Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Suami tampan idaman wanita.


__ADS_3

"Ish." Alya mendesis lalu memalingkan wajah.


Satria tersenyum sambil membelai rambut istrinya yang tergerai diatas bantal.


"Aku harus bekerja keras supaya istriku cepat hamil," ujar Satria sambil membuka satu per satu kancing baju Alya.


Satria juga melucuti bajunya sendiri, yang berupa kaos lengan pendek dan celana selutut.


"Mas, baca do'a dulu." Alya menahan bibir Satria yang sudah tak sabar ingin melahap apapun yang sudah terpampang di bawahnya.


"Iya, hampir saja lupa. habis sudah nggak bisa nahan." Alya dan Satria segera berdoa debelum melakukan penyatuan.


Usai berdo'a Satria segera mulai pemanasan yang, berharap Alya akan menikmati setiap sentuhan kembutnya.


Alya pelan-pelan sudah banyak belajar, mulai bisa mengimbangi permainan Satria dan membuat lelaki itu terus saja tersenyum bahagia.


"Makin pinter," puji Satria.


"Kamu yang mengajarinya, aku jadi curiga, jangan-jangan sebelumnya kamu sudah sering melakukannya dengan wanita lain.


"Sumpah nggak pernah Alya. kamu satu-satunya."


"Tapi kamu seperti pemain handal. tubuhku seperti dilolosi, Mas." Kata-kata Alya terdengar seperti pujian untuk Satria


"Aku melakukannya demi untuk membuatmu bahagia. Apa kamu bahagia?" Satria terus mengayun tubuhnya.


"Tentu aku bahagia, Ahh." Alya mendesah penuh kenikmatan. bibirnya bergetar dan mata terpejam ketika satria menghentakkan miliknya hingga menembus dinding terdalam.


Melihat wanitanya melenguh Satria makin keras menghentakkan basookanya.


Keduanya kini terbuai oleh kenikmatan, tubuhnya melayang bagaikan diatas angkasa.


"Alya, jangan tunda lagi, segera lahirkan anak untukku." Satria membelai rambut Alya, memperdalam ciumannya.


Satria merasa sudah tak tahan lagi, basookanya sudah tak mampu lagi menahan bibit-bibit premiumnya lebih lama.


Tak lama, akhirnya Satria menyemburkan ribuan bibit premium ke dalam rahim sang istri.


Diwaktu hampir bersamaan, Alya juga merasakan sampai di puncak kenikmatan, miliknya berkedut mencengkeram lebih kuat lagi, membuat Satria tak kuasa menahan nikmat yang kini tengah melanda. Tubuh Satria Ambruk menindih tubuh Alya, Alya menarik nafas dalam-dalam, merasakan tubuh berat suaminya.


Usai menjalankan kewajiban, Alya dan Satria lekas mandi lalu tertidur pulas hingga esok hari tiba.


***


"Mas aku sudah siapkan sarapan." ujar Alya dengan wajah berseri-seri sambil menata makanan di atas meja makan.


"Hem, masak apa kelihatannya enak," puji Satria.


Satria yang usai mandi dan masih bertelanjang dada, mengenakan celana pendek. menghampiri meja makan dimana Alya berada.


Rupanya olahraga malam membuat Satria sudah merasakan lapar luar biasa ketika hari masih pagi buta.

__ADS_1


"Aku masak sayur sup, telor dadar, perkedel, sama sambal kecap, kamu suka kan?"


"Suka, asal makannya bersama istriku yang cantik ini."


"Bener aku cantik, Mas." Alya tersipu.


"Iya, dong, kamu wanita paling cantik setelah bunda."


"Ada ada saja kamu, Mas."


"Dibilangin nggak percaya."


"Cantik mana sama Rosa?" tanya Alya lagi.


"Uhuk! Satria tersedak mendengar nama itu lagi di sebut Alya.


Satria mengelus rambut basah Alya. "Mau tahu?"


Alya mengangguk." Iya, Cantik siapa aku dan Rosa, gadis masalalu kamu itu."


"Wanita yang menjadi istriku dia paling cantik setelah bunda. itu harga mati, tak bisa ditawar." Satria mengecup lembut kening Alya.


Merasakan suaminya begitu perhatian dan romantis, Alya mulai benar-benar mengusir Aditya dari hatinya, dan memenangkan hati Satria dari setiap wanita. Apalagi kejadian terakhir di rumah besar membuat sisa kepercayaan Alya pada Aditya makin sirna.


***


Pagi ini Satria tidak lagi datang ke kampus, dia hanya mengantar Alya, lalu datang ke perusahaan.


Satria tinggal menunggu wisuda saja, setelah itu dia hanya akan fokus bekerja. Sedangkan Alya masih butuh dua semester lagi untuk menyelesaikan pendidikan S1nya.


Elisa memukul kemudi berkali kali. Sungguh dia cemburu melihat mereka semakin dekat saja setiap hari.


Mereka semua menghentikan kendaraan di parkiran, Satria melihat Elisa nampak sehat-sehat saja.


Satria merasa ucapan Alya ada benarnya, tetapi tetap saja Satria tidak bisa membenci Elisa, Kakak Elisa ingin Satria menjaga adiknya. pesan itu sudah seperti amanah. Apalagi akhir ini Arka sudah merekomendasikan dirinya bekerja di perusahaan Pak Arya.


"Mas, kamu hati-hati ya kalau kerja, awas kalau disana nanti genit-genit sama cewek," pesan Alya ketika mereka sudah sama-sama turun dan berdiri di sebelah motor besarnya.


Alya mencium tangan Satria dan Satria membalas merengkuh tubuh istrinya."Genit sama siapa, paling sering ya ketemu Bang Arka dan Pak Arya. Kalau genit sama mereka, sama aja main pedang-pedangan dong."


"Siapa tahu nanti ada karyawan dari divisi lain sengaja godain kamu."


"Percayalah, aku akan selalu setia. kalau di rumah sudah ada bidadari yang menunggu." Satria terus saja merayu Alya yang sejak semalam mulai krisis kepercayaan.


Satria tidak menyalakan Alya, diselingkuhi Aditya adalah pengalaman terburuk, tentu saja dia tak mau kejadian buruk terulang lagi.


"Ehhhm Alya, kamu nggak masuk? kalau masuk bareng yuk." Elisa tiba-tiba saja menyela obrolan mereka.


"Mas, aku masuk dulu ya."


"Iya, belajar yang rajin ya." Satria mengelus puncak kepala Alya.

__ADS_1


Elisa melambaikan tangan pada Satria, Satria memilih senyum saja sambil melipat tangan di dada dan bersandar pada motor besarnya.


Elisa sedikit kecewa tak mendapat balasan lambaian tangan dari Satria, Elisa tahu pasti karena Alya, Satria dingin dan acuh dengannya, hanya demi menjaga hati Alya.


Elisa mengeram,menarik nafasnya dalam-dalam, mengingatkan hati agar bersabar.


Setelah Satria meninggalkan parkiran kampus. Alya dan Elisa berjalan beriringan menuju kelas.


Sebelum Alya masuk kelas. Elysa memanggilnya. "Alya."


"Iya, ada perlu apa?" Alya berusaha tenang dan bersikap biasa.


"Aku minta maaf, kemaren aku banyak salah pada kamu. Tadinya aku mengira Satria akan meninggalkan persahabatan kita setelah menikah denganmu, Aku belum siap kehilangan sahabat terbaikku, tapi nyatanya Satria tetap saja peduli denganku, aku minta maaf Alya."


Jujur Alya tidak percaya dengan ucapan Elisa yang tiba-tiba berubah sangat baik dengannya, jika kemaren saja dia begitu bernafsu untuk menyakitinya, tetapi sekarang kenapa seolah ingin menunjukkan kalau dia bisa jadi teman yang bisa diandalkan.


"Aku sudah dengar ucapan minta maaf kamu, aku ke kelas dulu ya." Alya melepaskan jemarinya dari genggaman tangan Elisa.


Elisa melihat kepergian Alya yang sudah di jemput oleh Dewi di depan kelas. terlebih pandangan Dewi yang terlihat tidak bersahabat membuat Alya makin kesal. Dewi tak suka Alya terlalu dekat dengan Elisa.


"Alya, ngapain dekat-dekat dengan dia?" Dewi menatap sengit ke arah Elisa.


"Sekali jalan bareng belum tentu dekat Dew. Masa kita harus menjauhi orang yang sudah ada itikad berubah."


"Dia berubah? nggak mungkin percaya aja sama aku, Elisa nggak pernah suka kamu dan Satria bersatu."


"Sudahlah, gak baik ngomongin orang, mending kita bahas soal kemping yang diadakan Minggu depan.


Alya dan Dewi langsung masuk ke kelas, sedangkan Elisa menuju kantin, Elisa sangat galau setelah tadi pagi melihat Satria semakin hari makin lengket dengan Alya. 'Apakah Satria bener-bener akan lupain gue setelah makin dekat dengan Alya. Alya nggak pernah pantas dapatkan Satria. Satria itu seharusnya milik gie." Elisa mengepalkan tangannya lalu memukul ke dinding, hingga punggung tangannya berdarah-darah.


***


Satria sedang duduk diatas kursi goyang. mengamati hasil karya nya yang sudah selesai.


Besok pembangunan akan segera dimulai, dan Satria sesekali harus menemani para mandor bangunan untuk melihat praktek kerja para kuli.


Tok! tok!


"Masuk."


Seorang gadis cantik muncul dari balik pintu. "Benar ya ini ruangan Pak Satria?" tanyanya lemah lembut.


"Benar. Anda siapa Nona? apakah kita ada janji." Satria memasang wajah bingung. "Maaf jika aku lupa"


"Kita belum pernah ada janji Pak. Cukup Pak Satria kenalkan saya lebih dulu. Saya Naina, saya anak sulung Papa."


"Papa?"


Satria tidak mengerti siapa Papa yang dimaksud oleh wanita cantik di depannya.


"Oh iya, saya membuat anda bingung. Saya karyawati baru yang akan menemani anda selama bekerja di lapangan. Dan kebetulan saya putri Pak Arya. Pemilik perusahaan ini, kebetulan saya baru lulus dari Universitas California."

__ADS_1


Satria menganggukkan kepala, berusaha mengerti.


Gadis itu duduk dengan gelisah, meremas jemarinya yang saling bertautan di pangkuan. Netranya sesekali melirik ke arah Satria.


__ADS_2