
Hari ini Fara mulai masuk kuliah di hari pertama. Dia mengikuti OSPEK seperti mahasiswa baru lainnya. "Heh, kamu yang berambut panjang," tunjuk senior Fara.
Fara menunjuk dirinya sendiri. "Iya kamu. Lelet banget," gertak senior yang menunjuk Fara.
"Maju sini. Nyanyiin lagu anak kambing saya sambil memperagakan gerakannya," perintahnya pada Fara.
Mahasiswa baru lainnya tertawa. "Siapa yang suruh tertawa!" bentak salah seorang senior.
Mau tak mau Fara pun menuruti kemauan seniornya. Dia ditertawakan oleh mahasiswa lainnya. Tapi Fara bukan gadis yang mudah diremehkan. Dia melakukannya dengan cepat. Namun, seniornya sepertinya sengaja mengerjai Fara.
"Ulangi!"
"Tapi, Kak..."
"Kamu mau membantah? Pilih nyanyi atau lari keliling lapangan?" senior itu memberikan pilihan pada Fara.
"Lari," jawab Fara.
"Baik, keliling lapangan sebanyak dua puluh kali," perintahnya.
"Gila lu Re. Tuh anak bisa pingsan," tegur teman Tere.
"Salah siapa dia membantah saat diperintah," ucapnya dengan enteng.
"Apa lagi? Lari!" bentak Tere. Fara pun mulai berlari keliling lapangan.
Hari ini mungkin hari sial bagi Fara. Dia sedang menstruasi dan biasanya Fara akan mengalami anemia. "Cewek sialan, mereka sengaja mengerjai aku," gumam Fara sambil terengah-engah. Fara menunduk karena dia hampir saja kehabisan nafas.
"Masih sepuluh putaran lagi," teriak Tere.
Fara menatap tajam ke arah seniornya itu. "Dia itu belajar berhitung apa tidak sih? Orang udah pas dua puluh kali putaran," gerutu Fara dalam hati.
"Ayo!"
Mau tak mau Fara pun keliling lapangan tadi tapi baru sekali berputar dia tiba-tiba pingsan. Teman Tere pun panik. "Elo sih Re bikin masalah aja." Dia menyalahkan Tere.
"Alah paling dia pura-pura."
__ADS_1
Rendy tak sengaja melihat salah seorang temannya menggendong Fara. Dia pun terkejut ketika melihat Fara pingsan. Tak banyak berpikir Rendy pun mengikuti Fara.
"Dia kenapa?" tanya Rendy.
"Dia pingsan gegara dihukum berlari lapangan dua puluh kali," ungkap laki-laki yang menggendong Fara.
"Breng*sek kalian. Yang benar saja kalau kasih hukuman. Kalian sengaja membuat dia pingsan? Kalian ada dendam sama dia?" Darah Rendy mendidih ketika mendengar pengakuan laki-laki itu. Dia mencengkeram kerah baju laki-laki itu.
"Lo salah sasaran. Bukan gue yang menghukum dia."
"Siapa?" bentak Rendy.
"Teresia anak ekonomi," jawabnya. Rendy mengepalkan tangannya.
Dia melihat Fara masih dalam keadaan pingsan lalu dia meninggalkan Fara untuk sementara waktu dan mendatangi Tere.
"Mana yang namanya Tere." Rendy mendatangi para senior yang bertugas sebagai panitia OSPEK.
Beberapa orang menunjuk wanita berbaju hijau tersebut. Rendy langsung menampar Tere. "Apa apaan Lo tiba-tiba nampar gue?" bentak Tere tidak terima.
"Lo pantes ditampar karena Lo udah semena-mena. Kalau Lo niat ngerjain orang sampai dia sekarat tempat Lo bukan di sini. Lo harusnya jadi preman pasar." Rendy benar-benar mempermalukan Tere di depan teman-temannya.
"Dia izin pulang karena dia tidak bawa baju ganti. Bajunya kotor karena dia sedang datang bulan," ungkapnya. Rendy merasa lega mendengar Fara baik-baik saja.
Fara pulang dengan menggunakan taksi. Dia benar-benar lemas karena habis dihukum dua puluh kali putaran. "Aw badanku," keluhnya di dalam taksi. "Suamiku nggak boleh tahu kejadian hari ini. Bisa-bisa dia melarangku untuk kuliah."
Sesampainya di rumah, Fara langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin membersihkan diri sebelum suaminya pulang. Usai mandi Fara malah ketiduran di atas ranjang.
Tak lama kemudian Cello pulang dari kerja. Dia mencari keberadaan Fara. Sehari tak bisa menghubungi Fara membuat laki-laki itu rindu berat. "Sayang," panggilnya.
Cello menggelengkan kepala ketika dia melihat istrinya tidur meringkuk dia atas ranjang. "Sayang, bangun!"
Cello membangunkan Fara tapi gadis itu tak kunjung membuka mata. Akhirnya Cello usil dengan mencium bibir istrinya. Fara pun terlonjak kaget. "Mas sudah pulang?" tanya Fara.
"Baru saja," jawab Cello.
"Maaf, aku ketiduran. Akan aku siapkan air hangat untukmu," kata Fara seraya menggulung rambutnya ke atas. Cello memperhatikan leher jenjang istrinya sehingga hasratnya pun naik. Dia menarik tangan Fara hingga terduduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Mau ke mana? Sini dulu." Cello dengan usilnya menciumi leher Fara. Tapi Fara menolak.
"Aku sedang datang bulan, Mas." Ucapannya membuat Cello meluruhkan bahu.
"CK, kenapa harus sekarang sih," gerutu Cello. Fara hanya terkekeh. Dia masuk ke dalam kamar mandi lalu menyiapkan air panas untuk dia mandi.
"Mas ini handuknya." Fara memberikan handuk untuk suaminya.
"Terima kasih sayang. Ini hari ke berapa?" tanya Cello.
"Apa?" goda Fara padahal dia tahu maksud suaminya.
"Datang bulanmu, hari ke berapa sekarang?" Dia mengulangi pertanyaannya dengan kesal.
"Hari pertama," jawab Fara sambil terkekeh. Cello berjalan gontai ke kamar mandi.
Sedangkan Fara memesan makanan cepat saji untuk dirinya dan suaminya. Sambil menunggu suaminya selesai Fara menelepon Anwar.
"Mas Anwar apa sudah dapat pembeli rumah saya?" tanya Fara dengan sopan.
"Alhamdulillah sudah, Bu."
"Idih Mas Anwar saya geli kalau dipanggil Bu. Panggil Fara aja, kapan dia akan menempati rumah baru saya?"
"Mungkin besok baru akan saya atur jadwal ketemuannya. Biarkan dia melihat rumahnya secara langsung agar dia bisa menentukan harga yang pantas untuk rumah kamu."
"Baik, Mas tolong diatur ya. Saya masih sibuk kuliah," ucapnya sembari pamer.
"Iya yang sekarang jadi anak kuliahan. Selamat ya," kata Anwar melalui sambungan telepon.
"Makasih, Mas." Fara pun menutup teleponnya.
Cello baru saja selesai mandi. Dia tak melihat istrinya di kamar. Lalu usai berganti pakaian dia menyusul istrinya ke depan. "Sayang," panggil Cello.
"Aku di sini," jawab Fara sambil berteriak. Cello menghampiri istrinya. Ternyata dia sedang nonton drama kesukaannya di handphone.
"Mas sini deh. Aku lagi nunggu makanan," ucapnya sambil menepuk kursi di sebelahnya yang kosong tapi matanya masih fokus ke handphone.
__ADS_1
"Nonton apa sih sampai segitunya?" tanya Cello sambil mengintip apa yang ditonton oleh Fara. Cello tak sengaja menonton bagian adegan ketika pasangan di drama tersebut sedang berciuman.
"Nah ketahuan ya kamu pinter ciuman dari mana?" ledek Cello.