MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 31


__ADS_3

Belum sampai menjawab pertanyaan Marshel, Fara keluar. "Hai, Marshel," sapa Fara.


"Hai, Kak," sapa Fara pada Ruby.


"Bagaimana keadaan kamu? Maaf aku baru sempat menjengukmu," tanya Ruby.


"Alhamdulillah aku sudah sehat, Kak," jawab Fara sambil tersenyum.


"Aku ikut senang kamu kembali lagi. Kamu tahu Cello seperti orang gila saat kamu koma," kata Ruby memberi tahu.


"Kak," protes Cello.


Fara terkekeh mendengarnya. "Aku tahu, Kak," jawabnya sambil menoleh pada Cello. Cello pun membalas senyum istri tercintanya. Ruby melihat antara Cello dan Fara sekarang seperti orang yang sedang dimabuk cinta. Dia pun mengulas senyum tipis.


"Tante bagaimana dengan adik yang ada di dalam perut Tante?" tanya Marshel. Sebelum menjawab pertanyaan Marchel, Fara melirik ke arah suaminya. Cello memejamkan mata seolah memberi kode.


"Sebenarnya waktu itu mama salah paham, Kak." Belum selesai Fara berbicara Ruby menyela.


"Jadi kamu tidak hamil?" tanya Ruby. Fara mengangguk.


"Waktu itu dokter mendiagnosa kalau Fara terkena gegar otak ringan ketika masuk rumah sakit pertama kali itu, gejalanya mual muntah. Tapi mama sudah mengambil kesimpulan sendiri," protes Cello.


Ruby menoyor kepala Cello. "Dan kamu terus-menerus bohongi mama?" bentak Ruby.


"Mau bagaimana lagi Fara yang mau." Cello berbalik menyalahkan Fara. Tapi apa yang dikatakan Cello tak sepenuhnya salah.

__ADS_1


"Benar, Kak. Aku kasihan sama mama. Dia mengharapkan cucu dari kami. Kami berharap juga bisa memberikannya. Tapi..." Fara melirik suaminya.


Cello pun menjadi gugup. "Jangan khawatir sayang. Nanti kita buat lebih sering," jawab Cello.


"Buat apa Om?" tanya Marshel yang menyimak obrolan mereka. Ruby pun memukuli lengan Cello karena laki-laki itu tidak bisa menjaga omongan di depan anaknya. Sedangkan Fara dan Marshel hanya terkekeh melihatnya.


Setelah kepulangan Ruby, Cello menggendong Fara secara tiba-tiba. "Eh mau ngapain?" tanya Fara yang kaget.


"Katanya mau buat anak?" goda Cello. Wajah Fara pun bersemu merah.


Cello menurunkan istrinya di atas ranjang. Cello mulai memberanikan diri untuk menyentuh istrinya lebih dulu. Fara memejamkan matanya saat tangan Cello yang lembut mengusap kedua pipinya.


Cello menangkap jemari Fara dan meletakkannya di atas bahu. Lalu kedua tangan Cello meraih pinggang wanita cantik di hadapannya itu. Cello memiringkan kepalanya. Kedekatan itu membuat bibir mereka saling menyatu. Sesaat kemudian Cello melepas pagutannya.


"Sudah siap?" tanyanya meminta izin.


Gadis itu merasa gugup karena ini untuk pertama kalinya. Jantungnya berdegup kencang. Dia memikirkan bagaimana jika rasanya menyakitkan seperti yang dibicarakannya banyak orang.


Cello berbalik kemudian mengunci pintu kamar mereka. Setelah itu ia mendekati istrinya yang sedang duduk bersandar di atas kasur. Fara mengernyit ketika mendapatkan sentuhan di pipinya. Hal itu membuat Cello tersenyum.


"Aku takut," ucap Fara dengan lirih.


"Pelan-pelan saja sayang," ucapnya untuk meyakinkan Fara.


Mereka mulai dengan menyatukan bibir hingga membuat Fara terbuai dan secara tidak sadar telah berada dalam kungkungan tubuh suaminya.

__ADS_1


Cello melepas kaos yang ada di badannya saat mengapit paha sang istri. Lalu mencondongkan diri pada wanita yang berbaring di hadapannya.


Cello tersenyum dan meraih tangan Fara agar menempel di dadanya yang polos. Seketika darah Cello berdesir ketika merasakan sentuhan lembut istri cantiknya.


Mereka belum berpengalaman, sedikit sentuhan saja bisa memicu gai*rah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Perlahan Cello melepas kancing baju yang dikenakan oleh Fara. Fara memejamkan mata saat pria yang ada di atasnya kini menenggelamkan wajahnya di leher. Hembusan nafas Cello yang terasa panas di lehernya membuatnya terbuai. Ada sensasi geli tapi begitu menyenangkan bagi wanita yang usianya belum genap dua puluh tahun itu.


Celo meninggalkan jejak di leher jenjang Fara hingga membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan l*ng*han yang keluar dari mulutnya. Serangan-serangan yang dilancarkan oleh suaminya sungguh membuatnya mabuk kepayang.


Fara mencengkeram apa saja yang dapat dijangkau oleh tangannya ketika Cello mulai bermain-main di atas perutnya yang rata. Kemudian berpindah ke punggung Fara yang mulus untuk membuka penutup pabrik su su yang seharusnya opening sudah lama. Fara sudah tidak bisa menahannya lagi hingga d*sah*n dan le*g*han lolos begitu saja dari bibirnya.


Tangan Cello mulai menjangkau dari sensitif milik istrinya. Kemudian membasahi bibirnya yang kering dengan lidah. Cello mendongak. "Kamu basah." Tak ayal Fara menjadi malu dibuatnya.


Cello kemudian melucuti bagian yang masih tertutupi lalu membuka pakaian yang masih dikenakan oleh Fara. Rasa mendekatkan tubuhnya dan menautkan jari jemarinya menyalurkan rasa aman pada sang istri.


"Yang pertama mungkin sakit tapi tahan sebentar ya, rileks saja jangan tegang, nanti kamu sakit," ucapnya saat akan melakukan penyatuan.


Cello menggenggam tangan Fara kemudian menciumnya. Dia pun melakukannya dengan hati-hati. Fara merintih kesakitan saat penyatuan berlangsung. Wanita itu menggigit bibirnya dan mencengkeram sprei untuk menyalurkan rasa sakitnya. Cello yang tidak tega menciumi leher dan bibirnya bergantian untuk pengalihan.


Sesaat kemudian Cello merasakan sensasi panas di sekujur tubuhnya. Dia benamkan wajahnya di ceruk leher sang istri dan memeluknya perlahan kemudian berkata "I love you."


Mendengar itu Fara mengangguk pelan. Wajahnya bersemu merah. Dia sempatkan mengusap peluh sang suami yang ada di keningnya. Fara pun tersenyum.


Cello menjatuhkan diri di samping sang istri kemudian menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan selimut. Dia tidur sambil memeluk istrinya. Fara menggenggam tangan suaminya lalu memejamkan matanya yang terasa berat. Semalaman ini dia hampir tidak tidur setelah melalui hal baru bersama orang yang mencintai dirinya.

__ADS_1


Malam pertama yang dilalui begitu manis meski tidak di hari pertama setelah mereka menikah. Keduanya terlihat saling menyayangi satu sama lain.


__ADS_2