
Gita datang sesuai permintaan Fara. "Ra, sorry gue ajak ponakan gue juga," kata Gita.
"Umur berapa dia, Git? Lucu banget," ujar Fara sambil mencolek pipi gembul gadis yang lucu itu.
"Tiga tahun, kakak gue mau melahirkan. Jadi dia dititipin ke gue. Mama lagi nemenin kakak di rumah sakit sama suaminya," ungkap Gita.
"Ayo ajak masuk!"
"Ngapain lo ngundang gue ke sini? Ada yang pentingkah? Oh iya, gue bawain salinan catatan kuliah juga nih. Udah dua hari kan lo nggak masuk."
Fara menerima buku dari Gita. "Makasih banyak ya, Git. Aku disuruh bed rest sama dokter. Soalnya kemaren sempat mengalami flek," terang Fara.
"Ya ampun, iya banyakin istirahat aja."
"Eh, aku minta si mbak buat ambilin minuman sama camilan ya, Git." Gita mengangguk menanggapi ucapan Fara.
Sesaat kemudian keponakan Gita mengacak-acak koran yang ada di ruang tamu. "Onty, ni apa?" Gadis kecil itu menunjuk suatu gambar.
"Katty jangan mengacak-acak korannya. Nanti dimarahi sama temen tante," tegur Gita.
"Onty, ni apa?"
"Gambar gedung," jawab Gita. Sesaat kemudian Fara kembali.
"Eh, anak manis lagi apa?" tanya Fara sambil berjongkok.
"Ni apa?" Gadis itu bertanya tentang gambar-gambar yang belum dia ketahui.
"Maaf, banget ya, Ra. Ponakan gue malah bikin rusuh." Gita merasa tidak enak pada sahabatnya.
"Nggak apa-apa. Namanya juga anak kecil. Dia tuh pinter soalnya dia kepo sama sesuatu yang belum dia ketahui," kata Fara sambil mengusap rambut anak kecil itu.
"By the way, anak lo cewek apa cowok?" tanya Gita penasaran.
"Belum bisa diketahui soalnya belum empat bulan, Git," terang Fara.
"Oh, gitu ya, kirain bisa langsung tahu jenis kela*minnya gitu."
Tak lama kemudian Mama Cindy dan Cello kembali dari berbelanja. "Eh ada temannya Fara ya? Ini anaknya?" tebak Mama Cindy. Fara menahan tawa.
__ADS_1
"Bukan, Tante. Ini anak kakak saya," jawab Gita.
Cello menggendong anak itu. "Yang, udah pantes belum kalau aku jadi ayah?" Gadis kecil itu bingung karena dia tidak kenal pada orang yang menggendongnya.
Fara tersenyum. "Pantes, Mas. Pantes banget malah. Tuh anaknya aja diem pas digendong sama Mas Cello."
"Eh, iya lho. Padahal Katty jarang mau digendong sama orang yang baru dia temui. Tapi sama suami lo dia mau." Gita ikut menimpali.
"Nama kamu siapa?" tanya Cello dengan lembut.
"Katty, om ganteng," jawab anak kecil itu.
"Owalah, rupanya dia naksir sama Abang," ledek Mama Cindy semua orang tertawa mendengarnya.
Setelah puas mengobrol dengan Fara, Gita mengajak Katty pulang. Anak itu juga kelihatannya sudah lelah bermain dengan Cello. "Gue balik dulu ya," pamit Gita.
"Hati-hati ya, Git."
"Tunggu!" Mama Cindy setengah berlari. "Ini camilan untuk Katty." Mama Cindy memberikan anak kecil itu sebuah paper bag berisi camilan.
"Bilang apa, sayang?"
"Sama-sama, Katty." Mama Cindy yang gemas pun mencium pipi anak itu.
Setelah kepulangan Katty, rumah rasanya sepi. "Besok kalau sudah melahirkan kalian tinggal di sini saja ya, Fara. Mama ingin rumah ini rame dengan tawa anak kecil."
"Iya, Ma," jawab Fara.
"Mama jadi nggak sabar belanja kebutuhan buat bayi kalian," ucap Mama Cindy bersemangat.
"Aku juga, Ma." Fara ikut menimpali. Sedangkan Cello menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian papa Devon pulang. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Semua orang menjawab salamnya.
"Ada apa ini kumpul bareng?" tanya Papa Devon.
"Tadi ada temennya Fara yang ke sini ngajak ponakannya. Mereka baru saja pergi," jawab Cello.
__ADS_1
Mama Cindy mengajak menantunya masuk ke dalam sedangkan Cello dan Papa Devon mengobrol di depan.
"Oh ya, bagaimana kabar Daisy dan Anwar di sana, Pa?" Devon menggedikkan bahu.
"Mereka belum kasih kabar ke papa," jawab Devon.
"Baiklah, nanti akan aku hubungi mereka."
Di luar kota Daisy dan Anwar sedang menikmati moment pacaran berdua. Mereka sudah menyelesaikan urusan pekerjaan hari ini. "Nggak nyangka ya, Mas. Kita bisa liburan seperti ini. Harusnya papa menugaskan kita ke Hawai sekalian," kata Daisy sambil terkekeh.
"Itu maumu," ledek Anwar.
"Mas, apa kamu serius sama aku?" tanya Daisy.
Anwar mencolek hidung mancung Daisy. "Tentu saja, tapi apa ini artinya kamu meminta aku menikahi kamu?" tebak Anwar. Daisy mengangguk malu-malu.
"Sepertinya aku belum siap," jawab Anwar. Mata Daisy langsung berkaca-kaca. Dia merasa kecewa dengan keputusan Anwar.
"Kenapa?"
"Aku takut orang tua kamu tidak merestui kita," jawab Anwar sambil mengingat sikap Devon beberapa waktu lalu ketika dia diperkenalkan sebagai kekasih Daisy.
"Apa kamu takut menghadapi Papa?" tanya Daisy. Anwar tak menjawab.
"Aku masih belum bisa memenuhi kriteria sebagai menantu ayahmu, Daisy."
Daisy yang merasa kecewa lalu pergi meninggalkan Anwar. Dia mengemasi barang-barangnya lalu memesan tiket malam itu juga. Anwar menyusul Daisy ke dalam kamarnya. "Daisy dengarkan aku!" Anwar menarik lengan gadis itu.
"Apa lagi? Kamu hanya seorang lelaki pengecut, Mas," ejek Daisy.
Anwar memejamkan matanya. "Ya, aku memang pengecut. Jadi apa yang kamu harapkan dari aku?"
Daisy menghempaskan tangan Anwar. "Setidaknya kamu harus berusaha, Mas. Kamu belum menghadap papa kenapa takut duluan?"
"Aku takut ditolak, sayang." Anwar menangkup kedua pipi Daisy. Mata sepasang kekasih itu saling bertemu. Dan entah sejak kapan mereka saling menempelkan bibir.
"Aku rasa aku tahu bagaimana agar papa merestui kita," ucap Daisy berbisik di telinga Anwar.
Apa yang terjadi selanjutnya? Wallahu a'lam 🤣
__ADS_1