MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 76


__ADS_3

"Ma, sebaiknya kita cari tahu kebenarannya dulu. Bisa saja wanita itu ingin mengadu domba Anwar dan Daisy."


Cello tidak percaya pada cerita ibunya mengenai Anwar. Dia sudah mengenal Anwar sejak lama jadi dia bisa menilai Anwar. "Aku percaya Anwar laki-laki yang baik, Ma."


"Tapi gadis itu menunjukkan bukti-buktinya Cello."


"Nanti aku akan cari tahu lagi, Ma." Cello ingin membuktikan kalau ucapannya tidak bohong.


"Terserah kamu saja."


Di kamar, Fara mencoba bicara pada Daisy. "Kata mama kamu sakit?" tanya Fara.


"Aku habis operasi pengangkatan penyakit, Kak," jawab Daisy.


"Kenapa tidak cerita pada kami?"


"Aku hanya tidak ingin membuat kalian sedih," jawab Daisy sambil tersenyum.


"Kita satu keluarga jari sudah sepantasnya berbagi kebahagiaan dan kesusahan," balas Fara.


"Baiklah, maafkan aku."


"Lalu sebenarnya ada masalah apa kamu dan Mas Anwar?" Fara penasaran.


"Dia selingkuh." Mata Daisy berkaca-kaca.


"Kamu punya bukti?" tanya Fara tidak yakin kalau Anwar selingkuh.


"Ketika aku menunggunya di rumah sakit aku menelepon dia. Tapi, bukan dia yang akan telepon melainkan seorang wanita. Belum lagi tadi pagi, Laras mengembalikan ponsel Mas Anwar. Berarti semalam dia bersama Laras."


"Kamu sudah tanya Mas Anwar?" tanya Fara.


"Aku tidak percaya lagi pada ucapannya."


"Seharusnya kamu mencari tahu dulu, Daisy. Bukankah selama ini Mas Anwar tidak pernah selingkuh? Kenapa dia tiba-tiba selingkuh?"


"Mungkin dia menginginkan anak?" tebak Daisy.


"Kalian hanya mis komunikasi saja. Bicarakan masalah dengan kepala dingin." Fara memberi nasehat pada Daisy karena dia juga pernah mengalami hal serupa.

__ADS_1


"Aku tidak mau menemui dia saat ini. Aku perlu waktu, Kak."


"Baiklah, selama kamu menyendiri pikirkan akibat jika kamu berpisah dengan Anwar. Ingat kebaikan yang pernah suamimu lakukan. Setidaknya itu akan membuat hatimu tergerak."


Daisy merenungkan ucapan Fara. "Apa aku terlalu cemburu pada suamiku?" tanya Daisy pada dirinya sendiri.


Di tempat lain, Anwar mendatangi Laras. Rupanya dia sedang tidak berada di kosannya. Anwar pun mencari keberadaan Laras di rumahnya. Lokasinya di depan rumah lama Anwar yang sekarang sudah tidak ditempati.


"Laras, keluar kamu!" teriak Anwar dari luar rumah.


"Anwar, kamu akhirnya datang juga." Ayah Laras menyambut kedatangan laki-laki itu dengan tidak ramah.


"Mana Laras?" Anwar pun tidak bersikap ramah pada orang tua Laras.


"Apa maksud kedatanganmu adalah untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu?" tanya Ayah Laras.


"Perbuatan apa?" Anwar menjadi bingung.


"Jangan bohong kamu Anwar. Laras telah menceritakan pada kami kalau kamu telah merenggut kesuciannya secara paksa."


"Dasar playing victim! Aku tidak menyangka jika Laras tak lebih dari serigala berbulu domba."


"Jaga ucapan kamu, Anwar!" bentak Ayah Laras.


"Aku mengatakan apa adanya, Mas." Laras pura-pura menangis di depan orang tuanya. Anwar semakin sulit menghadapi situasinya.


"Kamu benar-benar wanita jahat Laras. Ku pikir selama ini kamu baik dan tulus ternyata kamu ambisius."


"Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Nikahi anakku karena aku tidak mau keluargaku menanggung aib," perintah Ayah Laras pada Anwar.


"Jangan bermimpi." Anwar masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan keluarga sialan itu.


"Breng*sek. Ternyata dia wanita licik." Anwar memukul kendali setirnya.


Sesaat kemudian dia menerima telepon dari Cello. "Kebetulan sekali aku butuh bantuanmu!"


"Aku tahu," jawab Cello dari seberang sana.


"Aku akan jelaskan padamu di rumah."

__ADS_1


"Baiklah, datanglah ke rumahku!" Anwar pun mengakhiri panggilan. Dia akan menuju ke rumah Cello.


"Ceritakan padaku sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu!" desak Cello pada adik iparnya itu.


"Aku memang mabuk sampai Laras membawaku ke kosannya. Tapi ketika di sana aku sadar kalau dia ingin menjebakku. Maka aku pulang ke rumah berniat ganti baju tapi aku malah ketiduran."


"Jadi ponsel kamu jatuh lalu Laras yang menemukannya?" tanya Cello memastikan.


"Kamu benar. Aku berniat untuk memintanya menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada Daisy tapi dia malah memfitnahku di depan keluarganya."


"Satu-satunya cara membuktikan kalau kalian tidak berbuat apa-apa adalah dengan memeriksa Laras," usul Cello.


"Maksud kamu kita periksakan dia ke dokter?" Anwar menimpali.


"Tepat sekali."


"Tapi dia bisa saja memanipulasi hasil tesnya karena dia bekerja di rumah sakit," kata Anwar.


"Yang harus kamu lakukan adalah menjebak dia. Pura-puralah kamu mau menikahi dia setelah itu bujuk agar dia mau diajak ke dokter."


"Aku paham. Aku sudah memikirkan itu." Anwar setuju dengan usulan Cello.


Keesokan harinya, Anwar mendatangi Laras di tempat kerjanya. "Laras," panggil Anwar.


"Mas, ada apa kemari? Apa kamu masih marah dengan kejadian kemaren?"


"Mari kita bicara sebentar." Anwar mengajak Laras duduk.


"Apakah kamu benar-benar ingin menikah denganku sehingga kamu berbohong di depan orang tuamu?" tanya Anwar. Wanita itu mengangguk pelan.


"Maafkan aku, Mas. Ini satu-satunya cara agar aku bisa menikah denganmu," batin Laras.


"Baiklah, demi membersikan nama baikku aku mau menikahi kamu. Tapi dengan satu syarat."


Laras mengulas senyum lebar. "Apa itu, Mas? Katakan!" Dia sudah tidak sabar mendengar syarat yang diajukan oleh Anwar.


"Aku ingin kita segera punya anak. Maka aku ingin kamu memeriksakan kesuburanmu," bujuk Anwar. Dia berharap Laras menyetujuinya.


"Aku subur, Mas. Kita hanya perlu membuktikannya secara langsung."

__ADS_1


"Maaf Laras. Aku sudah menunggu tujuh tahun untuk memiliki keturunan. Aku tidak mau lebih lama untuk memiliki keturunan."


Setelah mempertimbangkan ucapan Anwar, Laras pun setuju. Anwar mengulas senyum tipis. "Kamu masuk jebakanku, Laras."


__ADS_2