
"Jangan berharap lebih padaku," bisik Cello di telinga Fara. Tidak terjadi apapun setelah itu. Cello meninggalkan Fara begitu saja ke kamar mandi.
Fara meneteskan air mata ketika Cello tak menyentuhnya sama sekali. Padahal ini malam pertama mereka setelah resmi menjadi pasangan suami istri.
Sedangkan Cello dia membasuh mukanya dengan air untuk meredakan panas tubuhnya. Berdekatan seperti itu dengan Fara membuat tubuhnya memanas. Dia laki-laki normal. Tidak mungkin tidak tergoda dengan tubuh gadis secantik Fara. Terlebih dia adalah istri sahnya. "Aku bisa gila jika dia ada di dekatku," gumam Cello sambil bercermin.
Namun, Cello menahan diri agar dia tidak membuat kesalahan. Dia tidak mau rencananya gagal menceraikan Fara.
Setelah itu Cello keluar. Dia melirik istrinya yang tengah tertidur di bawah selimut. Cello naik perlahan ke tempat tidurnya. "Maaf," ucap Cello dengan lirih.
Fara dapat mendengar ucapan Cello karena dia belum tidur hanya pura-pura tidur. Fara menutup mulutnya agar Cello tidak mendengar dia menangis.
Malam ini keduanya tertidur di atas ranjang yang sama. Cello menutup matanya dengan lengan. Fara pun lambat laun memejamkan mata setelah lelah menangis.
Keesokan harinya Fara terbangun lebih dulu. Posisi mereka saling berhadapan. Fara tersenyum ketika melihat wajah suaminya pagi ini. Ingin sekali dia mencium Cello tapi dia takut suaminya akan marah. Akhirnya Fara memilih bangun dari pada dia tak tahan.
Fara keluar dari kamar dan menuju ke dapur. "Pagi, Bi," sapa Fara pada asisten rumah tangga di rumah Cello yang sedang memasak.
"Pagi, Non."
"Mau nyiapin sarapan ya? Saya bantuin ya," kata Fara dengan ramah.
"Tidak usah, Non. Nanti dimarahi Den Cello," tolaknya merasa tidak enak.
"Orangnya masih tidur. Saya mau belajar jadi istri yang baik, Bi. Bolehkan? Sekalian ajari saya memasak," bujuk Fara. Akhirnya dia pun diperbolehkan membantu asisten rumah tangga itu.
Fara menggulung rambutnya ke atas. Dia memasak dengan telaten. Mama Cindy turun ke dapur dan melihat menantunya itu sudah berada di sana lebih dulu.
"Ya ampun mantu mama sudah bangun jam segini. Rajin sekali," pujinya.
"Eh, mama. Sudah biasa, Ma. Kalau di rumah beres-beres sama masak sendiri," jawab Fara.
Ya, Fara selalu menjadi babu di rumahnya sendiri. Ibu dan adik tirinya memperlakukan Fara dengan tidak adil. Padahal dia adalah tuan rumah tapi mereka selalu menyuruh ini itu.
"Pantas saja Cello memilih kamu, rajin gini pinter masak lagi." Fara merasa senang mendengar pujian dari ibu mertuanya.
__ADS_1
Cello baru bangun ketika wajahnya terkena pantulan sinar matahari yang masuk ke dalam sela-sela jendelanya. Dia meraba tempat tidur dan mencari keberadaan Fara. Cello membuka mata tapi dia tidak menemukan istrinya. "Ke mana dia? Apa dia kabur?" gumam Cello.
Laki-laki itu segera keluar dari kamar dan turun dengan tergesa-gesa. "Mama lihat Fara nggak?" tanya Cello.
"Kenapa, Bang? Takut ilang ya?" ledek Mama Cindy.
"Suami macam apa jam segini baru bangun. Tuh lihat Mbak Fara udah bangun dari tadi nyiapin makanan," ledek Daisy.
Cello melirik ke arah istrinya yang sedang berjalan sambil membawa mangkuk berisi lauk. Fara terlihat cantik dengan rambut yang dicepol ke atas meskipun dia belum mandi. Fara menoleh sekilas ketika berjalan melewati suaminya. Senyuman Fara membuat Cello terpaku di tempatnya.
"Cie yang terpesona sama istri sendiri," ledek Daisy yang tak henti-hentinya menggoda Cello.
"Berisik." Cello naik ke atas setelah mengatakan itu pada adiknya.
"Ma, Fara mandi dulu ya," pamit Fara pada mama mertuanya.
"Iya, dandan yang cantik," pesan mama Cindy.
"Emm Fara nggak bawa pakaian ganti sebenarnya," kata Fara sambil tersenyum kikuk.
Tak lama kemudian Daisy memberikan satu stel pakaiannya pada Fara. "Nih, Kak. Kebetulan pas beli belum kepakai jadi buat Kak Fara aja."
"Serius?" tanya Fara ragu. Daisy mengangguk.
Fara pun naik dengan perasaan gembira. Dia meras beruntung memiliki keluarga seperti mereka. Adik ipar dan mama mertuanya sangat perhatian. Dia berharap mereka selalu bersikap sama sampai kapan pun. Bukan hanya baik di awal seperti ibu dan adik tirinya yang berpura-pura baik padanya semasa ayahnya hidup. Namun, ketika ayahnya sakit dan meninggal, mereka menyiksa Fara habis-habisan.
Ketika Fara naik Cello telanjang dada karena baru akan berganti pakaian. Fara terpaku di tempatnya. Dia menelan ludahnya kasar melihat bagian dada suaminya yang seperti roti sobek itu.
"Kamu ngapain berdiri di situ?" sentak Cello yang terkejut ketika melihat sang istri berdiri di ambang pintu.
"Aku mau mandi," jawab Fara dengan gugup. Wajahnya memerah karena malu melihat tubuh suaminya yang pelukable.
Cello keluar lebih dulu. Dia membiarkan Fara mandi. "Lho istrimu mana?" tanya Devon ketika melihat Cello turun seorang diri.
"Mandi," jawab Cello datar.
__ADS_1
Devon menepuk pundak putranya. "Gimana semalam? Apa sudah cetak gol?" goda sang ayah.
Cello memutar bola matanya jengah. "CK, aku tidak suka membahas itu."
Tak lama kemudian Fara turun dari tangga. Dia memakai celana jeans yang dipadukan dengan sweater warna pelangi milik Daisy.
"Wah, pas. Kakak emang aslinya cakep banget dah," puji Daisy.
"Apa tidak apa-apa kamu panggil aku kakak? Usia kamu berapa? Aku belum genap 20," tanya Fara.
"Nggak apa-apa, kamu kan istrinya Abang. Meskipun umurmu lebih muda tapi aku harus bersikap sopan. Aku 22 tahun," jawab Daisy.
"Beda dikit," kata Fara. Kedua gadis itu sama-sama tersenyum.
"Ayo kita sarapan bersama. Rasanya keluarga ini bertambah lengkap dengan hadirnya Fara," ajak Mama Cindy.
Cello melihat meja makan penuh dengan lauk-pauk. "Makanan sisa kemaren masih banyak ya Ma. Kok meja ini penuh?" tanya Cello.
"Semua ini masakan Fara lho. Cobain deh."
Cello mengerutkan keningnya. "Dia bisa masak?" tunjuk Cello.
Cello kok ngomongnya nggak sopan begitu. "Coba dulu baru komentar," tegur sang ayah.
Cello pun duduk di kursi. Fara melayani suaminya dengan mengambilkan nasi dan piring. "Segini cukup?" tanya Fara.
"Hmm," jawab Cello.
Kemudian dia mencoba masakan Fara. "Shiit, enak banget," umpatnya dalam hati. Padahal dia berniat mengejek Fara.
"Gimana, Bang? Enak kan?" ledek Mama Cindy.
...♥️♥️♥️...
__ADS_1