya adalah baju yang paling di sukai Alya. dan tentunya ada kenangan tersendiri.


Bi, apa sudah melihat Satria dan Alya berangkat ke kampus." 


"Belum Den, emang kenapa," kata bibi sambil menata sarapan.


"Tidak apa-apa, panggil saja dia turun." Setelah memerintah bibi untuk memanggil dua orang yang tengah mabuk cinta itu. Aditya keluar sebentar lalu segera masuk kembali. 


"Empp ahhh." bibi mendengar sayup-sayup suara orang sedang bertempur hebat dari dalam kamar mandi. 


Bibi sudah mengetuk pelan pintu kamar Satria, ternyata tidak dikunci, Bibi ingin memastikan majikannya ada di dalam dan sedang baik-baik saja, dibukanya pelan pintu itu. Tapi suara bikin bulu merinding itu malah terdengar ditelinganya. 


'Den Satria dan Nona Alya pagi pagi sudah bertempur saja, haduh dia yang melakukan kenapa aku yang panas dingin. Bodoh Minah! Kamu bodoh! Kenapa kamu lancang membuka kamar itu. Sekarang kamu yang malu sendiri.'


Minah bergegas turun dengan jantung dag dig dug tak karuan. Wajahnya menjadi pucat pasi menahan malu. untuk kedatangannya tidak disadari oleh keduanya.


Aditya yang baru saja dari luar rumah, dia kembali duduk di kursi dan melihat bibi yang sedang gugup. 


"Bi, disuruh panggil mereka berdua kok malah masih disini." kata Aditya yang sendirian menghadap banyak makanan. Pagi-pagi sekali bunda sudah pergi dengan Ayah Damar ke rumah nenek yang ada di Surabaya. 


"Sudah Den, tapi anu … em mereka lagi anu Den." Kata Bibi sambil memainkan jemarinya yang sengaja di tautkan. 


"Anu-anu apa sih bi? Ngomong itu yang jelas, kalau bibi cuma anu-anu saya nggak ngerti." Aditya mulai kesal dengan bibi yang pagi ini sudah bikin moodnya buruk.


"Mereka lagi main di kamar mandi Den, Bibi nggak berani ganggu. Bibi merinding dengar suara Non Alya dan Den Satria. 

__ADS_1


"Gila, pagi buta Satria sudah menghajar Alya, apakah mereka tiada lelah melakukannya, bahkan pagi pun mereka harus menyempatkan, Alya tidak kah kau ingat aku sama sekali saat yang mencumbumu itu bukan aku." Aditya kembali menelan pil pahit kenyataan, sambil mengamati jam besar di dinding dekat pintu,  berharap jarum jam bergerak lebih cepat dan mereka akan buru-buru turun.


__ADS_2