MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 14


__ADS_3

Hari ini juga Cello mengajak Fara pulang ke apartemen. Ketika mereka baru turun dari mobil, Miranda dan Riska mendekat. "Fara," panggil Miranda, sang ibu tiri.


Fara amat terkejut. Bagaimana bisa ibu tirinya yang kejam itu menemukan dia. Padahal selama ini tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.


"Fara kamu apa kabar, Nak?" tanya Miranda yang berpura-pura baik di depan Cello. Dia menduga kalau Cello adalah kekasih Fara yang memberikan tempat tinggal selama ini.


Cello bertanya pada Fara dalam diam. "Dia orang yang selalu memperlakukan aku dengan tidak layak. Mengusirku dari rumah dan membuatku dikejar rentenir," jawab Fara dengan berapi-api.


Masih jelas di ingatannya bagaimana Miranda memperlakukan Fara selama ini. Cello tidak bertanya lebih. Fara pernah bercerita kalau dirinya hanya tinggal dengan ibu tiri sedangkan orang tuanya sudah meninggal. Cello menduga wanita yang menghampiri istrinya itu adalah ibu tiri Fara.


Fara menepis tangan Miranda. "Untuk apa anda ke sini?" tanya Fara dengan ketus.


"Kamu tidak sopan pada ibu, padahal selama ini dia yang merawatmu," balas Riska, adik tirinya.


Fara tersenyum sinis. "Merawat? Merawat siapa? Aku? Apa kamu lupa bagaimana aku tidak bisa melanjutkan sekolahku gara-gara dia. Bagaimana aku harus mencari uang untuk membiayai pengobatan papa karena harta papa kalian gunakan untuk foya-foya?" Fara berkata dengan nada tinggi.


Matanya memerah mengisyaratkan jika dia sangat marah saat ini. Cello baru pertama kali melihat sikap Fara yang seperti itu.


Cello merangkul bahu Fara dan mengajak istrinya masuk. "Jangan hiraukan mereka!" Fara mengikuti langkah suaminya.


Sedangkan Miranda merasa kecewa karena dia tidak bisa mengambil hati Fara dan pasangannya.


Cello hanya diam ketika Fara menangis. Dia membiarkan istrinya menangis sepuasnya. "Kenapa dia harus muncul lagi di kehidupanku?" gumam Fara lirih.


Sesampainya di unit apartemen miliknya. Cello menyuruh istrinya duduk dan mengambilkan Fara segelas air. "Minumlah! Jangan terlalu sering menangis. Mukamu itu sudah jelek akan tambah jelek jika kamu menangis seperti itu," ejek Cello.


Fara melirik ke arah suaminya. "Jelek juga kamu mau nikah sama aku," ledeknya.

__ADS_1


"Itu karena aku terpaksa," jawab Cello.


"Kenapa dari sekian banyak wanita di dunia ini harus aku yang menikah denganmu?" tanya Fara tak mengerti.


"Jangan banyak bertingkah. Seharusnya kamu bersyukur saat aku memungutmu di jalan," ucap Cello dengan dingin.


"Cih, seolah aku yang meminta," gerutu Fara lirih.


Cello tak mau lagi berdebat dengan istrinya. Dia memilih memasuki kamar. Kemudian dia mendapatkan telepon dari Anwar. "Pak, wartawan sedang mencari anda. Apa anda ingin go publik? Apa perlu saya siapkan konferensi pers?" tanya Anwar meminta pendapat.


"Untuk apa? Artikel yang membuat foto pernikahanku sudah sangat jelas dan mereka bisa menyimpulkan sendiri. Aku malas mengahadapi wartawan itu. Kalau aku mau aku bisa memecat mereka satu per satu dengan meminta pada atasan mereka," ucap Cello dengan angkuh.


Ya, Cello memang terkenal sebagai pebisnis yang memiliki banyak kolega di berbagai bidang perusahaan. Dia sesukses ayahnya. Di usianya yang sangat muda Cello telah banyak membantu ayahnya mendapatkan investor besar.


Usai menutup telepon Cello keluar kamar. Dia melihat Fara sedang tiduran sambil nonton TV. "Ayo ikut aku keluar," perintah Cello pada gadis itu.


"Ikut saja, tapi pakai topi dan masker, aku tidak mau paparazi mengenalimu. Wartawan sedang memburuku di luar sana. Jadi kamu jangan sampai memperlihatkan wajahmu," kata Cello memberi peringatan.


Fara mengangguk cepat. Dia tidak punya topi tapi dia hanya memakai masker. "Aku belum beli topi," ucapnya dengan polos.


"Baiklah, nanti kita beli."


Cello berjalan lebih dulu. Fara mengekor di belakang suaminya. Dia senyum-senyum sendiri ketika mendapatkan ajakan dari suaminya. Saat berjalan Fara terus melihat ke arah tangan Cello. Ingin sekali dia meraih tangan itu dan menelusup ke jari-jari tangan suaminya.


Tapi apalah daya itu hanya mimpi. "Jangan terlalu berharap Fara," gumamnya lirih.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Di luar gedung apartemen, Rendy melihat kepergian Fara dengan laki-laki yang terus menempel padanya. "Sebenarnya apa hubungan kalian? Kenapa sedekat itu?" gumam Rendy yang merasa cemburu melihat Fara satu mobil dengan Cello.

__ADS_1


Sejak pertama kali bertemu dia sudah jatuh hati pada gadis berambut ikal nan panjang itu. Dia berhasil mencuri perhatian Rendy dengan tingkahnya yang polos. Mulai dari tidak bisa menggunakan lift sampai tak tahu cara memakai kartu kredit tanpa limit yang dia punya. Yang dia lihat sikap Fara tidka dibuat-buat sehingga Rendy jatuh cinta pada gadis itu.


Sayangnya Fara telah sah menjadi istri Cello. Hanya saja Rendy belum tahu.


Cello mengajak Fara berbelanja baju ke sebuah butik. Sayangnya ketika baru turun beberapa wartawan menghampiri keduanya. Mereka berebut mewawancarai Cello. Rupanya mereka menunggu kedatangan Cello. Entah tahu informasi dari mana yang jelas Cello seolah terjebak.


Lampu kamera dan banyaknya orang yang mendekat membuat Fara merasa takut. Cello yang tanggap langsung memeluk dirinya. Dia tidak membiarkan orang lain melihat wajah Fara.


Sedangkan Fara merasa seperti mimpi ketika suaminya memeluk dia seperti itu. Dia bisa mencium bau parfum badan yang dipakai suaminya.


Cello membawa Fara masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia melaju dengan kencang membelah kerumunan wartawan itu. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Cello pada Fara. Fara menggelengkan kepala.


Sepertinya tidak aman jika kita keluar seperti ini. Aku akan meminta Anwar membelikan baju untukmu. "Jangan, aku malu," tolak Fara. Dia tidak mungkin menyuruh Anwar membeli **********.


"Baiklah kalau begitu aku akan meminta Daisy untuk membelikan baju-baju untukmu," kata Cello selanjutnya.


"Em, itu lebih baik," jawab Fara.


Kemudian Cello mengajak Fara berhenti di sebuah restoran mewah. "Apakah kita akan aman jika kita makan di sini?" tanya Fara.


Cello sengaja mengajak Fara ke tempat makan biasa karena dia menduga para wartawan juga menunggunya di restoran-restoran mewah yang biasa dia kunjungi. "Aku belum tahu tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba makanan di sini."


Cello turun dari mobil lebih dulu. Kemudian Fara ikut turun. "Pesanlah apa saja yang ingin kamu makan!" perintah Cello pada Fara.


Fara pun tersenyum lebar mendapatkan tawaran makan sepuasnya dari sang suami. "Baiklah, hari ini adalah waktunya makan besar," ucapnya menyeringai licik.


♥️♥️♥️

__ADS_1



__ADS_2