MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Para pengganggu


__ADS_3

"Mau cari siapa?" tanya wanita cantik itu. Daisy mengerutkan kening.


"Kamu siapa?" Dia malah bertanya balik. Daisy merasa cemburu ada seorang wanita yang berada di dalam rumah Anwar.


Belum sempat gadis itu menjawab Anwar keluar dari dalam kamar. "Daisy, kamu datang sama siapa?" tanya Anwar.


"Mas, aku datang sendiri mau jenguk ibu kamu," jawabnya dengan senyum lebar. Daisy menyerahkan buah tangan yang dia bawa bawa Anwar.


"Terima kasih. Seharusnya tidak perlu bawa apa-apa. Mari silakan masuk. Maaf kalau rumah aku berantakan," ucap Anwar merasa tidak enak kedatangan adik bosnya.


"Nggak apa-apa."


"Mas, aku buatkan teh dulu untuk tamu kamu," sela Laras. Anwar mengangguk.


"Hish, sok baik banget sih. Carmuk banget jadi cewek," umpat Daisy dalam hatinya.


"Bagaimana keadaan ibu kamu?"


"Sudah mendingan. Kamu tahu dari Abang kamu ya kalau ibuku sakit?" Daisy mengangguk.


"Abang sama kak Fara belum sempat jenguk ibu kamu jadi dia mengirimku ke sini." Daisy berbohong. Dia gengsi kalau dia mengatakan jujur bahwa dia yang punya inisiatif untuk menjenguk ibunya Anwar.


"Iya, nggak apa-apa. Aku tahu Cello orang sibuk. Fara juga sibuk kuliah sekarang."


"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Daisy.


"Mas ini minumnya," sela Laras. Daisy memperhatikan wajah gadis yang dia kira usianya di bawahnya sedikit.


"Masih muda kulitnya masih kenceng dan terlihat dirawat dengan baik," gumam Daisy dalam hati.


Ada rasa tidak nyaman kala gadis yang belum diketahui namanya itu ikut nimbrung di antara dia dan Anwar.


"Daisy kamu lihat apa?" tanya Anwar.

__ADS_1


"Oh nggak apa-apa. Aku harus pulang maaf hanya mampir sebentar. Papa sudah pesan kalau jam makan siang aku harus ada di kantor," bohongnya.


Daisy tak tahan jika rasa cemburunya terus dipendam. Dia lebih baik menghindar agar tidak ada yang kena marahnya. Daisy tipe wanita yang sulit mengontrol emosi.


Untuk meredam emosinya, Daisy berniat membeli es krim di minimarket. Dia biasa melakukan itu jika sedang marah. Emosi Daisy akan mereda setelah makan es krim banyak-banyak.


Sayangnya ketika dia akan membayar es krim tersebut di kasir, Daisy malah bertemu dengan Laura secara tak sengaja.


"Ini dia nih, gadis manja yang bikin aku kehilangan pekerjaan," gumam Laura di depan Daisy.


"Apa maksud kamu?" tanya Daisy tak mengerti.


"Gara-gara kamu ngadu ke orang tua kamu, aku jadi dipecat sama atasanku," jawab Laura.


"Kamu memang salah kenapa tidak mengakuinya?" balas Daisy tak terima.


"Heh gadis manja. Kamu yang jadi pelakor kenapa aku yang harus disalahkan?"


"Hello, pelakor teriak pelakor. Aku dan Arjuna resmi bertunangan waktu itu dan gara-gara kamu aku putus sama dia. Apa kamu belum puas?"


"Bu, maaf jangan berkelahi di sini," tegur salah seorang pegawai mini market tersebut.


Daisy dan Laura sama-sama keluar. Daisy tak jadi membeli es krim karena dia terlanjur malu. Ketika Daisy akan menuju ke mobilnya, Laura menarik lengan Daisy. "Tunggu! Aku belum selesai."


"Apa lagi?" sentak Daisy.


Plak


Laura memberikan satu tamparan ke pipi Daisy. Daisy memegangi pipinya yang terasa panas. Daisy ingin membalas tapi dia melihat orang lain memperhatikan mereka. Akhirnya dia pun berpura-pura teraniaya.


"Ah, kenapa kamu menamparku? Apa belum cukup perlakuanmu selama ini padaku?" Daisy menangis berderai air mata.


Seorang ibu bersimpati pada Daisy. "Kenapa mbak?" tanya ibu itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya sedih karena suami saya menikah lagi dengan perempuan ini. Mereka menumpang di rumah saya tapi tidak pernah sekalipun dia berbuat baik pada saya," bohongnya.


"Ya ampun, mbak kalau mau jari pelakor sadar diri dong. Jangan suka main kasar. Kamu udah diizinkan tinggal satu atap malah menganiaya istri pertama suami kamu. Bagaimana kalau suami kamu tahu?" omel ibu-ibu itu.


Laura mengepalkan tangannya. Setelah itu dia memilih pergi dari pada bertambah malu. "Awas kamu!" ancamnya pada Daisy. Sedangkan Daisy yang merasa menang jadi tersenyum tipis.


"Terima kasih banyak, Bu," ucap Daisy pada ibu-ibu itu.


"Iya, sama-sama mbak. Saya kagum saya mbak. Bisa-bisanya terima saat dimadu suaminya."


Daisy menahan tawa. "Oh, tidak apa-apa Bu. Saya masih cinta sama suami saya," jawabnya enteng. "Kalau begitu saya permisi," pamitnya.


Daisy pun meninggalkan parkiran mobil tersebut dengan perasaan puas setelah mengerjai Laura.


Di tempat lain, Tere menghampiri kakaknya di tempat pemotretan. Mitta bekerja sebagai model di sebuah majalah fashion yang terkenal di negeri ini.


"Tumben ke sini ada apa?" tanya Mitta pada adiknya.


"Kakak harus lihat ini." Tere menunjukkan sebuah video pada Mitta.


"Ini kan Fara istrinya Cello."


"Ternyata kalian memang saling kenal," kata Tere.


"Iya, dia yang merebut Cello dariku. Cello lebih memilih gadis miskin itu ketimbang aku yang sempurna ini," tutur Mitta membanggakan dirinya sendiri.


"Sekarang kakak bisa balas dendam. Tunjukkan video ini pada suaminya. Aku yakin dia akan terkejut dan langsung menceraikan gadis sialan itu," kata Tere menggebu-gebu.


"Kamu kenal dia di mana?" tanya Mitta penasaran.


"Dia kuliah di kampusku juga. Tapi aku tidak suka padanya. Dia juniorku yang suka melawan," ungkap Tere. Mitta tersenyum lebar.


"Aku akan datang ke kantor Cello sore ini juga. Dan aku pastikan Cello akan meninggalkan dia setelah melihat video ini."

__ADS_1


Apakah Mitta berhasil memprovokasi Cello agar menceraikan Fara hanya karena video itu?


__ADS_2