MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 83


__ADS_3

Setelah beberapa hari tidak menemukan Cio, Fara mulai curiga. "Mas, coba kamu ingat-ingat lagi? Apa kamu punya musuh?" tanya Fara pada suaminya.


"Musuhku banyak sayang. Mereka saingan bisnisku. Tapi aku kira mereka tidak akan berbuat serendah ini pada saingan bisnisnya yang lain. Lalu kamu sendiri apa kamu punya musuh?" tanya balik Cello.


Fara menggelengkan kepalanya. "Aku hanya punya keluarga yang jahat. Keluarga yang telah menyiksaku." Wajah Fara berubah sendu mengingat kejadian pahit dalam hidupnya.


"Tunggu, Mas. Apa Miranda sudah keluar?" tanya Fara. Ini sudah beberapa tahun sejak dia dipenjara. Cello menggedikkan bahu.


"Apa perlu aku cari tahu? Semua kemungkinan bisa terjadi," jawab Cello.


"Aku ikut ke rutan." Fara menyambar tas miliknya. Kemudian mereka menuju ke rutan tempat Miranda dipenjara.


"Pak boleh kami tanya?" Cello mengajak penjaga rutan untuk bicara.


"Silakan!"


"Apa ada napi bernama Miranda di sini?" tanya Cello.

__ADS_1


"Ow, Bu Miranda sudah keluar beberapa hari yang lalu? Apa kalian keluarganya?" tanya penjaga yang bertugas.


"Bukan, Pak. Kami tidak punya keluarga seperti dia," elak Fara. Dia pikir untuk apa mengakui Miranda keluarganya kalau dulu Fara tidak pernah diperlakukan seperti keluarga.


"Ayo Mas kita pergi dari sini. Kita sudah tahu jawabannya. Jika benar Miranda yang menculik anakku, aku akan pastikan dia tidak bisa keluar dari penjara."


Cello bergidik ngeri melihat sikap dingin istrinya itu. Dia berjalan di belakang Fara. Cello bisa melihat kilatan petir di mata Fara. Dia sangat marah karena Cio tak juga ditemukan.


"Cari tahu alamat Riska! Dia pasti tinggal bersama anak itu." Cello hanya mengangguk mendengar perintah sang istri yang berubah mode sedingin es itu.


"Miranda keluar kamu!" teriak Fara ketika berada di depan rumah Riska.


Ucapan Fara yang lantang membuat tetangga sekitar berkerumun. "Bu tidak ada yang namanya Miranda di rumah itu," seru salah seorang warga.


"Tidak saya tahu dia bersembunyi. Miranda keluar!"


Tak lama kemudian Riska yang keluar dari rumah itu. "Fara untuk apa kamu ke sini?" tanya Riska yang pura-pura tidak tahu alasan Fara mengunjungi rumahnya.

__ADS_1


"Riska di mana anakku? Cio, Cio?" Fara ingin menerobos masuk tapi Riska berusaha mendorongnya. Untung saja Cello selalu siaga sehingga dia bisa menangkap tubuh sang istri.


"Sayang, hati-hati jangan sampai mencelakakan anak kita," gumam Cello di depan istrinya.


"Mas, kita harus selamatkan Cio."


Karena penasaran salah seorang warga memberanikan diri untuk bertanya. "Bu sebenarnya apa masalah ibu dengan Mbak Riska?"


"Mereka menyembunyikan anak saya," jawab Fara terus terang. Dia pikir warga akan bisa membantu dirinya menemukan Cio.


"Bohong!" Elak Riska. Sebenarnya yang dia takutkan akan terjadi akhirnya terjadi juga. Riska keluar keringat dingin. Setelah itu, bibirnya memucat.


"Bagaimana kalau kita bantu geledah?" Salah seorang warga memberikan usulan.


Fara dan Cello merasa senang karena semua orang peduli pada nasibnya yang sedih karena kehilangan anak. Namun, saat mereka akan menerobos masuk Riska tiba-tiba pingsan di ambang pintu.


"Riska sadar, Riska!"

__ADS_1


__ADS_2