
Pagi ini Cello dan Fara masih di hotel milik Devon yang ada di pinggir pantai. Fara bangun lebih dulu. Dia melihat jam yang ada di handphonenya. "Ya ampun aku telat kuliah, Mas."
Fara membangunkan suaminya tapi dia sangat susah dibangunkan. "Mas Cello kamu nggak ngantor?" Fara mengguncang tubuh Cello tapi dia malah mengeratkan pelukannya.
"Apa sih? Bangun nggak? Bangun nggak?" Fara mencubit perut sixpack suaminya. Cello terpaksa bangun.
"Kok dicubit sih yang?" protes Cello.
"Habisnya kamu ngeselin. Aku mau pulang. Hari ini bolos kuliah gara-gara kamu." Fara memanyunkan bibirnya.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak lulus juga nggak apa-apa. Kamu nggak perlu kerja selama jadi istriku. Cukup bikin anak lagi dan lagi," kata Cello dengan santainya.
"Dasar iblis mesum. Pikirannya itu mulu. Bangun Mas aku lapar bagaimana kalau kita sarapan di pinggir pantai? Aku pengen foto-foto dan pamerin ke sosmed," ucap Fara bersemangat.
Ketika mereka sedang menunggu pesanan makanan, Fara mendapat pesan dari Gita. Gita menyuruhnya untuk melihat video yang di upload di grub kampus.
Brak
Fara tiba-tiba menggebrak meja. "Sayang kamu kenapa?" tanya Cello yang kaget.
"Ada yang mau bikin gara-gara sama aku," ungkapnya.
"Siapa? Apa perlu bantuanku?" tanya Cello.
__ADS_1
"Tidak, ini urusan cewek," jawabnya sambil menyipitkan mata.
"Awas saja kalau sampai ketemu orang yang menyebar video itu akan ku kutuk jadi batu," gumam Fara dalam hatinya.
"Kita pulang!" Fara berjalan lebih dulu. Cello terpaksa mengikuti istrinya.
Baru berjalan beberapa langkah mereka berpapasan dengan seseorang yang mereka kenal. "Riska? Ngapain kamu di sini?" tanya Fara terkejut.
Gadis yang tak lain adik tiri Fara itu sedang mengandeng lelaki yang lebih tua darinya. Fara melirik ke arah laki-laki itu. "Siapa dia?" tanya Fara.
"Hei gadis tidak sopan. Seharusnya aku yang tanya siapa kamu membentak dia seenaknya," ucap laki-laki itu. Cello yang tak terima istrinya diperlakukan semacam itu membawa Fara ke belakang punggungnya.
"Dia kakak dari gadis ini. Wajar kalau dia bertanya siapa Anda," kata Cello menjelaskan.
Lelaki itu menoleh ke arah Riska. "Apa benar kamu kenal dengan mereka?" tanya lelaki paruh baya yang mengenakan jas tersebut.
"Cih, dasar gadis tidak tahu terima kasih. Kamu mau aku menyetop biaya sekolahmu," balas Fara tak terima.
Riska mulai gelapan. "Apa kamu masih sekolah?" tanya lelaki itu. Dia langsung melepas pelukan tangan Riska. Dia tidak mau menggauli anak di bawah umur.
Lelaki itu tidak tahu kalau Riska berumur tujuh belas tahun karena penampilannya yang glamor. "Om, jangan tinggalin aku!" teriak Riska.
Fara dan Cello juga pergi meninggalkan Riska. Fara pikir dia sudah besar jadi dia bisa pulang sendiri. "Sialan. Kamu membuat hidupku semakin sulit." Riska yang geram menarik rambut Fara.
__ADS_1
Cello yang melihat itu langsung menolong istrinya. "Kamu gila?" bentak Cello.
"Kenapa? Dia sudah membuat hidupku berantakan."
Plak
Fara menampar Riska. "Kamu sadar apa yang kamu ucapkan itu? Aku sudah berbaik hati membiayai sekolah kamu dari hasil penjualan rumah papa tapi ini balasan kamu?"
Fara benar-benar kecewa dengan sikap adiknya itu. "Kamu tidak berubah Riska. Apa kamu memang menginginkan nasibmu sama denganku dulu yang mencari nafkah sendiri untuk hidup? Baik, jika itu maumu. Aku akan hentikan dana yang aku salurkan padamu. Mulai saat ini kamu berusahalah sendiri."
Fara memakai kaca matanya lalu pergi. Cello mengikuti langkah istrinya. Sedangkan Riska terduduk lemas. Hidupnya sungguh tamat saat ini. Tidak ada yang dia andalkan. Padahal uang yang dipakai untuk biaya sekolahnya lumayan banyak dan selebihnya bisa digunakan untuk makan sehari-hari.
Fara masuk ke dalam mobil dengan perasaan kesal. Cello tak mau mengganggu istrinya. "Hari ini benar-benar sial," gumam Fara.
Di tempat lain, Daisy kembali masuk kerja. Dia mengunjungi kantor abangnya. "Lho Abang mana?" tanya Daisy pada Anwar.
Anwar menggedikkan bahu. "Ada apa ke sini?" tanya Anwar.
"Aku ingin menyerahkan berkas ini pada Abang." Ketika Daisy melangkah kakinya tersandung hingga dia terjatuh. Untung saja Anwar dengan tanggap menangkap tubuhnya. Namun, bibir mereka menempel saat Anwar memegang Daisy.
Keduanya membulatkan mata. Daisy cepat-cepat bangu. Begitu juga dengan Anwar. Jantungnya berdegup kencang ketika tak sengaja mencium Daisy. "Maaf," ucap Anwar dan Daisy secara bersamaan.
Setelah itu mereka jadi canggung. Daisy meletakkan berkas yang dia bawa di meja begitu saja lalu pergi. Dia lupa kalau ada pesan dari ayahnya yang harus disampaikan pada Cello.
__ADS_1
"Hish kenapa aku mendadak bego gini sih?" gumam Daisy seraya memeluk jidatnya.
...♥️♥️♥️...