MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 89


__ADS_3

Fara mengunjungi Riksa di rumah sakit. Dia dirawat cukup lama setelah kejadian itu. "Mamamu meninggal akibat kecelakaan," kata Fara memberi tahu.


Riska meneteskan air mata. "Kenapa baru mengabari?" tanya Riska sambil membentak Fara.


"Turunkan suaramu!" balas Cello membentak Riska. Fara memberi kode pada suaminya agar menahan emosi.


"Kejadiannya baru semalam. Aku juga tidak menyangka kalau dia akan mati secepat itu," ucap Fara seraya mengingat kejadian tabrakan yang menewaskan Miranda.


"Apa kalian mengejar dia sampai dia tertabrak mobil?" tuduh Riska.


"Jaga ucapan kamu! Ibumu berlari setelah ketahuan merusak kaca mobilku dan hampir mencelakai anak dan istriku. Seandainya dia hidup aku pun tidak akan membiarkan dia hidup bebas," ancam Cello.


Setelah itu Cello menarik tangan Fara dan mengajaknya keluar. "Mas, pelan-pelan," protes Fara.


"Aku tuh khawatir kamu ketularan sama penyakitnya," ucap Cello.


"Mas HIV tidak menular melalui udara," kata Fara memberi tahu.


"Tetap saja aku khawatir jika kamu berlama-lama di sini. Ingat sayang kamu sedang hamil. Kamu harus jaga kondisi fisik kamu," ucap Cello dengan lembut. Fara mengangguk paham.

__ADS_1


"Kita jemput Cio di sekolah!" ajak Fara. Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat parkir.


Setelah sampai di sekolah Cio, Fara turun dari mobil. Dari kejauhan nampak Cio berjalan bersama dengan gurunya. "Ada apa ini, Bu?" tanya Fara pada guru Cio. Karena tidak biasanya dia diantar sang guru.


"Tadi di sekolah Cio berantem sama temannya," lapor guru berjilbab itu.


"Cio, kenapa kamu berantem nak?" tanya Fara.


"Mereka mau ambil pensilku, Ma," jawab Cio.


"Lain kali pinjamkan saja. Kalau mereka mengambil pensil milik Cio berikan saja! Nanti mama belikan yang baru ya." Fara memberikan pengertian pada anaknya agar lain kali bisa menghindari pertengkaran dengan temannya. Cio mengangguk paham.


Ketika Cio dan Fara akan memasuki mobil, seorang ibu-ibu menghentikan mereka. "Tunggu, tunggu!" perintah wanita bertubuh gemuk itu.


"Bu, bagaimana ini? Anak saya wajahnya sampai merah-merah begini gara-gara berantem sama anak itu? Masa dia dibiarkan begitu saja! Harusnya kasih hukuman dong!" protes wanita itu.


Fara oun tak tinggal diam. "Anak saya bilang temannya akan mengambil pensil miliknya. Apa salah kalau dia mempertahankan pensilnya?"


Melihat istrinya bertengkar dengan orang lain, Cello pun turun untuk melerai. "Sayang balik aja yuk!" bujuk Cello.

__ADS_1


"Sebentar Mas! Aku perlu meluruskan masalah ini supaya ibu-ibu ini nggak nuduh Cio sembarangan."


"Udah kita ngalah aja!" perintah Cello supaya masalahnya cepat selesai.


"Kalian mau lari dari tanggung jawab?" tuduh wanita itu lagi.


"Bu, sudah Bu!" Guru Cio malah malu karena dia tidak bisa melerai Fara dan ibu-ibu yang merasa anaknya menjadi korban itu.


"Heran ya akhir-akhir ini banyak yang playing victim," sindir Fara.


"Apa kamu bilang?" ibu-ibu itu ingin menyerang Fara untungnya Cello menengahi sehingga tangan ibu-ibu itu tidak bisa meraih rambut Fara yang menjadi incaran ibu-ibu tersebut.


"Besok kita pindah sekolah. Sekolah di sini bikin pelaku jadi korban," cibir Fara seraya mengabaikan ibu-ibu tersebut. Cello yang melihat Fara masuk ke dalam mobil pun segera menyusul. Dia melajukan mobil meninggalkan area sekolah Cio.


"Sayang, lain kali jangan gitulah, malu," tegur Cello.


"Mas kok jadi nyalahin aku sih? Kan ibu-ibu itu yang mulai duluan," protes Fara tak terima.


"Harusnya tadi nggak usah ditanggepin."

__ADS_1


"Nggak bisa. Apa mas tega anak sendiri dituduh-tuduh begitu? Udah jelas anak dia yang salah."


"Ya udah sekali ini aja. Besok-besok jangan sampai terulang lagi. Aku malu Yang dilihatin sama tetangga."


__ADS_2