Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Ingin belajar mencintai


__ADS_3

Selang beberapa menit Satria sudah kembali.


Sedangkan Alya kini duduk sambil bersandar dengan sisi ranjang.


Ada Dokter dan dua perawat sedang memeriksa keadaan Alya.


Satria membuka pintu dengan pelan, dia tersenyum ramah ketika Dokter menatapnya dengan senyum pula.


"Gimana kondisi istri saya Dok." tanya Satria.


"Sudah boleh pulang, nanti dibantu obat jalan, ini resep untuk diminum di rumah, bisa langsung di beli di apoteker."


Satria menerima lembaran kertas berisi resep dokter. Pulang hari ini, artinya waktunya menyelesaikan biaya administrasi rumah sakit selama tiga hari.


Untung sudah pegang uang, jadi Satria tidak perlu bingung lagi.


Satria menuju apoteker, dia segera melunasi semuanya, setelah semua beres Satria segera segera membawa Alya pulang.


Alya sudah kembali pulang ke rumah Satria. Alya tidak jadi ke rumah Umi, karena takut orang tuanya akan khawatir dengan kondisinya yang terus menerus mendapat musibah.


Satria sejak tadi menunggui Alya di kamar, Alya merasa tenang ada Satria ada didekatnya.


Mas, kamu sejak tadi aku lihat seperti pengen ngomong sesuatu."


'Mas' panggilan Alya yang baru keluar dari bibirnya membuat Satria terkejut.


Satria tentu sangat bahagia. Tapi Satria yang kadang-kadang ingat ucapan Elisa, dia urung menunjukkan perasaan sayangnya yang mulai tumbuh.


"Tidak ada, aku hanya ingatkan saja ke kamu, jangan terlalu membenci Elisa, Dia hanya teman, bagiku teman dan istri memiliki tempat yang berbeda.


"Siapa yang membenci Elisa." Alya ingin protes dengan ucapan Satria.


"Kamu sudah menginjak dan membuang kalung Elisa, karena kamu tahu itu pemberian dariku. kamu cemburu ya?" Satria membelai rambut Alya. supaya dia bisa menerima ucapannya dengan baik, tanpa salah paham.


"Jadi dia sudah mengadu." Tentu saja Alya kesal.


Satria tersenyum, "Aku dan dia sudah berteman sejak kecil, bukan hanya dengan Elisa, dengan kakaknya juga. Aku ingin kamu juga baik sama dia."


"Iya." Alya mengangguk, menjelaskan semua pada Satria sekarang percuma, karena wanita itu memang tak punya cela dimata Satria, tapi Alya yakin suatu hari Satria akan melihat sendiri dimana letak kekurangannya.

__ADS_1


Satria tersenyum, pembahasan soal Elisa betskhir. "Kemaren di rumah sakit, tidurnya nggak nyaman, sekarang kamu tidur ya."


Satria menyalakan AC, dia membantu Alya tidur dan membenarkan selimutnya, lalu dia sendiri tidur di sofa seperti biasa.


Siang ini, rumah sedang sepi karena semua anggota keluarga sedang keluar, Bunda sedang mengantar Kinan membeli peralatan bayi.


Aditya mondar mandir di depan kamar Satria, karena tak berani masuk.


Mendengar Alya kecelakaan tentu membuat dirinya ikut tak tenang.


Akhirnya Aditya memilih menghubungi Alya. [Dek, aku ingin lihat lukamu.]


Alya segera membalas dengan cepat [Tidak usah, aku baik saja, jangan khawatir]


Aditya mengirim pesan lagi [Dek aku khawatir, aku ingin lihat kondisimu, sebentar saja]


Alya tidak membalas, karena memang tidak ada yang perlu di khawatirkan.


[Dek aku akan masuk, aku ingin tahu kondisi kamu, aku tidak pernah tenang sebelum melihatnya]


[Jangan, lakukan itu, mengertilah, ada Satria di kamar ini, Mas tolong berhenti ganggu aku]


Alya membaca pesan Aditya terakhir kalinya. Alya tidak mau Aditya mengganggu tidur Satria, jadi dia memilih untuk keluar dan menemui Aditya di balkon.


Alya berjalan dengan tertatih, luka ditubuhnya mulai mengering dan ada beberapa luka masih tertutup perban.


"Kamu terluka seperti ini kamu bilang baik baik aja?" Adityaenatap penuh kekhawatiran.


"Aku memang baik saja luka luar ini tak pernah berarti apa-apa dibandingkan dengan luka dalam yang kau torehkan Mas." Alya tersenyum masam.


"Ya, maaf, aku benar-benar menyesal." Aditya menatap Alya dengan tatapan yang sangat dalam.


Ada penyesalan dan juga kasihan melihat wanita yang dulu sangat disayangi harus terluka.


"Mas, aku ingin bicara serius."


"Ngomong aja, aku akan mendengarnya." Aditya membantu Alya duduk. lalu dia duduk di depan wanita yang amat dicintainya itu dengan menatap nyaris tanpa berkedip.


"Mas, kamu pasti tahu bagaimana perasaanku selama ini padamu, hingga kita memutuskan menikah meski aku belum lulus kuliah."

__ADS_1


"Kamu dan aku sudah saling mencintai, dan kita waktu itu seakan tak bisa hidup tanpa satu sama lain." Alya beberapa kali memejamkan mata menahan bulir kristal agar tak tumpah.


"Aku tahu itu, makanya aku ingin kita bisa bersatu lagi, tak ada laki laki yang mencintaimu seperti aku, tak ada wanita yang aku cintai melebihi kamu, bersabarlah aku akan menjadikan mimpi kita itu nyata." Satria meraih tangan Alya dan menggenggamnya, tapi Alya segera menarik dan menyembunyikan di pangkuan.


"Dengar dulu Mas, aku belim selesai, tapi rasa itu sekarang sudah berubah, aku sepertinya mulai mencintai Satria, aku memiliki rasa cemburu setiap kali dia bersama wanita lain, dan aku mulai merasa kesepian jika dia tak disampingku. Apa itu namanya kalau bukan cinta, Cinta yang sudah kita rajut selama bertahun tahun ini sepertinya berlahan mulai memudar dan kehadiran Satria yang lebih aku inginkan."


"Maksut kamu apa, dek?" Aditya mulai tak tenang, firasatnya mulai tak enak, apakah ini artinya Alya ingin selamanya menjadi milik Satria, menyerahkan jiwa dan raganya, pada lelaki belum berpenghasilan itu."


"Aku yakin karena kecelakaan kemaren membuat otakmu terluka Dek, sampai keputusanmu saja terdengar sangat lucu. perasaanmu dan Satria itu hanya kasihan, kamu itu kasihan pada dia yang sudah menjagamu beberapa hari ini, itu namanya bukan cinta, tapi simpati." Aditya ngotot menjelaskan panjang lebar kalau dia kekeuh tidak mau menjadi mantan yang terlupakan. Aditya masih ingin menikahi Alya setelah bayi kinan lahir.


"Aku sudah siap dengan konsekuensinya Mas, susah senang akan aku jalani bersama Satria, aku tidak rela jika sampai wanita lain yang akan membahagiakannya nanti, aku ingin mulai lembaran hidup baru dengannya, dan melupakan semua masalalu kita."


"Tapi Dek!"


"Sudah menjadi keputusanku, Mas."


Aditya nampak lemas, lututnya mendadak ngilu, selama ini dia bertahan untuk tidak menyentuh Kinan, berharap Alya juga demikian, tapi kata-kata Alya baru saja telah membuatnya rapuh."


"Bertahanlah Dek, sebentar lagi, kamu akan menyesal mengakhiri semuanya sepihak."


"Maaf Mas, aku tidak mau keliru lebih jauh lagi, yang seharusnya aku pertahankan adalah hubungan yang halal, bukan hubungan yang belum pasti." Alya bangkit dari kursi.


"Dek, kamu sedang sakit, makanya keputusan yang kau ambil juga ngaco."


"Aku waras, Mas. permisi."


Alya segera kembali ke kamar, dia lega telah mengutarakan semuanya pada Aditya, setidaknya dia sudah berani jujur dan tidak lagi memberi harapan pada laki-laki yang pundaknya pernah menjadi tempat bersandar ternyaman itu.


Alya masuk ke kamar, dilihatnya tubuh Satria sudah tidak ada di kamar.


"Mas! kamu dimana" Alya mulai membiasakan diri memanggil Satria dengan sebutan nama kesayangan.


Tubuh polos Satria menyembul dari kamar mandi, Satria hanya memakai handuk kecil yang menutupi aset berharganya.


"aaaaaa." Alya menutup matanya dan segera membalikkan tubuh memunggungi Satria.


"Kalau keluar itu bilang dulu." ujar Alya yang kini wajahnya bersemu merah karena malu.


"Tadi tidak ada siapapun, lagian aku juga memakai handuk."Satria melihat dirinya sendiri, kenapa Alya begitu histeris melihat tubuhnya.

__ADS_1


Ya, pahatan indah dengan bentuk perut kotak-kotak serta tonjolan yang bersembunyi di balik handuk membuat Alya terkejut.


__ADS_2