MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 77


__ADS_3

"Mas kok kamu malah bawa aku ke rumah sakit lain sih? Kan di rumah sakit aku bekerja juga lengkap. Kita bisa tes kesuburan aku di sana." Laras protes pada Anwar ketika dia membawa wanita itu ke rumah sakit lain untuk diperiksa.


"Di sini aku dengar alatnya lebih canggih," jawab Anwar beralasan.


"Oh ya?" tanya Laras. Anwar mengangguk. "Ya sudah yang penting kita akan segera menikah."


Laras pun melalui serangkaian pemeriksaan. Setelah itu, dokter yang telah dibayar lebih itu keluar untuk memberi hasil pemeriksaan Laras. "Dia masih perawan. Tidak ada tanda-tanda sper*ma yang masuk ke dalam rahimnya."


Anwar tersenyum miring. "Terima kasih, Dok." Dokter itu mengangguk.


Tak lama kemudian Laras keluar. "Sudah aku bilang Mas kalau aku ini subur. Lihatlah hasilnya." Laras menunjukkan bukti pada Anwar.


"Aku percaya, sekarang ayo temui orang tuamu," bujuk Anwar. Laras tersenyum lebar. Hatinya berbunga-bunga karena mengira Anwar akan melamarnya.


"Baiklah." Laras merangkul lengan Anwar. Meski agak risih tapi dia membiarkannya.


Setelah sampai di rumah Laras. Anwar menunjukkan bukti bahwa malam itu tidak terjadi apa-apa. "Inilah bukti bahwa apa yang dikatakan oleh putri kalian tidak benar."


Ayah Laras membaca surat keterangan dari dokter itu. Laras tidak menyangka kalau Anwar menjebaknya. "Jahat kamu Mas."


"Lebih jahat mana aku dibanding kamu seorang yang terobsesi hingga ingin menghancurkan rumah tangga orang lain?" Laras dibuat bungkam. Dia memang bersalah dalam hal ini.


"Laras tega-teganya kamu berbohong pada kami hanya agar kamu bisa dinikahi Anwar? Jelaskan pada bapak!" bentak ayahnya Laras.


"Pak, bukan begitu maksud aku." Laras bingung menghadapi orang tuanya.


Sementara Laras sibuk meminta maaf pada bapaknya, Anwar memilih pulang. Dia akan mendatangi rumah mertuanya. Anwar ingin menunjukkan bukti kalau dia hanya difitnah oleh Laras.

__ADS_1


Sayangnya Anwar kurang berhati-hati ketika dia mengendarai mobil. Dia yang kurang fokus saat itu hampir saja menabrak orang yang akan menyeberang jalan. Untuk menghindari kecelakaan Anwar memilih membanting setir. Mobilnya menabrak pohon hingga bagian depan mobilnya hancur.


"Ah, Daisy." Dia sempat menyebut nama istrinya sebelum akhirnya pingsan.


Di saat yang bersamaan Devon dalam perjalanan pulang ke rumah. Namun, jalan yang dia lalui begitu macet. "Coba lihat apa yang terjadi?" perintah Devon pada supir pribadinya.


"Baik, Tuan."


Tak lama kemudian sopir itu melapor pada Devon. "Tuan, Pak Anwar mengalami kecelakaan."


Devon sangat terkejut. Dia pun langsung turun dari mobil. Sangat disayangkan tak ada satupun orang yang menolongnya. "Anwar! Anwar!"


Devon berusaha meneriaki Anwar tapi laki-laki itu tak sadarkan diri. Akhirnya Devon memecah kaca bagian samping mobil agar kuncinya bisa dibuka. Devon berhasil mengeluarkan menantunya.


Anwar terluka parah di bagian kepala. "Cepat bantu aku! Masukkan dia ke dalam mobil lalu kita pergi ke rumah sakit," perintah Devon pada sopirnya itu.


"Baik, Tuan."


Daisy pun melotot tak percaya. Padahal Anwar baru upload foto-fotonya ke media sosial beberapa saat lalu. "Ma, mama," teriak Daisy.


"Ada apa?"


"Mas Anwar kecelakaan. Kita susul dia di rumah sakit." Daisy meminta bantuan ibunya.


"Baiklah, ayo. Kamu jalannya jangan cepat-cepat." Mama Cindy khawatir jahitan di perut anaknya akan terbuka.


"Aku baik-baik saja, Ma. Doakan Mas Anwar baik-baik saja, Ma."

__ADS_1


"Iya, pasti."


Sesampainya di rumah sakit, Daisy langsung menghampiri ayahnya di depan ruang operasi. "Kaki kanan Anwar patah. Jadi dia harus dioperasi." Devon memberi tahu keadaan Anwar pada Daisy.


Daisy terduduk lemas. Rasanya dia menyesal telah menyia-nyiakan suaminya. "Mas aku mohon bertahanlah!" Daisy berdoa dalam hati.


Tiga jam lamanya menunggu operasi Anwar, akhirnya dokter yang menangani keluar. "Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?" tanya Devon.


"Operasinya berhasil." Semua orang bisa bernafas lega. Mereka akan menunggu hingga Anwar dipindahkan ke ruang rawat inap.


Devon juga mengabari Cello agar Cello memilih pengganti Anwar untuk sementara waktu.


"Apa? Mas Anwar kecelakaan, Mas?" tanya Fara yang kaget. Dia syok ketika mendengar Anwar kecelakaan.


"Mas sebaiknya kamu ke sana sekarang. Aku tidak ikut karena harus menjaga Cio. Kabari aku kalau keadaan Mas Anwar membaik." Cello mengangguk menanggapi pesan istrinya.


Cello pun menyusul Anwar di rumah sakit. "Malang sekali nasibmu, Anwar. Padahal seharusnya kamu sudah menyelesaikan satu masalah hari ini," gumam Cello di dalam mobil.


Tak butuh waktu lama, Cello tiba di rumah sakit. Dia memarkirkan mobil kemudian Cello menyusul keluarganya. "Bagaimana keadaannya, Pa?" tanya Cello.


"Dia baik-baik saja setelah operasinya berjalan lancar," kata Devon. Ada perasaan lega di hati Cello.


Cello mengajak Daisy keluar. "Dengarkan aku! Hari ini Anwar pergi ke rumah sakit dengan Laras. Dia ingin membuktikan kalau ucapkan gadis itu tidak benar. Laras berbohong," ucap Cello.


Daisy merasa menyesal telah menuduh suaminya berselingkuh.


"Mas Anwar," ucap Daisy dengan lirih sambil meneteskan air mata penyesalan.

__ADS_1


"Masuklah! Sebaiknya mulai sekarang kamu bersikap baik pada suamimu." Cello memberi nasehat pada adiknya.


__ADS_2