
Hari ini Bella sengaja memakai rok yang lebih pendek dari biasanya. Itu dia lakukan agar menarik perhatian Cello. Namun, siapa sangka yang dia harapkan ternyata berbeda.
Cello mengeluarkan isi dompetnya kemudian memberikan sejumlah uang pada Bella. "Belilah rok yang lebih panjang dari yang kamu pakai. Aku tidak mau klien kita menatap mesum padamu."
Bukannya takut Bella malah merasa diperhatikan. "Baik, Pak."
"Ada-ada saja." Cello menggelengkan kepalanya ketika mengingat kelakuan Bella yang memakai rok terlalu pendek. "Kalau istriku kemari dan dia tahu sekretarisku pakai rok pendek bisa perang dunia," gumam Cello.
Bella pun membeli rok di toko yang tak jauh dari kantornya. Sesaat kemudian dia menemani Cello untuk meeting bersama.
"Long time no see," sapa Arjuna. Ya, hari ini Cello mengadakan kontrak kerja sama dengan perusahaan Arjuna.
Cello tersenyum sinis. "Aku harap kamu tidak akan membahas masalah pribadi. Bersikaplah profesional!" Cello memberi peringatan.
Arjuna tersenyum miring. "Sayang sekali. Padahal aku ingin tahu bagaimana kabar mantan tunanganku sekarang?"
Cello mengepalkan tangan. "Bella berikan berkas-berkas yang harus dia baca!" perintah Cello pada sekretarisnya.
Bella pun menyodorkan sebuah map pada Arjuna. "Kenapa terburu-buru Cello? Aku akan tanda tangani kontrak kerja sama kita tanpa syarat. Asalkan kamu mengizinkan aku berkencan lagi dengan adikmu."
Brak
"Aku tidak menyangka kamu belum bisa move on dari Daisy. Asal kamu tahu pernikahannya dengan Anwar begitu bahagia jadi jangan coba-coba merusak rumah tangga mereka!" Cello memberikan peringatan.
Arjuna tertawa lantang. "Jangan marah dulu. Apa tidak boleh aku mengetahui kabar mantan tunanganku?" tanya Arjuna dengan santainya.
Cello mengepalkan tangan. "Aku peringatkan jangan coba-coba mengganggu Daisy," ucapnya dengan penuh penekanan
Arjuna tersenyum sinis. "Aku sendiri tidak tahu kenapa aku tidak bisa move on darinya. Padahal dulu aku yang tidak menginginkan dia menjadi tunanganku."
"Cih, kamu menyesal sekarang?" tanya Cello.
"Ya, aku ingin menebus penyesalanku. Bukankah Daisy belum memiliki anak di pernikahannya yang keempat tahun? Aku bisa memberikan dia anak sebanyak yang dia mau."
Bug Bug Bug
Cello tak tahan lagi. Dia memukuli Arjuna karena ucapannya yang berniat menjadi pebinor di antara Daisy dan Anwar. "Aku tidak sudi mengikat kontrak dengan perusahaanmu." Cello berlalu meninggalkan Arjuna.
Bella terperangah melihat sikap Cello yang berubah seratus delapan puluh derajat. Cello yang di kantor dingin tak tersentuh tapi begitu berwibawa. Tapi, Bella melihat dari sisi yang berbeda ketika dia memukuli Arjuna.
"Pak apa yang harus saya laporkan pada Pak Devon? Sementara proyek kita gagal." Bella merasa panik.
"Katakan apa saja yang kamu lihat barusan," ucap Cello dengan nada dingin.
__ADS_1
"Baik, Pak." Bella jadi bergidik ngeri. Dia tidak berani bertanya banyak pada atasannya itu.
Usai meeting Bella menuju ke kantor Devon. "Pak, saya ingin melapor."
"Bagaimana proyeknya, Bel?" tanya Devon.
"Gagal, Pak," jawab Bella takut-takut.
Devon mengusap wajahnya kasar. "Apa Cello berantem sama Arjuna?" tanya Devon. Bella seketika mengangkat kepalanya.
"Bagaimana bapak bisa tahu?" tanya Bella penasaran.
"Hubungan mereka memang kurang baik," jawab Devon singkat. "Ya sudah kamu boleh pergi, Bella!" Bella pun undur diri.
Di saat yang bersamaan Bella berpapasan dengan Fara. 'Istrinya Pak Cello,' gumam Fara di dalam hatinya.
Bella mengangguk hormat pada Fara yang sedang berjalan menuju ke dalam ruangan ayah mertuanya sambil menggendong Cio. Fara balas mengangguk.
"Aku juga tidak kalah cantik dengan wanita itu," gumam Bella setelah berjalan agak jauh.
"Opa," panggil Cio. Anak kecil itu berlari ke arah kakeknya. Devon menangkap cucunya itu.
"Kamu dari mana?" tanya Devon pada Cio.
"Apa papa sibuk? Aku hanya berniat mampir sebentar karena kami habis dari rumah sakit menjenguk Mas Anwar sekalian membawakan pesanan Daisy."
"Tidak, kebetulan papa sudah selesai bekerja," jawab Devon.
"Opa aku mau es krim," rengek Cio.
"Baiklah, ayo kita beli!" ajak Devon. Dia menggendong Cio keluar ruangannya. Fara mengikuti dari belakang.
Kemudian mereka bertiga ke mall sekalian mengajak Cio ke wahana bermain. Devon sengaja meluangkan waktu untuk cucunya itu. Fara mengawasi keduanya bermain.
"Mbak itu suaminya umur berapa? Kayaknya usianya terpaut jauh sama, Mbak?" tanya ibu-ibu yang duduk di samping Fara. Dia mengira Fara simpanan om-om.
Fara menahan tawa. "Tapi masih ganteng kan, Bu?" goda Fara.
"Iya, ganteng sih. Orang kaya," lirih ibu-ibu itu karena melihat tampilan Devon yang memakai barang serba branded.
"Kalian nikah udah lama?" tanyanya lagi.
"Sama suami saya?" tanya balik Fara. Ibu itu mengangguk.
__ADS_1
"Empat tahun lebih," jawab Fara. Ibu-ibu itu melongo.
"Lama juga ya. Kenapa nggak cari yang lebih muda, Mbak? Secara mbaknya juga cantik."
"Mama." Seruan itu berasal dari suara Cio yang memanggil Fara.
"Hai, sayang."
"Aku sudah selesai. Opa udah kecapean."
"Hah, opa?" Ibu-ibu salah menduga.
"Maaf, saya kira suaminya," bisik wanita itu di telinga Fara kemudian dia pergi karena malu. Fara hanya terkekeh.
"Kamu kenal sama dia, Fara?" tanya Devon.
"Nggak, Pa."
Setelah puas bermain dan membeli es krim, Devon mengajak cucu dan menantunya pulang. "Kamu mau pulang ke apartemen apa ke rumah papa?" tanya Devon.
"Ke apartemen saja, Pa," jawab Fara. Devon pun menuruti permintaan menantunya.
Sepanjang perjalanan Cio tertidur karena dia kelelahan usai bermain di wahana bermain anak-anak. "Biar papa saja yang gendong dia." Fara mengangguk patuh.
Ketika mereka akan menaiki lift. Cello memanggil. "Papa." Devon dan Fara pun menoleh.
"Kalian kok bisa barengan?" tanya Cello heran.
"Papa mengajak Cio main ke wahana bermain," jawab Devon. Setelah itu Cello mengambil alih gendongan anaknya.
"Makasih Pa sudah mengantarkan mereka," kata Cello.
"Papa yang makasih. Hari ini papa sangat senang bermain dengan Cio. Oh ya, kamu harus cari klien baru yang mau bekerja sama dengan kita sebagai pengganti perusahaan Arjuna."
"Ck, iya iya."
Fara hanya menyimak obrolan keduanya. Sesaat kemudian Devon pamit. Cello pun mengajak anak dan istrinya naik ke atas.
Setelah sampai di apartemennya, Cello menidurkan anaknya di kamar. Di apartemen itu ada dua kamar. Cio tidur sendiri di kamarnya.
"Kamu nggak capek, Yang?" tanya Cello. Fara menggeleng.
"Enggak, Mas. Yang main kan Cio."
__ADS_1
Cello mengalungkan tangannya ke leher Fara. "Oh, gimana kalau gantian kita yang main?" bisik Cello di telinga Fara. Fara hanya tersenyum malu-malu menanggapi ajakan suaminya.