
Akhir-akhir ini berkembang rumor yang menyebar di komplek perumahan Daisy. Namun, Daisy belum tahu kenapa tetangganya menatap sinis pada dia dan suaminya.
Pagi ini Daisy dan Anwar menaiki mobil menuju ke rumah Fara. Ketika berpapasan dengan tetangganya dia mengangguk sopan. Namun, balasan yang dia dapat adalah sebuah cibiran dari ibu-ibu yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggalnya.
"Aku merasa ada yang aneh dengan mereka akhir-akhir ini, Mas," ucap Daisy.
"Mungkin hanya perasaan kamu saja, Yang," balas Anwar.
"Nanti sebelum ke rumah Abang kita mampir beli buah-buahan dulu ya Mas." Anwar melirik sekilas lalu tersenyum.
Saat berada di toko buah, seorang wanita paruh baya yang mengenal Daisy menegurnya. "Mbak, kamu sudah dengar kabar tentang suami kamu?" Ibu itu melirik sekilas ke arah Anwar yang tidak ikut turun.
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Daisy.
"Apa betul Mas Anwar pernah berniat menduakan Mbak Daisy sebelum akhirnya Mbak Daisy hamil?"
"Astaghfirullah, siapa yang menyebarkan fitnah itu?" tanya Daisy yang terkejut. Kini dia tahu kenapa orang-orang memandang sinis pada keluarganya.
"Saya tahunya dari Bu Anggi. Coba nanti tanya sama dia? Dia kan suka bergosip."
"Baik, terima kasih sudah diberi tahu. Saya duluan." Daisy buru-buru pergi meninggalkan wanita itu.
Daisy berniat menyelidiki hal itu usai pulang dari rumah kakaknya. Anwar tidak ikut turun ketika mobilnya sampai di depan rumah Cello. "Aku berangkat ya. Nanti pulangnya naik taksi saja," pesan Anwar pada sang istri. Daisy melambaikan tangan pada suaminya.
"Assalamualaikum." Daisy memberi salam sebelum masuk ke rumah kakak iparnya.
"Waalaikumsalam." Rupanya yang menyambut dirinya adalah asisten rumah tangga Fara yang baru.
"Di mana Kak Fara?"
"Ada di kamar anaknya, Bu. Mari saya antar," ucap asisten rumah tangga itu dengan sopan. Daisy memberikan bingkisan yang dia bawa pada wanita itu.
"Kak," panggil Daisy bersemangat.
__ADS_1
"Ssst, jangan berisik!" Fara berbisik saat mengatakan hal itu.
Anak bayinya baru saja tertidur. Dia meletakkan bayi mungil itu di dalam box bayi. "Dia lucu banget," puji Daisy.
"Iya, nanti kamu juga akan melahirkan anak yang sama lucunya dengan Shaka," kata Fara seraya menatap wajah bayinya yang tertidur pulas.
"Jadi namanya Shaka?" tanya Daisy memastikan. Fara menangguk.
"Abangnya Arcio adiknya Arshaka bagus bukan? Kamu juga harus memikirkan nama yang bagus untuk anakmu nanti. Dengar-dengar perempuan ya menurut hasil USG?" tanya Fara balik. Daisy mengangguk malu-malu.
"Aku juga tidak sabar menyambut keponakanku yang cantik," imbuh Fara.
"Oh iya. Aku tidak bisa lama-lama karena aku ada urusan," kata Daisy berpamitan.
"Ke mana?" tanya Fara curiga.
"Janjian makan sama teman," jawabnya berbohong. Setelah itu dia memesan taksi. Daisy tidak pergi ke mana-mana melainkan kembali ke rumah.
Ketika dia memasuki komplek perumahan tempat tinggalnya, Daisy langsung berhenti di depan rumah Bu Anggi. Daisy mengetuk pintu rumah Bu Anggi.
Daisy melangkah tanpa ragu mendekati Bu Anggi. "Katakan pada saya, siapa yang menyebar fitnah dan rumor yang berkembang di komplek perumahan ini?" cecar Daisy to the point.
"Kok tanya saya?" jawabnya ketus.
"Saya bisa tuntut Bu Anggi atas dasar pencemaran nama baik karena saya punya bukti kalau ibu orang pertama yang menyebar luaskan rumor tidak benar itu," ancam Daisy.
Bu Aggi ketakutan dia pun mengatakan yang sebenernya pada Daisy. "Lain kali kalau tidak tahu duduk permasalahan seseorang jangan suka ikut campur!" sarkas Daisy lalu meninggalkan rumah Bu Anggi.
"Rena, apakah kamu yang menyebar rumor itu?" Daisy hanya menebak tapi tebakannya itu tepat sekali. Seingatnya tidak ada orang yang membuat masalah selain Rena akhir-akhir ini.
"Sebenernya apa motif kamu?" gumam Daisy penasaran. Lalu dia menceritakan hal itu pada suaminya. Anwar pun tak tinggal diam. Dia menyelediki Rena berdasarkan foto dan informasi dari sang istri.
"Maafkan aku sayang. Rupanya akulah sumber masalah ini. Rena adalah saudara sepupu Laras," ucap Anwar memberi tahu.
__ADS_1
"Bu Anggi telah menceritakan semua. Dia bilang Laras depresi. Mas apa kamu tidak sebaiknya menjenguk Laras? Bukannya apa-apa, aku hanya merasa kasian padanya," pinta Daisy pada sang suami.
"Baiklah. Semoga apa yang aku lakukan bisa menyelesaikan masalah. Aku juga tidak mau menambah musuh." Daisy mengangguk setuju.
Keesokan harinya, Daisy mengunjungi rumah Rena. Rena terkejut ketika melihat Daisy dan suaminya berdiri di depan pintu. "Mau apa kalian?" tanyanya dengan nada sedikit membentak.
"Kami ke sini dengan niat baik. Aku ingin menjenguk Laras," kata Anwar menyampaikan niatnya.
Rena terkejut. Hatinya tiba-tiba menghangat. "Dia ada di rumah," ucapnya lirih. Setelah itu Rena mengantarkan mereka menemui Laras.
"Ras, lihatlah siapa yang datang," seru Rena pada gadis yang rambutnya berantakan itu. Laras mendongak.
"Mas Anwar." Laras berlari ke arah Anwar lalu memeluknya. Daisy tentu saja cemburu. Tapi dia berusaha tenang dan mengontrol emosinya. Anwar melihat sekilas pada sang istri untuk meminta izin agar dia bisa mendekati Laras. Daisy mengangguk.
"Ras, tolong lupakan aku!" ucap Anwar dengan lembut. Laras meneteskan air mata.
"Mas Anwar aku mencintai kamu," ucap Laras hingga berderai air mata.
Anwar mengusap lembut rambut Laras. "Kamu wanita yang cantik. Pasti banyak lelaki di luar sana yang menginginkan kamu."
Laras memikirkan kata-kata Anwar tersebut. Laras menangis. Dia menyesal karena terlalu berambisi pada Anwar. "Aku mau keluar. Aku mau keluar." Namun, Laras tiba-tiba mengamuk. Keluarganya sampai sulit menenangkan dirinya.
Anwar mengajak Rena bicara. "Apa kamu sudah puas usai menyebar gosip yang tidak benar itu?" Rena merasa malu. Ternyata Anwar bukan lelaki be*jat seperti dalam kesimpulan yang dia tarik sendiri.
"Aku memang salah. Tapi semua itu kulakukan untuk Laras," ucap Rena membela diri.
"Jangan terlalu ikut campur pada masalah orang lain. Aku paham kalau kamu peduli dan lebih tepatnya kasian pada Laras. Tapi ingat kamu membuat hidup orang lain menderita. Jika sekali lagi kamu menyebar fitnah, maka aku pastikan hidupmu tidak akan tenang," ancam Anwar pada Rena.
Meski dia seorang wanita tapi sikapnya yang keterlaluan membuat Anwar harus waspada padanya. Namun, dia berharap tidak ada perlawanan dari Rena setelah Anwar bicara panjang lebar.
"Aku bersalah," ucap Rena sambil menunduk.
Usai menyelesaikan masalahnya dengan Rena, Daisy dan Anwar pulang ke rumah. "Sayang, apa persiapan melahirkan sudah cukup?" tanya Anwar.
__ADS_1
"Sudah, Mas. Aku sudah tidak sabar menyambut kelahiran anak kita di dunia." Setelah itu Daisy menengadah.
"Aku berharap padaMu agar tidak memberi banyak ujian pada kami. Dan berikan aku keselamatan ketika melahirkan anak ke dunia."