
Sebulan setelah acara empat bulanan Fara, kediaman Devon kembali ramai dengan hiasan dan dekorasi bunga yang serba putih.
Hari ini Daisy akan menikah dengan Anwar. Meski awalnya Devon menentang hubungan keduanya tapi pada akhirnya mereka jadi menikah.
"Wah, Daisy kamu cantik sekali," puji Fara ketika melihat Daisy mengenakan kebaya putih dihiasi siger di kepalanya.
"Kak, aku gugup," kata Daisy seraya memegang tangan kakak iparnya.
"Daisy, keluarga Anwar sudah datang," seru Ruby memberi tahu.
"Kak, apa aku keluar sekarang?" tanya Daisy panik.
"Nanti, setelah Anwar selesai mengucapkan ijab qobul," jawab Ruby.
Sementara itu, Cello mencari keberadaan istrinya. "Yang, aku mencari kamu di mana-mana tahunya di sini. Ayo kita ke depan!" Cello menarik tangan Fara.
"Bang, aku bagaimana?" tanya Daisy.
"Kamu sama Kak Ruby aja. Jangan keluar sebelum dipanggil," jawab Cello. Daisy terlihat gugup dia takut Anwar salah mengucapkan ijab qobul.
"Udah belum sih, Kak?" tanya Daisy.
"Hish, anak perempuan kok nggak sabaran. Nanti juga dipanggil," jawab Ruby sedikit kesal pada adiknya.
"Daisy, ayo keluar." Salah seorang kerabat Daisy memanggil pengantin wanita itu.
__ADS_1
Ruby menuntun adiknya berjalan dengan perlahan karena dia mengenakan kebaya. Sesaat kemudian Daisy memasuki ruang tamu yang dijadikan sebagai tempat ijab qobul.
Anwar telah mengucapkan janji menikah dengan satu tarikan nafas. Daisy tersenyum pada suaminya. Begitu juga Anwar yang membalas senyum Daisy.
Setelah itu Anwar diminta menandatangani surat nikah. "Kalian sudah sah menjadi suami istri," kata penghulu yang hadir di acara pernikahan mereka.
Kemudian Anwar menyematkan cincin pernikahan ke jari manis wanita yang baru saja sah menyandang status istrinya itu.
Acara hari ini hanya akad nikah dan diteruskan dengan makan-makan. Devon pun hanya mengundang keluarga besarnya.
"Padahal baru sebulan lalu lho kita datang ke sini," gumam Darren, kakak kandung Devon. Devon tersenyum terpaksa. Dia sebenarnya malu merayakan pernikahan Daisy secara sederhana.
"Aku pun tidak menyangka kalau jodoh Daisy begitu dekat dengannya," kata Devon menimpali. Dia ikhlas anaknya menikah dengan Anwar.
Sebagai ayah dia hanya bisa mendoakan anaknya yang terbaik. "Aku yakin Anwar bisa bertanggung jawab. Dia juga sudah lama bekerja pada anakmu, setidaknya kamu tidak perlu mengajari menantumu untuk mengurus semua aset kekayaan yang kamu miliki," ujar Darren.
"Kamu terlalu mudah tersinggung. Jadilah ayah yang lemah lembut pada anak juga pada menantumu. Mereka akan menjauh darimu jika mulai merasa tidak nyaman. Jadi sebaiknya kamu baik-baik pada Anwar agar dia tidak membawa pergi anakmu," ledek Darren yang tak henti-hentinya menggoda sang adik.
"Paman, apa kabar?" sapa Cello pada Darren.
"Hei, calon bapak muda. Apa kamu sudah siap menyambut kelahiran bayimu kelak?" tanya Darren.
"Sudah, Paman," jawab Cello dengan tegas.
"Bagus, aku bangga punya keponakan seperti dirimu yang mencintai istri. Ingat jaga istri dan anak dalam kandungannya dengan baik," pesan Darren pada keponakannya itu.
__ADS_1
"Pasti, Paman."
Meninggalkan kisah Anwar dan Daisy yang telah berbahagia karena sudah sah menjadi suami istri, kini beralih ke kisah Fara yang menjalani hari-harinya menjadi bumil.
Kehamilan Fara yang semakin membesar membuat dirinya susah bergerak. "Ra, kok kamu belum cuti sih?" tanya Gita. Padahal dia sendiri merasa ngilu melihat perut Fara yang semakin membesar.
Fara tersenyum. "Nantilah, kalau udah ada aba-aba dari dokter untuk melahirkan," jawabnya.
Namun, ketika Fara sedang mengikuti kuliah, tiba-tiba air keluar dari sela-sela pahanya. "Git, ketuban gue pecah keknya," kata Fara pada sahabatnya.
Gita dan seluruh penghuni kelas itu pun panik. Setelah itu, Fara dibawa ke rumah sakit. Cello yang baru saja mendapatkan kabar bahwa istrinya akan segera melahirkan langsung menuju ke rumah sakit. Dia bahkan rela membatalkan meeting penting yang akan berlangsung sepuluh menit lagi.
"Di mana istri saya?" tanya Cello pada perawat yang bertugas di bagian UGD.
"Pasien atas nama ibu Fara ya, Pak?" Cello mengangguk.
"Mari saya tunjukkan. Ibu Fara harus segera dioperasi sesar karena dia mengalami pecah ketuban duluan, Pak."
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya!" perintah Cello pada perawat itu.
Setelah itu, Cello mengabari anggota keluarganya yang lain. Satu per satu anggota keluarga berdatangan. "Bagaimana dengan menantuku?" tanya Mama Cindy.
"Masih di dalam, Ma," jawab Cello.
Sesaat kemudian dokter yang melakukan operasi keluar. "Selamat, anak Anda laki-laki," ucap Dokter tersebut memberi tahu jenis ke*lamin anak yang telah dilahirkan Fara.
__ADS_1
"Selamat, Nak. Kamu resmi jadi seorang ayah."