
Sesuai dengan perintah atasannya, Anwar menjemput Daisy di rumah sakit. Saat itu Daisy telah berganti baju dan berdandan. Dia tidak mau terlihat jelek di depan Anwar. "Kenapa aku berubah genit begini sih?" gumam Daisy yang menyadari tingkah konyolnya.
Tok tok tok
"Masuk!"
Anwar membuka engsel pintu. "Apa kamu sudah siap?" tanya Anwar pada gadis yang mengenakan kaos rajut berwarna putih dan bawahan jeans tersebut. Daisy terlihat manis di mata Anwar terlebih dengan tampilan make up flawless yang membuat penampilan Daisy terlihat sempurna.
Anwar tertegun sejenak. Daisy yang menyadari sikap Anwar yang terpesona padanya menjadi merona. "Dia benar-benar menyukaiku," gumam Daisy dalam hatinya.
Mereka keluar dari ruangan itu. Daisy merasa canggung ketika berjalan di samping Anwar. "Mas, bagaimana kalau kita mampir ke restoran dulu. Aku ingin makan enak hari ini," pinta Daisy.
"Boleh," jawab Anwar pendek.
"Irit banget ngomongnya. Tapi dia begitu menggemaskan," batin Daisy sambil senyum-senyum sendiri.
"Oh iya apa mobilku rusak parah setelah mengalami kecelakaan?" tanya Daisy mencari abhan pembicaraan dengan Anwar.
Anwar mengangguk. "Lumayan," jawab Anwar.
"Ya sudah buang saja. Aku akan minta mobil baru pada papa," ucapnya dengan santai.
"Minta mobil kaya minta permen," batin Anwar sembari menggelengkan kepalanya.
Anwar malah lupa mampir ke restoran. Dia membawa Daisy pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah rupanya Marshel, anak Ruby berada di sana.
"Tante, kok pulang sama Om ini," tunjuk Marsel. Dia menatap Anwar sambil memainkan lato-latonya.
Tek Tek Tek Tek
"Aku pusing kalau kamu ada di sini. Mainan kamu bisa nggak dibuang dulu?" Daisy gemas dengan anak kakaknya itu.
__ADS_1
Anwar tersenyum melihat sikap Daisy yang kekanak-kanakan itu. Tapi dia suka gadis itu apa adanya. Daisy melirik Anwar sekilas. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah.
"Om pesan makanan dong! Aku lapar," perintah Marshel.
"Tante Daisy suka makan apa?" tanya Anwar.
"Kok Tante Daisy yang ditanya? Yang lapar kan aku," protes Marshel. Dia memainkan lato-lato semakin cepat karena emosi. 😏
Anwar mengacak rambut anak kecil itu gemas. "Nanti aku beliin apa yang kamu suka juga," bujuk Anwar. Marshel tersenyum lebar.
Karena tidak tahu apa yang disukai Daisy, anak itu berlari ke kamar tantenya untuk menanyakan apa yang disukai gadis itu. Setelah mendapatkan jawaban Marshel berlari ke arah Anwar.
"Tante minta pizza yang panjang itu," bisik Marshel ke telinga Anwar.
"Oke akan Om belikan," kata Anwar. Marshel menarik baju Anwar.
"Apa?"
Setelah tiga puluh menit menunggu, pesanan pizza panjang dan es krim pun datang. Mama Cindy baru saja pulang heran melihat pesanan makanan yang begitu banyak.
"Memang siapa yang ulang tahun? Kenapa pesan banyak makanan begini?" tanya wanita itu heran.
"Ini semua pesanan Tante, Oma," lapor Marshel.
"Hah? Siapa yang mau habisin semua?" Mama Cindy hanya bisa menggeleng.
Sesaat kemudian Daisy turun. "Kamu yang bayar semua ini?" tanya Mama Cindy.
"Bukan, Mas Anwar yang bayar," jawab Daisy dengan santainya.
"Dasar gadis nggak peka. Kenapa kamu malah mengerjai dia?" protes Mama Cindy. "Kalau begini kapan kamu menikah?" ledeknya kesal.
__ADS_1
Di tempat lain Cello sengaja pulang lebih dulu karena dia ingin mengembalikan obat yang telah dia tukar ke tempat asalnya.
Sesaat kemudian Fara pulang. "Lho tumben pulang lebih awal, Mas?"
"Iya, aku mau ajak kamu jalan hari ini," kata Cello.
"Ke mana?" tanya Fara.
"Ada deh. Kamu siap-siap aku tunggu di luar," kata Cello dengan lembut. Dia mendaratkan kecupan di kening istrinya.
Fara keluar setelah selesai berdandan. Dia memakai setelan kaos panjang yang dipadukan dengan rok pendek di atas lutut. "Kamu cantik sekali, Yang," puji Cello.
"Heleh, kamu pasti ada maunya," ledek Fara.
Setelah itu Cello mengendarai mobil ke tempat yang jauh. "Kita mau ke mana sih?" tanya Fara penasaran. Pasalnya sudah satu jam mereka berkendara tapi Cello tak kunjung menepikan mobilnya.
Cello melirik sekilas. "Nanti juga tahu," jawab Cello dengan santainya.
Tak lama kemudian Cello membawa Fara ke sebuah hotel yang berada di pinggir pantai. "Ya ampun cantik banget. Ini baru pertama kalinya kamu mengajak aku ke tempat romantis seperti ini, Mas," kata Fara yang takjub dengan pemandangan malam itu. Cuaca yang sangat mendukung karena bulan bersinar sangat terang tanpa mendung sedikit pun.
"Apa kamu suka?" tanya Cello.
"Bukan suka lagi, tapi sangat suka." Peluk Fara dengan erat.
"Ini resort milik Papa," kata Cello.
"Jadi kamu mengajak aku bulan madu?" tebak Fara. Cello mengangguk. Laki-laki tampan itu merangkul pinggang istrinya.
"Ayo buat anak," bisik Cello ke telinga sang istri. Fara menutup mulut saking terkejutnya. Cello menepis jarak di antara mereka. Kemudian laki-laki itu menempelkan bibir. Mereka berciuman di pinggir pantai sambil menikmati semilir angin sepoi-sepoi.
Malam itu tidak banyak pengunjung karena bukan week end. Jadi pantai itu seolah milik mereka berdua. Cello melepas pagutannya setelah mereka hampir kehabisan nafas. "I love you."
__ADS_1