Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Semangat Alya.


__ADS_3

"Mas, seperti apakah wanita yang menarik di matamu!"


"Apa yang kau tanyakan Alya? aku tidak bisa menjawabnya." kata Satria.


menurut Satria beberapa hari ini Alya berubah menjadi lebih Agresif, padahal saat ini dia sedang kesal-kesalnya karena perihal baju Aditya di kamar mandi dan juga pertemuan di jalan waktu dia ikut balap motor


"Mas jawab!" Alya menunggu Satria menjawab serius.


"Wanita yang aku inginkan, yang bisa move-on dari mantan, setia ketika suami tidak ada, dan yang terpenting harus bisa jaga diri dan tahu batasan sebagai istri."


Alya mendengar sambil menganggukkan kepala. Sadar kalau kriteria yang Satria inginkan adalah harapan untuk dirinya.


"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan." ujar Alya dengan berani menatap Satria.


"Kamu yakin? yang ketemuan di jalan siapa?"


"Yang memasukkan laki-laki ke kamar dan mengizinkan mandi di kamar mandi pribadi kita, siapa?"


"Katakan jika orang itu selain kamu Alya!" Satria akhirnya memilih mengutarakan semuanya, daripada menyimpan sendiri.


"Kamu meragukan aku, Mas?"


"Tadinya tidak, tapi setelah aku tahu sendiri semuanya, jadinya iya, aku meragukan kamu Alya," Satria segera menghabiskan teh manis lalu hendak pergi karena Sadewo memanggilnya. Sedangkan Alya memilih memandang punggung Satria yang kian menjauh sambil menggigiti ujung sedotan.


tiba-tiba Dewi menepuk punggungnya


"Hi, yang lagi jatuh cinta sama suami, meski jauh masih dilihatin aja."


"Hi, ngagetin aja." Alya beranjak dari kantin, pergi bersama Dewi ke kampus.


"Alya kamu beruntung ya, dapat lelaki idola kampus."


"Entahlah." jawab Alya lesu.


"Entahlah, gimana." protes Dewi.


"Kayaknya dia nggak percaya aku lagi, Wi."


"Maksudnya apa Al?" Dewi rupanya Begitu antusias.


"Dia mengira aku main belakang sama Mas Aditya, padahal sejak menikah aku sudah berusaha melupakan mas Aditya. Meski berat banget, tapi aku sadar, aku dan dia sudah nggak mungkin bersatu, aku sudah move'on, tapi dia." Luna cerita panjang lebar dengan mata berembun.


"Apa kamu pernah membuat dia kecewa?"


"Ya, aku menolak waktu dia minta ini." Aluna menunjuk bibirnya.

__ADS_1


"Kamu menolak waktu dia minta cium? ya elah Alya kenapa nggak kamu kasih aja, lelaki mana yang nggak kecewa coba, minta cium istri sendiri aja di tolak. Pasti dia mikirnya kamu masih sayang banget sama kakaknya."


Alya mengusap air matanya yang jatuh ke pipi, "Terus apa yang harus aku lalukan sekarang?"


"Kamu mau coba? tapi kalau kamu nggak mau mending jangan minta dijelasin."


"Iya aku mau Dewi, cepat kasih tau."


"Entar malam kamu masuk kamar dulu ya, habis itu dandan yang cantik, terus pake baju tidur yang seksi."


"Nggak ah nanti dikiranya gue kecentilan, kenapa harus pakai baju seksi sih."


"Ya buat narik dia dodol, laki-laki itu paling nggak bisa lihat wanita seksi, apalagi Satria sudah sah jadi suami kamu, setiap hari dia pasti pengen nyentuh kamu, cuma takut aja kamu tolak."


"Masa sih, tapi gimana kalau dia malah pikir aku wanita penggoda dan kecentilan, tidak, ah ide kamu gila, cewek apa'an." jujur Alya masih canggung jika harus dandan menor di depan Satria apalagi harus memakai baju seksi. Lelaki yang harusnya mnjadi calon adik iparnya.


"Terus mau kamu gimana? aku sudah nggak ada ide lagi."kata Dewi lalu menghadap ke depan karena Miss prily, dosen cantik sudah tiba.


Selama jam pelajaran Alya jadi kepikiran kata-kata Dewi, dia jadi kurang fokus.


'Apa Dewi benar, aku harus terlihat menarik dulu di depan Satria. Bukankah menggoda suami sendiri tak akan mendapat dosa, dapat pahala malah.'


"Duh, kenapa aku harus tanya Dewi. jadi kepikiran kan sekarang.'


"Alya apa yang kamu pikirkan? sejak tadi Miss perhatikan kamu hanya melamun saja." Miss prily menegur Alya karena menilai Alya tidak memperhatikan pelajaran.


Alya mencoba menjelaskan semuanya dengan baik dan rinci, untung semalam dia sempat membaca sedikit.


***


Mata kuliah telah usai, Mis Prily sudah keluar dari kelas.


Alya sudah menunggu Satria di parkiran. tiba-tiba seseorang menariknya dengan kasar.


"Ikut aku?" wanita itu dengan kasar membawa Alya ke gudang.


"Elisa kamu!"


"Kenapa? kaget! Alya sebaiknya kamu diam disini sampai Satria pulang, aku nggak mau hari ini kamu pulang bareng Satria, Ngertii!"


"Maksud kalian apa? dia suami aku."


"Diam! Satria itu terpaksa nikah sama kamu Alya, kalau bukan kakaknya udah ngehamilin wanita lain, dia nggak bakal nikah sama kamu, dia itu cuma kasihan! Kasihan itu beda dengan cinta."


"Terus mau kamu apa?" Alya mulai ketakutan dengan dua gadis yang terlihat lebih menyeramkan ketika dalam kegelapan itu.

__ADS_1


Gudang yang pengap, disana sini hanya ada bangku rongsok, dan debu, serta sarang laba-laba.


Dua gadis itu mendekat bersama an, seolah mau menerkam, Alya menjerit ketakutan.


"Tolong! tolong!"


"Bungkam aja mulutnya, Nanti ada yang dengar."


"Kamu benar, nanti Satria dengar, habislah kita," ujar Elisa yang dibantu kawannya


Elisa segera membungkam mulut Alya menggunakan solasi besar. Sekarang Alya hanya bisa ber ah uh ria.


"El, dia sekarang nggak bisa berteriak lagi."


"hahaha, kita tinggalin yuk, kita kunci dari luar sampai membusuk. kalau Satria tanya tinggal kita bilang nggak tauuuuu hahahaha!!."


"Uhhh uhhh empp." Alya terus meronta meronta. Menatap penuh Amarah pada Elisa.


Dua wanita itu kini malah menguncinya dari luar.


Alya yang ketakutan hanya bisa menangis, menunggu nasib baik hingga seseorang menemukan dirinya.


Satria yang baru keluar dari kelas, dia mulai mencari Alya. Lelaki dengan tas besar di punggung itu mengedarkan pandangan ke tempat biasa Alya menunggu.


Dewi juga tak nampak, membuat Satria bingung harus tanya dengan Siapa. satu-satunya wanita paling dekat dengan Alya hanyalah Dewi.


Elisa yang sengaja menunggu Satria di parkiran, segera menyambut Satria dengan hangat.


Saingan Elisa tinggalah Alya, sedangkan Rosa hari ini dia berpamitan pada Satria untuk pindah universitas, karena orang tuanya akan pindah kerja ke luar negeri, Rosa yang tahu Satria sudah tidak sendiri dan tak bisa diharapkan, Rosa berlahan mulai merelakan .


"Satria!" panggil Elisa.


"Hai Lisa?"


"Cari siapa, Sat?"


"Cari Alya, kamu lihat dia nggak?"


"Nggak lihat, aku juga baru sampe sini," jawab Elisa. "Atau jangan jangan sudah di jemput sama Adrian, kamu lupa ya tempo hari waktu Alya naik motor sendiri kan juga di jemput Adrian.


"Kamu nggak bohong sama aku kan Lisa?"


"Satria, kamu kok kayak baru kenal aku sih, apa karena Alya kamu berubah gini."


"Maaf, aku nggak bermaksud bicara begitu, cuma aku lagi buru-buru saja."

__ADS_1


Satria melihat Arloji besarnya di pergelangan tangan. jarum jam sudah menunjukkan angka setengah dua, pertanda setengah jam lagi dia harus sudah sampai kantor.


Ini hari pertama Satria kerja tengah hari di kantor Pak Arya, Satria tidak mauterlambat dan menghilangkan kepercayaan lelaki baik itu. karena mungkin dari semua kantor yang ada di kota ini, hanya kantor milik Pak Arya lah yang menerima Satria dengan keterbatasan waktu.


__ADS_2