
Aku udah crazy up nih, jangan lupa untuk kasih hadiahnya ya 🙏
...***...
Anwar dan Daisy melewati malam panas berdua di hotel Daisy menginap. "Mas, aku takut setelah ini aku akan hamil," kata Daisy.
"Kalau sudah begini mau tidak mau aku akan menikahi kamu dalam waktu dekat."
Daisy sangat senang mendengar ucapan Anwar. "Terima kasih, Mas. Jangan takut menghadapi papa. Kita akan hadapi sama-sama." Anwar mengangguk setuju. Tapi sesungguhnya di hati Anwar merasa tidak yakin.
Drrt drrt
Daisy meraih ponselnya. "Dari papa," kata Daisy.
"Hallo, Pa."
"Bagaimana urusan di sana?" tanya Devon.
"Aman, Pa. Aku dan Mas Anwar sudah menyelesaikan urusan di sini."
"Kenapa kamu nggak langsung pulang? Mana Anwar?" tanya Devon.
"Mas Anwar ada di kamarnya. Aku pulang besok, Pa. Hari ini tidak dapat tiket penerbangan," kata Daisy beralasan. Dia gugup menjawabnya.
Setelah itu Devon menutup teleponnya. "Fhuf, syukurlah. Aku takut ketahuan papa," ucap Daisy.
"Besok kita ambil penerbangan pagi," kata Anwar memutuskan.
***
"Bagaimana, Pa? Kapan Daisy pulang?" tanya Mama Cindy.
__ADS_1
"Besok, Ma. Malam ini dia nggak dapat tiket," jawab Devon.
"Oh iya, apa kabar Lisa ya Pa?" tanya Mama Cindy. Dia tiba-tiba mengingat wanita itu.
"Dia sudah bercerai dengan suaminya," jawab Devon.
Mama Cindy mengerutkan keningnya. "Kapan papa bertemu dengannya?"
"Beberapa waktu lalu. Dia menghubungiku dan mengajak ketemuan di suatu tempat. Tapi mama jangan salah paham dulu. Dia hanya ingin berterima kasih pada papa karena selama ini telah menolongnya. Itu saja," terang Devon. Dia berharap Cindy tidak marah karena dia dan Lisa bertemu tanpa sepengetahuannya.
"Lalu dia tinggal di mana sekarang? Jangan bilang papa tidak tahu?"
"Dia tinggal di panti asuhan. Katanya dia ingin mengabdikan sisa hidupnya untuk mengurus anak-anak panti asuhan. Kamu ingat bukan kalau dia tidak bisa punya anak karena rahimnya diangkat?"
Cindy mengangguk. "Aku sebenarnya kasihan tapi aku juga tidak mau dia kembali ke kehidupanku. Aku trauma karena dia pernah menjadi duri dalam pernikahan kita."
Devon menggenggam tangan Cindy. "Maaf, aku telah berbuat salah padamu," kata Devon dengan lembut. Mama Cindy tentu luluh mendengar pengakuan Devon.
"Aku beruntung memiliki istri seperti kamu, Ma," puji Devon.
"Ehem."
Cello berdehem ketika dia dan Fara ingin bergabung. Devon dan istrinya menoleh. "Kami boleh ikut gabung nggak?" tanya Cello.
"Tentu saja, Bang."
Fara memeluk ibu mertuanya. "Aku bangga punya mertua seperti kalian yang masih terlihat mesra di usia pernikahan yang sudah lama. Apa rahasianya, Pa, Ma?" tanya Fara seraya menatap Devon dan Cindy bergantian.
"Tentu saja karena kita saling percaya," jawab Mama Cindy.
"Malam ini kita mau balik ke apartemen, Ma. Besok Fara harus kembali kuliah," kata Cello memberi tahu.
__ADS_1
"Baiklah, tapi ingat ya Fara jangan terlalu capek. Cello sebaiknya kamu cari asisten rumah tangga supaya Fara tidak mengerjakan semuanya sendirian." Mama Cindy memberi saran pada putranya itu.
"Iya, Ma. Besok aku akan minta tolong Anwar untuk mencarikan asisten rumah tangga."
"Kamu kapan tidak bergantung pada dia?" ledek Devon. Cello menggedikkan bahu.
"Mungkin kalau dia jari menikah dengan Daisy," kata Cello keceplosan. Devon langsung memberikan tatapan tajam pada putranya.
"Aku rasa ada orang lain yang lebih pantas dari dia." Devon beranjak dari tempat duduknya kemudian dia masuk ke dalam kamar.
"Apa mama tahu kenapa papa begitu membenci Anwar?" tanya Cello.
"Mungkin papa hanya ingin yang terbaik untuk Daisy," sahut Mama Cindy.
"Aku harap papa tidak memandang materi sebagai mana dia memperlakukan aku, Ma." Fara juga merasa kalau dirinya dulu bukan apa-apa tapi Devon mau menerima dirinya.
"Kalau begitu kami pulang dulu, Ma," pamit Cello.
Mama Cindy mengantar anak dan menantunya hingga ke depan rumah. Setelah itu, Mama Cindy masuk ke dalam kamarnya.
"Pa, mama mau bicara."
"Ada apa, Ma?" tanya Mama Cindy.
"Apa betul papa tidak suka dengan hubungan Anwar dan Daisy? Kenapa?" Mama Cindy ingin tahu alasan suaminya tak menyukai Anwar.
"Aku hanya ingin Daisy mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Anwar."
"Apa papa berniat menjodohkan Daisy lagi? Aku takut dia tersakiti lagi, Pa. Seperti kejadian waktu itu."
"Pa, cobalah menerima apa yang menjadi pilihan Daisy. Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kita tidak berhak mengatur hidup Daisy karena dia yang menjalani hidup."
__ADS_1
Papa Devon merenungkan ucapan sang istri. Dia memang menyesal ketika Devon gagal menjodohkan Daisy dengan orang pilihannya. Jadi apakah Papa Devon akan mengulangi perbuatannya?