
Tak ada tanggapan dari Devon ketika Daisy mengenalkan Anwar sebagai pacar barunya. Anwar merasa Devon tidak menyetujui hubungan mereka. Itulah kenapa sampai saat ini dia ragu untuk menyatakan cinta pada Daisy. Padahal dia sudah lama menyukai adik Cello itu.
"Anwar, ayo ikut gabung sama yang lain," ajak Mama Cindy. Anwar tersenyum pada wanita yang merupakan ibu dari kekasihnya.
Fara menyenggol bahu Daisy. "Cie, yang udah nggak jomblo," ledek Fara. Daisy tersenyum malu-malu.
Usai makan-makan, Fara merasa lelah dia minta pulang. "Ma, istriku merasa lelah. Kami akan pulang ke apartemen," pamit Cello.
"Kenapa nggak menginap di sini saja?" tanya Mama Cindy.
"Apa boleh, Mas?" Fara meminta pendapat suaminya. Cello mengangguk setuju. Dia merasa kasian kalau harus balik sementara malam sebentar lagi larut.
"Pak Devon, Bu Cindy, saya pamit," ucap Anwar.
"Hati-hati, Nak Anwar," pesan Mama Cindy pada kekasih putrinya itu.
Anwar mengangguk hormat pada Devon. Tapi Devon tidak merespon. Setelah itu Daisy mengantar Anwar hingga ke depan. "Terima kasih untuk malam ini, Mas. Jangan ambil hati ya sikap papaku." Daisy merasa tidak enak pada Anwar.
Anwar tersenyum. "Tidak apa-apa, sayang." Wajah Daisy bersemu merah ketika mendengar Anwar memanggil dia dengan sebutan sayang.
"Aku pulang dulu," pamit Anwar. Daisy mengangguk.
__ADS_1
"Hati-hati," pesan Daisy sambil melambaikan tangan.
Ketika di perjalanan pulang, Anwar melihat seorang wanita yang kecopetan. Kemudian Anwar pun mengejar copet itu dengan mobilnya. Dia tiba-tiba mengerem mobil secara mendadak untuk menghadang langkah copet itu.
Copet itu pun terjatuh karena berhenti mendadak. "Sialan!" umpat laki-laki yang membawa tas rampasan tersebut.
"Kembalikan tas wanita itu!" sentak Anwar pada laki-laki yang memakai topi tersebut.
Laki-laki itu malah tersenyum sinis. "Coba saja kalau bisa," tantang pria asing itu.
Laki-laki itu mencoba memukul Anwar. Namun, Anwar berhasil menghindar. Kemudian dia menarik tangan copet tersebut dan memutar ke belakang punggungnya. "Aw, sakit," rintihnya ketika tangannya ditarik Anwar ke belakang.
"Serahkan tas itu!"
Rupanya wanita yang kecopetan tadi berlari untuk mengejar orang yang membawa lati tasnya. Anwar mengambil tas itu kemudian menyerahkan pada sang pemilik.
"Terima kasih banyak, Nak," ucap perempuan yang tak lain adalah Lisa.
Anwar tersenyum. "Sama-sama, Bu. Apa mau saya antar pulang? Saya bawa mobil." Anwar menawarkan tumpangan pada Lisa.
Lisa menolak dengan alasan rumahnya sudah dekat. "Baiklah, kalau begitu saya permisi. Lain kali tolong lebih hati-hati ketika berada di jalan," pesan Anwar sebelum memasuki mobilnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Anwar melihat keadaan ibunya. Dia hanya cemas jika sesekali penyakitnya kambuh. Tiba-tiba Anwar teringat pada wanita yang telah ditolong. Sekilas usianya tak jauh dari usia sang ibu.
"Kenapa dia malam-malam berada di luar? Apa tidak ada anak atau suami yang bisa mengantar?" gumam Anwar ketika memikirkan Lisa. Dia hanya bersimpati padanya karena kejadian tadi.
Andai saja Anwar tidak menolong Lisa maka mungkin saja dia tidak bisa pulang karena audah dapat dipastikan dia tidak memiliki uang untuk membayar ongkos kendaraan. Selain itu dia pasti kebingungan karena tidak ada yang bisa dihubungi jika dia kehilangan ponsel, pikir Anwar.
Keesokan harinya, Anwar berangkat ke kantor seperti biasa. Ketika berhenti di lampu merah, dia melihat mobil yang dia kenal. "Itu bukannya mobil Pak Devon?"
Namun, sesaat keningnya berkerut. Dia melihat Devin tak sendirian. "Wanita itu sepertinya bukan Bu Cindy," gumam Anwar.
Sebenarnya dia ingin mengikuti ke mana Devon membawa wanita itu. Tapi sebentar lagi dia harus mengatur meeting pagi ini. Maka Anwar membiarkan mobil Devon berlalu begitu saja.
Setelah sampai di area parkir, Anwar berniat menghubungi Daisy. "Hallo, Daisy."
"Ya, Mas. Ada apa menelepon pagi sekali? Apa kamu kangen sama aku?" tanya Daisy pada kekasihnya.
"Bukan, apakah Pak Devon ada di kantor?" tanya Anwar.
"Ck, kenapa? Kamu kok malah nanyain papa sih? Kan aku yang kangen. Kamu nggak kangen juga?" rengek Daisy.
"Maaf, sayang. Aku hanya tanya apakah Pak Devon sudah datang ke kantor?"
__ADS_1
Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Anwar, Daisy pun kembali luluh. "Belum, Mas. Tadi papa berangkat pagi-pagi sekali tapi dia nggak bilang mau pergi ke mana," jawab Daisy. Anwar pun semakin curiga.
...♥️♥️♥️...