Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Kenapa tak pulang?


__ADS_3

Lelaki itu membalikkan wajah dan tersenyum. "Selamat pagi Dek."


"Mas Aditya."


Rupanya pagi berkabut membuat pemandangan Alya buram hingga tak bisa membedakan Satria dan Aditya. Tapi bukan hanya Alya, tetangga juga sering salah memanggil mereka, karena mereka memang memiliki tinggi badan dan postur tubuh yang nyaris sama. Bahkan model potongan rambut terbaru Aditya sekarang juga nyaris sama dengan Satria. 


Alya memundurkan langkahnya. "Mas Adit kenapa selalu menggangguku?! tolong Mas, move'on. Kita sama-sama berusaha. Mas Adit jangan terus menggangguku apa yang kita lakukan, justru ini salah," Alya tak percaya dengan sikap Aditya yang berani masuk ke kamarnya, bahkan lelaki itu sempat mandi di kamar Satria. 


"Kenapa Dek? Aku hanya kasian melihat kamu menunggu Satria yang tak pulang, Sayang sama tubuhmu digigit nyamuk."


"Mas cukup! hentikan bualanmu, kamu tidak lagi pantas menyentuhku. Aku kecewa sama kamu Mas, aku benciii!!"


Alya berlari ke kamar dan mengunci pintu. Betapa bodohnya dia mengira Satria yang datang lalu mengecup pipinya. Sedangkan Satria sampai saat ini belum juga terlihat batang hidungnya.


Alya memeluk lutut sambil menangis, di gigit ujung ujung jarinya sebagai tanda kesal pada diri sendiri, "Aku salah Satria, maafkan aku hiks,hiks. Tangis Alya semakin menyayat ketika ingat bibir basah itu menempel di pipinya."


Kamu dimana Satria, kenapa kamu nggak pulang sampai pagi. Kenapa kamu marah, kamu seharusnya bisa sedikit memberiku waktu.


Alya akhirnya berinisiatif mencari nomor telepon Sadewo, Awalnya Alya bertanya pada Dewi dan Alya bersyukur anak itu menyimpan nomor Sadewo. 


"Dew apakah kamu sibuk?" 


"Tidak Alya? Aku lagi sarapan sama Mama dan Papa." 


"Oh, Dewi, apa kamu punya nomor ponsel Sadewo?" 


"Sadewo, iya, ada." jawab Dewi dengan sejuta penasaran. Sadewo lelaki incarannya, Sedangkan Sadewo terlihat suka dengan Alya. Alya biasanya tidak pernah respect dengan lelaki itu, tapi hari ini ada apa dengan Alya yang kepo dengan nomor ponsel Sadewo?


"Kamu dan Dewo …" 


"Tidak Alya, jangan salah sangka, aku ada keperluan lain."


"Ouh, bentar Alya, aku kirim dulu."


Tak lama Nama Sadewo beserta nomornya sudah masuk ke ponsel Alya. 


Alya segera mengakhiri panggilannya dengan Dewi dan berpindah menghubungi Sadewo.


"Sadewo, ini aku Alya."


"Alya, tumben pagi banget telepon aku. Dan dapat nomor aku dari siapa?"


"Aku minta pada Dewi, Dewo aku ganggu nggak?"

__ADS_1


"Nggak lah Alya, kamu pake tanya, aku lagi nggak sibuk kok." jawab Sadewo terdengar semangat. 


"Oh, ya sudah, jadi aku bisa tanya-tanya ke kamu, Dewo kamu tahu nggak kemana Satria? Semalam dia nggak pulang."


"Satria? Why are you Suddenly paying attention to him." kata Sadewo terkejut.


"Aku dan Satria adalah suami istri, kita sudah menikah."


"Serius Alya?" Luluh lantak seketika bunga bunga love di hati Sadewo yang sudah lama di rangkai untuk Alya.


"Kalau nggak percaya tanya pada Satria."


Sadewo melamun. 'Bisa berabe urusannya, kalau Alya tahu Satria pergi dengan Elisa, gue jadi serba salah, jujur apa nggak ya.'


"Dewo, apakah kamu masih ditempat?"


"Iya, aku masih disini Alya. Satria mungkin nggak pulang untuk satu atau dua hari, dia sibuk latihan, mau ikut lomba balap motor, jika kamu sayang sama dia, sebagai istri do'akan dia bisa lolos seleksi dan bisa jadi juara."


"Sadewo, tapi olahraga itu bahaya Dewo, aku nggak bisa lihat Satria ikut begituan, banyak pekerjaan lain yang tidak membahayakan nyawa.


"Satria sudah dipecat Alya dari restoran itu. Dia butuh banyak uang."


"Terus, kamu tahu darimana dia butuh banyka uang."


"Beberapa kali dia pinjem, apa dia nggak bilang?"


"Nggak enak jadinya, kalau Satria nggak cerita, aku juga nggak berani cerita, Kamu tanya pada Satria sendiri aja, Maafin aku Al, nggak bisa buka aib sobat sendiri, takut jadi masalah." 


"Dewo, kita ketemu di depan cafe depan kampus, aku ada perlu." kata Alya Sebelum menutup panggilan pada Dewo.


'Ya Tuhan Satria, jadi kamu selama ini pinjem uang demi bisa penuhin tanggung jawab kamu sebagai suami, Satria kami kok nggak jujur aja, jadinya kami punya banyak hutang gara gara aku.' Alya 


tercenung sambil memikirkan dirinya yang bodoh, jika Satria sudah bisa menerima dirinya dan segala kekurangan, kenapa dia harus meragukan cintanya. 


Satu jam kemudian Alya sudah sampai di cafe tempat sadewo menunggu. 


"Dewo apa kamu mau anterin aku ke tempat Satria, aku ingin bertemu dengan dia," pinta Alya yang berdiri di depan Sadewo yang tengah duduk menghadap kopinya.


"Kalau antar bisa,tapi aku sendiri tidak tahu dimana pastinya, apa kalian marahan, sampai Satria nggak pulang?"


"Nggak kok, kami cuma butuh waktu untuk bisa saling mengerti satu sama lain saja." 


Sadewo menghabiskan kopinya lalu titip motor pada pemilik kedai.

__ADS_1


Bang Sabeni kalau mau tutup, entar motor ini masukin sekalian ya, soalnya aku nggak tentu pulangnya. 


"Iya, Mas Dewo, mau kencan ya." Bang Sabeni menatap Alya sebentar lalu senyum-senyum ke Sadewo.


Sadewo menatap Alya, lalu beranjak. "Teman, Bang."


"Oh, udah biasa Dewo, awalnya teman entar jadi demen juga."


Sadewo lalu naik motor matic yang Alya bawa. Sadewo mengajak Alya ke rumah Elisa, karena semalam Satria mengantar Elisa, siapa tahu gadis itu tahu yang kemana perginya Satria selanjutnya. 


"Alya, tiba tiba kok merit sama Satria, bukannya demenan kamu dulu Abang Aditya."


"Jodoh saya emang Satria mungkin, Wo."


"Lucu ya," 


"He'em." Balas Alya. 


Sadewo terkekeh, bisa bisanya dia berniat menjodohkan Satria dengan Elisa, dan bermimpi menjadikan Alya miliknya. Sedangkan sekarang wanita dalam boncengannya resmi menjadi istri Sohibnya.


Satu jam Alya dan Sadewo memutari kota, dia akhirnya tiba di depan rumah Elisa. 


Elisa yang kebetulan duduk santai di teras sambil membaca majalah kanggannanya yang dikirim tiap bulan itu, segera menghampiri Sadewo di depan gerbang. Elisa penasaran dengan wanita yang dibawa Sadewo. Elisa tersenyum ketika wanita itu tak asing lagi baginya. 


Elisa dan mang Sabeni tentu berfikir sama, Wanita yang bersama Dewo berarti ada hubungan dekat.


"Hai Wo, pagi benar, ada apa Nie?"


Sadewo melepas helmnya. Lalu turun mendekati gerbang, Alya mengekor dibelakang Sadewo. Sedangkan Elisa membuka gerbang untuk dua orang tamunya. 


"Lisa, gue boleh tau nggak habis nganterin kamu Satria kemana?"


"Oh, sedang cari Satria ya?" Elisa sekarang mengerti maksud kedatangan Sadewo. 


"Lo nggak masuk dulu, minum apa kek di dalam."Elisa berbasa-basi pada Elisa dan Dewo.


"Nggak Lisa, mending langsung kasih tahu aja ke kita, Soalnya istrinya lagi nyariin nie." Dewo melihat wajah Alya yang kelihatannya gelisah dan lelah.


Elisa tersenyum pada Alya, wanita itu membalasnya.


Mereka yang tidak akrab saat di kampus, bertemu pun rasanya canggung.


"Satria semalam nggak pulang karena tidur disini." Kata Elisa, sengaja membuat Alya cemburu.

__ADS_1


Dan terbukti hal itu berhasil membuat Alya semakin gelisah dan ingin rasanya berbicara pada Satria langsung. kenapa Satria begitu tega melakukan ini semua.


 


__ADS_2