MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 24


__ADS_3

"Kak Fara bangun, kakak nggak mandi?" tanya Daisy.


"Eh iya aku hampir lupa, badan aku bau banget ya?" tanya Fara.


"Iya, bau banget," gurau Daisy sambil terkekeh. "Nanti pakai bajuku aja. Ukuran kita kan sama. Kakak tenang aja nggak usah dikembalikan nanti aku minta ganti sama suami kakak," ucap Daisy menyeringai licik. Fara hanya menggelengkan kepalanya.


Di lantai bawah Cello sedang berhadapan dengan ayahnya. "Apa benar kamu selingkuh?" tanya Devon pada Cello.


"Itu nggak bener, Pa. Aku hanya mengajak Mitta untuk makan dan ngobrol," jawab Cello tidak berbohong.


"Kalian ngomongin apa? Apa kamu masih mengharapkan dia kembali?" tanya Devon pada putranya itu. Cello hanya menunduk. Dia tidak mungkin menceritakan pada ayahnya jika dia dan Fara terikat kontrak nikah seperti apa yang dikatakan pada Mitta.


Sedangkan Devon menarik kesimpulan jika anaknya mengakui kesalahannya. "Sekarang kamu susul istri kamu di atas. Minta maaflah padanya. Jangan menyakiti dia. Papa tidak pernah mendidik kamu untuk menyakiti wanita," ucap Devon dengan tegas.


Cello pun naik ke lantai atas. "Di mana dia?" tanya Cello pada adik dan mamanya yang sedari tadi mengamati dia dari balkon.


"Ada di kamarku, Bang," jawab Daisy.


"Aaa...." Terdengar suara teriakan Fara ketika suaminya masuk dengan tiba-tiba saat dia sedang berganti baju.


Setelah memberi tahu Cello, Daisy bertos ria dengan ibunya. Mereka terkekeh saat mendengar suara teriakan Fara.


"Ma, emang kalau lagi hamil masih boleh ehem-ehem ya?" tanya Daisy pada ibunya.


"Hush, anak gadis belum boleh ngomongin itu. Nikah dulu cari laki sana!" ledek Mama Cindy.


Sementara itu di dalam kamar Fara melempari bantal ke arah suaminya. "Dasar iblis mesum. Kebiasaan banget kalau orang lagi ganti baju main nyelonong aja," omel Fara.


"Berhenti melempar bantal, Fara!"


"Nggak mau, kamu mesum. Kamu menyebalkan."


Cello yang berada di seberang ranjang pun menaiki ranjang itu lalu menangkap istrinya. Fara mematung saat Cello memegangi badannya yang hampir saja terhuyung ke belakang. Jantung Fara berdegup kencang ketika beradu tatap dengan suaminya.

__ADS_1


Fara memejamkan mata berharap Cello akan menciumnya. Namun, Cello melepas tangannya hingga membuat Fara benar-benar jatuh. "Aw." Fara meringis kesakitan.


"Kamu sengaja ya?" bentak Fara.


"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Pikirkan cara untuk menjelaskan kalau kamu tidak hamil," titah Cello pada gadis itu.


"Tidak mau. Apa kamu tega membuat kebahagiaan mereka hilang begitu saja," balas Fara.


"Lalu apa kamu akan membohongi orang tuaku selamanya?" balas Cello.


"Untuk apa berbohong lebih baik wujudkan saja keinginan mereka," kata Fara sambil menyeringai licik. Dia sengaja berjalan mendekat ke arah Cello.


"Jangan macam-macam. Kamu tahu bukan aku ini laki-laki normal," kata Cello gugup. Jujur dia sangat tergoda apalagi Fara membuka kancing bagian atasnya hingga memperlihatkan buah dadanya yang mulus.


Fara memang sengaja menggoda suaminya agar Cello bisa melupakan wanita bernama Mitta. Dia ingin menjadi istri Cello seutuhnya. Fara juga berharap Cello akan memperpanjang kontrak nikahnya selama seumur hidup.


Cello mengambil selimut lalu menggulung tubuh Fara. Fara jadi susah bergerak. "Cello lepasin aku," pinta Fara.


Fara tertawa lantang. "Aku rasa mereka sengaja mengunci pintunya agar kita bisa menghabiskan malam ini berdua," goda Fara.


Cello tak menghiraukan omongan Fara. Dia merebahkan diri di atas sofa yang ada di kamar Daisy.


"Ma, aku tidur di mana?" tanya Daisy.


"Tidur saja di kamar kakakmu," jawab Mama Cindy.


"Tapi aku pengen tidur sama mama. Temenin ya," ucapnya sambil menaikturunkan alisnya.


"Nggak boleh," sahut Devon.


"Yah, papa. Nggak asyik." Daisy menghentakkan kakinya lalu bangun dari tempat duduk.


"Anak itu kapan dewasanya kalau manja seperti itu terus. Apa kita perlu jodohkan dia, Ma?" tanya Devon meminta pendapat istrinya.

__ADS_1


"Biarlah dia memilih pasangan hidupnya sendiri, Pa. Nanti kalau dijodohin anaknya nggak mau gimana? Kan kasian kalau dipaksa," terang Mama Cindy.


"Alah, mama kaya lupa profesi mama dulu," cibir Devon.


Sekilas tentang pertemuan Devon dan istrinya. Saat itu Devon sedang mencari pasangan melalui biro jodoh yang didirikan oleh istrinya.


"CK, Papa." Cindy beringsut ke dada suaminya yang pelukable itu.


"Mau mengenang masa lalu nggak?" tanya Mama Cindy.


"Aku tidak mau mengingat masa lalu. Lebih baik kita lanjutkan masa depan. Apa setelah ini kita akan membuat adik untuk Daisy?" goda Devon.


Wajah Mama Cindy memerah karena malu mendengar ucapan suaminya. "Ya ampun aki-aki. Udah mau punya cucu masa usia cucunya sama anaknya sama?" Ledek Mama Cindy.


"Loh nggak masalah biar nanti barengan momongnya," balas Devon tak mau kalah.


Mama Cindy berjalan lebih dulu. "Mama tunggu papa di kamar," ucap Mama Cindy. Devon pun mengulas senyum lebar setelah mendapat kode dari istrinya.


Sementara Devon dan Cindy sedang bermesraan di kamarnya, Cello dan Fara malah tidur di tempat yang berbeda. Fara tidur dengan tubuh masih memakai balutan selimut. Sedangkan Cello terjaga ketika merasa tidak nyaman saat terlalu lama tidur di sofa.


Di saat yang sama, handphone Fara bergetar. Cello pun penasaran dia mendapatkan pesan dari siapa. Maka Cello pun membuka handphone Fara yang tidak dikunci itu.


Tertera nama Rendy di layar ponselnya. "Apa? Jadi seminggu lagi dia akan ikut ujian masuk ke kampus?" gumam Cello setelah membaca isi pesan dari Rendy yang mengingatkan jika Fara harus datang untuk membawa surat-surat kelengkapan yang harus diserahkan.


Cello menghapus pesan tersebut. Dia sengaja karena Cello tidak mau Fara kuliah di tempat yang sama dengan Rendy.


Setelah itu Cello yang merasa kasian dengan Fara akhirnya melepas selimut yang membalut tubuh istrinya itu. "Bisa-bisanya dia tertidur dengan balutan selimut seperti ini. Apa dia tidak gerah?" gumam Cello menggerutu.


Setelah Cello berhasil melepas selimut, kemeja yang dipakai Fara terangkat ke atas sehingga memperlihatkan perutnya yang mulus. "Tuhan, godaan apa lagi ini?" gumamnya frustasi.


Cello cepat-cepat menurunkan kemeja Fara. Sayangnya, tangannya mengenai perut Fara hingga membuat Fara terbangun. Bukannya kaget Fara malah tersenyum pada suaminya. "Jadi kamu ingin melakukannya saat aku tidur?" tanya Fara.


Apa yang terjadi selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2