
Setelah tujuh hari meninggalnya orang tua Anwar, laki-laki itu menemui Laras. "Laras aku bingung bagaimana harus menjelaskan padamu?"
"Apa Mas Anwar keberatan dengan perjodohan ini?" tanya Laras. Anwar hanya menunduk.
"Maafkan aku. Aku sudah punya pilihan lain, Laras. Kamu juga bisa memilih laki-laki lain yang lebih baik selain aku."
Laras berkaca-kaca. "Sayangnya laki-laki yang ingin aku nikahi itu adalah kamu, Mas," jawab Laras.
Anwar tentu terkejut mendengarnya. Selama ini dia tidak bisa membaca perasaan Laras. Dia hanya menganggap Laras seperti saudara perempuan baginya.
Anwar merasa bersalah pada Laras dan juga mendiang ibunya. "Bagaimana caraku agar bisa membalas kebaikanmu tanpa menikah denganmu. Karena aku akan menyakiti wanita yang aku cintai jika aku memilihmu sebagai istri."
"Jadi Mas Anwar rela menyakiti perasaanku?" tuduh Laras.
"Ras, aku menganggap kamu sebagai saudara. Tidak pernah terlintas di benakku untuk menikah denganmu. Maaf kalau ini menyakiti perasaanmu, Ras. Tapi aku juga punya pilihan. Bukan berarti aku ingin menentang wasiat ibuku, tapi aku ingin kita sama-sama bahagia."
Laras sulit mengartikan ucapan Anwar. Yang jelas saat ini dia kecewa. "Siapakah wanita yang menduduki hatimu Mas?" tanya Laras.
"Kamu sudah pernah bertemu dengan dia," jawab Anwar.
"Apa wanita yang waktu itu datang mengunjungi ibumu ketika sedang sakit?" tanya Laras penasaran. Anwar mengangguk pelan.
"Apa yang membuat dia lebih unggul dari aku, Mas?" Laras masih tidak terima dengan penolakan Anwar.
"Laras, kamu dan dia berbeda," jawab Anwar.
"Apa karena dia anak konglomerat?" tuduh Laras.
"Bukan itu, Ras," jawab Anwar. Dia tak menjelaskan pada wanita yang sedang berdiri di hadapannya kini mengenai cara berpacarannya dengan Daisy.
"Baik, kalau itu maumu aku akan mundur, Mas." Laras pergi meninggalkan Anwar.
"Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang terbaik, Ras," gumam Anwar seraya melihat punggung Laras yang semakin menjauh.
Anwar pun mendatangi Daisy ketika jam makan siang. "Daisy," sapa Anwar ketika laki-laki itu berdiri di depan meja kerja Daisy.
__ADS_1
Daisy cuek menyambut kedatangan Anwar. "Kenapa kamu tidak menjawab?" tanya Anwar heran.
"Maaf, aku tidak pernah menghubungimu selama sedang berkabung. Apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Anwar.
"Apa Mas lupa dengan janjimu?" tanya Daisy.
"Ya, aku ingat."
"Lalu kapan kamu akan melamarku? Atau kamu ingin menikah dengan wanita pilihan ibumu?" ledek Daisy. Anwar terkejut. Bagaimana Daisy bisa tahu soal itu.
"Daisy apa yang kamu bicarakan?" tanya Anwar heran.
"Jangan berpura-pura lagi, Mas. Aku sudah dengar kalau ibumu menjodohkan kamu dengan wanita bernama Laras bukan?"
"Iya, tapi..."
"Sudahlah! Turuti saja wasiat ibumu. Jangan jadi anak durhaka karena seorang wanita sepertiku," sarkas Daisy. Anwar benar-benar tidak menyangka kalau Daisy mengetahui rencana perjodohan dirinya dengan Laras.
"Daisy, aku bisa jelaskan." Daisy menepis tangan Anwar.
Namun, Anwar melakukan hal di luar pemikiran Daisy. Anwar mendatangi ruangan Devon saat itu juga. Daisy pun dibuat panik.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Daisy yang menyusul Anwar ke ruangan ayahnya.
"Anwar, apa ada dokumen penting yang perlu aku tanda tangani?" tanya Devon yang tidak menaruh curiga.
"Pak, saya ke sini untuk melamar anak bapak," ucap Anwar dengan tegas.
Kening Devon berkerut ketika ada seorang laki-laki yang melamar putrinya hanya dengan kata-kata. Devon berdiri. "Apa alasan kamu ingin menikahi putriku?" tanya Devon.
"Karena saya telah menodai dia." Jawaban Anwar membuat Devon murka. Devon berjalan cepat kemudian memukul wajah Anwar. Dia tergeletak di lantai. Daisy menjerit histeris.
"Ba*jingan kamu, Anwar. Aku kira kamu laki-laki polos tapi kamu tak sebaik yang kukira," ucap Devon dengan perasaan kecewa yang teramat.
Devon kembali memberikan sebuah pukulan ke wajah Anwar. Pemuda itu sama sekali tidak melawan. Dia sadar kalau perbuatannya itu tidak benar. "Maaf."
__ADS_1
Hanya kata itu yang terucap di bibir Anwar. "Pa, sudah pa cukup!" Daisy menghalangi ayahnya agar berhenti memukul laki-laki yang dia cintai.
Di saat yang bersamaan mama Cindy terkejut ketika dia masuk ke ruangan suaminya. Mama Cindy berniat mengantarkan makan siang untuk Devon. Tapi dia melihat pemandangan tak biasa. Anwar tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir di kepalanya.
"Mas, ada apa ini? Daisy, apa yang terjadi pada Anwar?" tanya Mama Cindy.
"Dia ba*jingan yang telah merenggut kesucian anak kita, Ma," jawab Devon.
Mama Cindy syok mendengar ucapan suaminya. Dia tidak bisa mencerna dengan baik. Saat itu juga kepalanya terasa berat dan Mama Cindy ambruk seketika.
"Mama," teriak Devon. Dia berjongkok lalu menepuk pipi sang istri. Tak ada respon, Devon pun segera melarikan istrinya ke rumah sakit.
Sementara itu, Daisy menolong Anwar yang juga terluka. Dia membantu Anwar bangun dan memapahnya. Dia membantu Anwar duduk di sofa.
Daisy mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Anwar. Dia membersihkan luka laki-laki itu dengan telaten.
"Kenapa Mas Anwar begitu nekad mengatakan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia kita berdua?" tanya Daisy sambil menangis sesenggukan.
"Aku ingin kamu tahu kalau aku serius ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku padamu," jawab Anwar seraya menahan perih.
"Jadi hanya sebatas tanggung jawab?"
Anwar mencekal tangan Daisy. "Tidak, aku juga sangat mencintai kamu Daisy. Aku tidak mau kehilangan kamu."
Anwar menempelkan bibirnya ke bibir Daisy. Dia me****** dengan lembut bibir wanita yang dia cintai sejak lama. Daisy meneteskan air mata. Sesaat kemudian mereka melepas pagutannya.
"Aku tidak takin papaku akan merestui hubungan kita."
"Aku akan tetap berusaha meyakinkan papamu. Apa kamu tidak hamil anakku setelah kita berhubungan?" tanya Anwar. Daisy terkekeh mendengar pertanyaan tak terduga yang keluar dari mulut kekasihnya.
"Aku juga inginnya seperti itu. Tapi saat ini aku sedang datang bulan," jawab Daisy malu-malu.
"Sepertinya kita harus berusaha lebih keras lagi agar berhasil menanamkan benihku di rahimmu," ucap Anwar sambil berbisik di telinga Daisy. Daisy pun memberikan pukulan di bahu Anwar.
"Jangan mimpi. Papaku bisa saja membunuhmu."
__ADS_1
...***...