
Mendengar ucapan Satria, Naina bukannya malah pergi, dia malah mencium bibir Satria dengan paksa.
"Naina, aku mohon mengertilah, aku sudah beristri." Satria mendorong tubuh Naina hingga terjatuh ke lantai.
melihat tubuh Naina terjerembab di lantai tentu saja Satria tidak akan diam saja.
"Naina maafkan aku, aku tidak bermaksud jahat sama kamu, aku hanya ingin mengatakan kalau aku tidak pantas melakukan padamu, sebagai teman aku harus menjaga. bukan sebaliknya."
Satria mengulurkan tangannya, dan Naina menerima uluran tangan lelaki yang dia cintai hingga buta segalanya itu.
"Aku tahu, aku tidak pantas untukmu, aku terlalu buruk untuk mendapatkan cintamu Sat."
Baiklah, untuk saat ini Naina gagal merayu Satria, tapi untuk hari berikutnya dia akan terus berusaha melakukannya.
"Maafkan aku, aku salah." Naina memasang wajah bersalah pada Satria, lalu meninggalkan kamar dengan mata berkaca-kaca.
Setelah Naina pergi Satria segera membersihkan tubuhnya dan siap untuk meting. Satria memakai baju santai tapi tetep saja rapi.
Sebelum tiba di meeting room, Satria terlebih dulu membuka ponselnya menghubungi Alya.
Alya segera menerima panggilan suaminya. "Sayang, lagi ngapain? aku sudah merindukanku."
"Sama Mas, aku juga sudah kangen." kata Alya yang sedang memakai kimono tidur."
"Sayang aku tidak di rumah tapi kamu cantik sekali."
" Cantik darimana, Mas? aku bahkan tidak memakai make up apapun."
" Benarkah?" Satria percaya, istrinya memang sangat cantik baginya meski tanpa makeup.
"Sayang aku sudah pesankan tiket lusa, kamu jangan sampai terlambat ya."
"Iya Mas." Alya mengangguk setuju.
Satria terus menatapnya tanpa berkedip.
"Mas, kamu sama siapa?" Tanya Alya terdengar aneh di telinga Satria.
"Tentu aku sendiri, kamu pikir aku Sama siapa?"
"Apakah wanita itu datang ke kamarmu?"
"Dia sudah pergi."
__ADS_1
"Sudah pergi berarti tadi benar-benar datang?"
"Alya, dia partner kerja, kalau sering datang itu pasti, makanya kamu cepat kesini, biar nggak curiga terus."
"Kamu laki-laki Mas, laki laki itu kucing, kalau dikasih ikan pasti dimakan."
"Tapi kebetulan aku kucing yang unik? aku tidak suka ikan, tapi aku sukanya sama sama kamu, apalagi milikmu dua yang di depan itu."
"Mas!! mesum."
"Tapi sepertinya kamu suka kan punya suami mesum? buktinya nggak mau ditinggal di rumah."
Alya dan Satria tertawa bersama, semalam saja tidur sendiri, Rindu sudah seperti menyayat hati. Alya dan Satria sama sama terbayang dengan apa yang sedang dilakukan pasangannya. Masih ada satu malam lagi yang harus dia lewati sendiri-sendiri.
Alya dan Satria mengakhiri panggilannya ketika waktu sudah mepet dengan jam meting.
Sebelum menuju meeting room. Satria merapikan kemeja di depan cermin menyemprotkan parfum seperlunya. Satria ingin tampil rapi di depan klien barunya.
Satria tiba di metting room. dia mengamati foto Pak Wira dan mencocokkan dengan yang ada di ponsel, ternyata lelaki itu masih sendiri di nomor meja lima, Satria mengira Naina sudah datang lebih dulu, tetapi gadis itu nyatanya tidak ada.
"Kemana Naina?" lirih Satria. Meeting tidak akan dimulai tanpa Naina, gadis itu yang membawa flashdisk dan semua keperluan meeting, peran Naina secara tidak langsung ketika di Korea dia adalah orang yang akan mendampingi Satria setiap pertemuan.
Satria mencari Naina ke kamar milik wanita itu tapi tak ada. ternyata Naina ada di balkon sambil menatap bulan redup.
Naina mengusap airmata dan membalikkan tubuh.
"Naina? kenapa kamu menangis?" Satria mendekat, Jarak mereka kira kira sekarang masih satu centi.
Naina diam, dia seolah enggan berbagi cerita dengan Satria.
"Kamu marah karena hal tadi?"
"Tidak, aku hanya malu, aku malu karena cintaku telah bertepuk sebelah tangan, Andai waktu bisa diputar, aku tak akan pernah pulang, hingga tak merasakan sesakit ini."
"Maaf Nay, berulang kali aku katakan aku sudah berkeluarga, hati ini tidak bisa menerima cinta lain lagi. Aku sangat mencintai istriku, dia bisa menerima aku apa adanya."
"Sudah aku duga kamu akan menjawab seperti itu, kamu memang lelaki setia, justru karena kesetiaan itu membuat aku semakin cinta padamu Sat, sudahlah jangan hiraukan aku, biarkan aku sendiri yang membawa semua mimpi semu ini.
"Maaf Naina, Maafkan aku."
Setelah keadaan menjadi tenang, dan mereka berdua terlalu lama dalam kebisuan. Satria segera menarik tangan Naina yang hendak membawanya ke ruang meeting room.
Sesaat Naina merasakan tubuhnya menghangat karena perlakuan Satria.
__ADS_1
"Naina, kita sudah ditunggu, tidak baik membuat Klien baru menunggu."
Naina hanya diam, tidak apa-apa jika lelaki yang dipanggil om itu sedikit menunggu, lagipula dia tak akan marah pada keponakannya.
"Pak Wira, maafkan aku membuat anda menunggu, aku tidak ada maksud tak menghargai anda, tapi ada sedikit yang harus kami persiapkan."
"Tidak apa-apa. Santai saja, yang terpenting kamu buat Naina nyaman saja."
"Kau apakan dia? kenapa dia menangis?" Pak Wira sepertinya menyadari kalau mata Naina membengkak
'Membuat Naina nyaman?' batin Satria.
Satria jadi tidak mengerti, kenapa akan membahas pekerjaan malah menjadi tidak formal begini.
"Sudah Sat jangan bingung. Malam ini tidak ada meting, aku hanya ingin kamu dan Naina lebih dekat saja. Bukankah keponakanku ini sangat mencintaimu?"
"Tapi Pak, aku ...." Satria berhenti untuk menjelaskan semuanya ketika tangannya di genggam kuat oleh Naina.
"Sudah Sat, tidak perlu membuat aku malu didepan semua orang karena perasaan kamu yang tidak akan pernah mungkin suka sama aku itu."lirih Naina, gadis itu menatap Satria dengan tatapan tajam dan Satria akhirnya diam.
"Duh anak muda, pakai kode-kode segala, Baiklah om pergi, nikmati malam kalian, tapi meting besok pagi jangan sampai terlambat."
"Baik Om." Naina mengangguk. Satria ikut mengangguk meski terkesan kaku.
"Mas kamu pasti belum makan?"
"Belum, tadi belum sempat, kukira malam ini jadi meting jadi aku sibuk mempersiapkan semuanya."
"Berarti bahan meting untuk besok sudah siap, jadi malam ini kita bisa makan malam dengan tenang."
"Iya, tapi aku harus kembali lebih cepat, ponselku ketinggalan di kamar."
Naina kelihatannya setuju, Satria segera memanggil waiters dengan isyarat.
"Mau pesan apa Mas?" tanya Waiters dengan bahasa asing.
"Em, aku mau bistik sama minumnya teh hangat saja," jawab Satria dengan bahasa asing pula.
Naina memilih menu yang sama dengan Satria. Saat makan Naina terus saja memperhatikan Satria yang sedang asyik menikmati santapan malamnya.
Timbul ide Naina untuk merekam moment dinner malam ini. Naina yang memakai gaun seksi dan nyaris senada dengan Satria tentu semua orang mengira mereka sepasang kekasih yang sedang menikmati makan malam indah.
Naina tidak sungkan mengabadikan momen malam ini pada akun pribadinya dengan caption. 'Love is beautiful.'
__ADS_1