
Hari ini Daisy mulai bekerja di hotel ayahnya. "Tugas pertama kamu hari ini adalah menemani papa meeting di luar."
Daisy menurut pada perintah ayahnya. Dia belum berpengalaman sama sekali jadi dia harus banyak belajar. "Siap, Pa."
Hari ini Devon janjian bertemu dengan Daniel, rekan bisnisnya.
"Selamat pagi, Pak Devon," sapa Daniel.
"Selamat pagi, Pak Daniel," balas Devon. "Saya mengajak putri saya, Daisy."
Daisy terkejut ketika melihat laki-laki yang dia temui kemaren berada di depannya. "Biasku," batin Daisy menatap penuh damba pada laki-laki tampan itu.
"Daisy, Daisy," panggil Devon. Daisy pun terkejut. "Maaf."
"Ini Pak Daniel, rekan bisnis papa."
"Kaya pernah dengar nama itu tapi di mana ya?" batin Daisy.
"Cantik," puji Daniel ketika melihat Daisy. Daisy bergidik ngeri mendapatkan pujian Daniel.
"Jangan-jangan dia duda. Oh my God jangan sampai papa menikahkan aku dengan seorang duda. Meskipun dia kaya dan terlihat tampan di usianya tapi aku tidak sudi menikahi duda," batin Daisy.
"Ini Arjuna, anak saya."
Pemuda itu mengulurkan tangan pada Daisy. Daisy mematung tak percaya. Dia membalas uluran tangan itu dengan gugup.
Setelah itu mereka memulai meeting. Padahal sebenarnya Devon telah merencanakan pertemuan itu dengan Daniel. Mereka akan menjodohkan anak mereka. Sejak tadi Daisy tidak fokus mendengarkan meeting karena melihat wajah Arjuna yang terlalu silau di matanya.
"Baik kita akhiri meeting hari ini. Oh ya, bagaimana kalau next time kalian datang ke rumah untuk makan malam," ucapan Devon membuat Daisy tercengang.
"Hah, papa mengundang mereka makan malam?" Rasanya dia ingin berjingkrak tapi Daisy mencoba menahan diri.
Daniel dan Arjuna berpamitan mereka pergi lebih dulu. Daisy berharap besok-besok dia akan bertemu lagi dengan Arjuna. "Oh Arjunaku," gumam Daisy.
Devon terkekeh mendengar ucapan putrinya. Tidak disangka anak Daniel dapat membuat Daisy jatuh cinta pada pandangan pertama. "Kemungkinan perjodohan ini akan berhasil," gumam Devon dalam hati.
"Pa, kenapa tadi tidak meminta nomor teleponnya?" protes Daisy.
Devon terkekeh mendengarnya. "Jadi perempuan jangan terlalu agresif Daisy. Kamu harus tunjukkan sikap elegan kamu. Contoh Fara dia rendah hati dan apa adanya. Pantas kalau Cello jatuh hati padanya."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan belajar rendah hati seperti kakak ipar."
Sementara itu di tempat lain Cello melihat kalender yang ada di mejanya. Ini sudah tiga bulan sejak dia berhubungan dengan istrinya tapi Cello merasa curiga karena Fara tak kunjung hamil. "Apa aku ajak dia ke dokter kandungan saja supaya mau memeriksa kondisi rahimnya?" gumam Cello.
Setelah itu dia menghubungi Anwar melalui telepon antar ruangan. "Apa ada jadwal penting siang ini?" tanya Cello pada Anwar.
"Tidak ada, Pak."
"Oke, aku mau ngajak Fara keluar kamu urus kantor," perintah Cello pada bawahannya.
Cello pun mengendarai mobil sport miliknya untuk kembali ke apartemen.
Fara sedang meminum pil KB untuk mencegah kehamilan. Dia awalnya ingin hamil tapi karen sebentar lagi dia akan kuliah jadi Fara tidak ingin konsentrasi belajarnya di tahun pertama terganggu.
"Sayang," panggil Cello. Dia tiba-tiba membuka pintu kamar. Fara pun menyembunyikan pil KB yang dia konsumsi.
"Mas kok pulang nggak ngabarin dulu," kata Fara.
"Kenapa sayang?"
"Nggak apa-apa. Aku hanya belum sempat masak tadi."
"Hah, aku nggak hamil," kata Fara.
"Justru itu kita konsultasi kenapa kamu nggak hamil juga." Fara pun pasrah saat suaminya membawa ke dokter kandungan.
"Mas aku mau diperiksa sama dokter perempuan saja," pinta Fara pada suaminya.
"Iya sayang. Aku juga nggak rela kalau milik kamu itu dilihat laki-laki lain selain aku," kata Cello dengan tegas.
"Ibu Fara," panggil perawat yang bertugas.
Fara dan Cello pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan. "Selamat siang," sapa dokter wanita yang berhijab itu dengan ramah.
"Siang, Dok. Kami ke sini ingin memeriksakan kondisi kandungan istri saya," ucap Cello menyampaikan keinginannya.
"Baik, silakan ibu naik ke atas. Kita periksa menggunakan alat ya."
Setelah melalui rangkaian pemeriksaan dokter itu menyampaikan kalau kandungan Fara sehat dan tidak ada masalah. "Lalu kenapa istri saya tidak kunjung hamil, Dok?" tanya Cello penasaran.
__ADS_1
"Hamil itu rejeki, Pak. Kita tidak bisa memprediksi kapan istri anda akan memperoleh kehamilannya. Namun, jika ada faktor dari luar misalnya anda sengaja menunda kehamilan itu bisa saja terjadi."
Fara merasa tersindir. Tapi dia mencoba menyembunyikan kegugupannya. Jangan sampai suaminya tahu kalau selama ini dia mengkonsumsi pil KB.
"Tidak kamu ingin segera memiliki momongan," ucap Cello dengan tegas.
"Baiklah, akan saya resepkan vitamin untuk dikonsumsi. Mudah-mudahan ada hasil setelah rutin mengkonsumsi vitamin yang saya berikan."
"Baik, Dok."
Usai dari dokter kandungan Cello mengajak Fara makan ke sebuah restoran. "Jadi kapan aku bisa mulai kuliah, Mas?" tanya Fara.
"Kamu sangat bersemangat sekali sayang."
"Aku bosan di rumah sendirian, Mas. Makanya aku ingin ada kegiatan di luar rumah."
"Andai saja kamu hamil lebih cepat pasti sebentar lagi rumah akan ramai dengan suara tangis bayi," ucap Cello dengan wajah sendu.
Fara jadi tidak tega melihat suaminya bersedih. "Jangan bersedih nanti kita beli boneka bayi yang bisa bersuara agar kamu bisa mendengar suara tangis bayi setiap hari."
Bukannya setuju dengan ide Fara, Cello malah bergidik ngeri. "Aku paling tidak suka dengan boneka. Bagiku mereka seperti Anabel dan chucky yang menyeramkan."
Fara terkekeh. "Kamu kebanyakan nonton film horor Mas," ledek Fara.
"Lalu apa yang harus aku tonton?" tanya Cello.
"Sekali-kali kamu nonton drama biar tahu cara berbicara manis pada pasangan," cibir Fara sekaligus menyindir. Jujur saja suaminya itu tidak pernah mengatakan hal-hal romantis seperti di film-film yang sering dia tonton.
"Laki-laki itu susah kalau ngomong langsung. Mereka lebih suka menunjukkan rasa cintanya dengan tindakan."
"Ah nggak juga. Contohnya di drama yang aku tonton itu mereka kelihatan mudah menyampaikan perasaannya pada pasangan."
"Itu karena mereka baca skrip sayang."
Perdebatan itu pun tak selesai sampai di situ. Hingga Fara dan Cello pulang ke rumah, mereka masih saja berdebat.
"Sudah aku mengaku kalah." Cello sengaja mengalah agar istrinya tak mengomel terus. Wanita maha benar.
Fara pun mengulas senyum tipis. "Dari tadi kek. Aku kan nggak perlu ngomel terus. Aku juga capek."
__ADS_1
"Dasar cewek."