
Cello menjatuhkan handphone milik istrinya. "Maaf, sayang. Nanti aku beliin handphone yang baru," ucapnya sedikit menyesal.
"Ya udah deh," jawab Fara pasrah seraya memungut handphonenya yang sudah pecah akibat ulah suaminya. Fara tak bertanya pada Cello apa yang dia lakukan pada handphonenya tadi.
"Mas, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Fara.
Cello menggeleng. "Ya sudah aku mau ke minimarket depan," izin Fara pada suaminya.
"Mau beli apa?" tanya Cello penasaran.
"Roti bantal," jawab Fara sambil tertawa.
"Apa sih nggak jelas," gerutu Cello. Fara pun keluar untuk membeli kebutuhan bulanannya.
Hari berganti hari Cello sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Lukanya pun berangsur membaik. Dia hanya butuh kontrol jika lukanya memburuk.
"Mas lusa katanya papa mau adain acara pertunangan buat Daisy sama pacarnya," kata Fara memberi tahu.
Cello tak menanggapi omongan istrinya. Cello kurang setuju pada keputusan papanya yang menjodohkan Daisy dengan laki-laki pilihan ayahnya. Terus terang Cello melihat laki-laki itu cuek pada adiknya. "Aku tidak yakin mereka akan bahagia," ucapnya sambil mengunyah jeruk yang telah ia kupas.
"Kok ngomongnya gitu, Mas?" tanya Fara.
"Aku tidak melihat ada perasaan cinta di mata Arjuna untuk Daisy," terangnya memberi alasan.
"Wajar Mas mereka kan dijodohkan. Nanti juga seiring berjalannya waktu akan ada cinta yang tumbuh di antara mereka. Kamu nggak ingat pas pertama kali kita menikah? Bukankah dulu kita selalu bertengkar?" ledek Fara.
"CK, kamu ini bisa saja menjawab ucapan suami." Cello mencubit hidung mancung istrinya.
"Walau aku dulu membencimu tapi aku masih peduli denganmu yang berstatus istriku. Apa kamu tidak ingat apa saja yang telah aku lakukan padamu?" Cello bergantian meledek Fara.
"Hish, kamu kalau ngomong nggak pernah mau ngalah," gerutu Fara seraya mengerucutkan bibirnya.
"Sayang apa kamu sedang memancingku?"
"Emangnya kamu ikan dipancing," balas Fara. Cello merasa tertantang. Dia pun menggendong istrinya. Tapi sesaat kemudian dia menjatuhkan Fara.
__ADS_1
"Mas sakit," keluhnya seraya mengusap pantatnya yang sakit.
"Perutku juga, maaf sayang. Aku lupa kalau perutku masih sakit," kata Cello sambil memegangi perutnya yang sakit bekas tusukan. Fara pun mengajak suaminya duduk.
"By the way apa penjahatnya sudah tertangkap?" tanya Fara pada suaminya.
"Anwar sudah mengurus semuanya. Dia bilang penjahatnya sudah mendekam di penjara," jawab Cello.
"Mas Anwar memang keren," puji Fara. Cello mencebik kesal karena istrinya memuji laki-laki lain.
"Sudah tugasnya. Aku membayar dia mahal," jawabnya dengan ketus.
"Aku kira dulu Daisy pacaran lho sama Mas Anwar," kata Fara pada suaminya.
"Dia memang menyukai Daisy. Tapi dia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya," ungkap Cello. Fara melotot tak percaya.
"Bagaimana perasaannya ketika menyaksikan pertunangan Daisy dengan Arjuna nanti?" tanya Fara.
Dan di sinilah, ketika saatnya Daisy bertunangan, Anwar menyaksikan saat-saat di mana Arjuna menyematkan cincin di jari manis wanita uang dia sukai.
"Udahlah bro, lo move on. Cari yang lain saja," saran Cello pada bawahan sekaligus sahabatnya itu.
"Mulut selalu mudah berbicara tapi hati selalu menolak untuk menerima," jawab Anwar.
"CK, kebanyakan baca novel lo," ledek Cello. "Mas Anwar nggak apa-apa?" tanya Fara yang peduli dengan Anwar. Cello merasa cemburu.
"Kamu apaan sih, Yang?" protesnya pada sang istri.
"Mas Cello jangan cemburu. Aku cuma kasian saja pada Mas Anwar karena wanita yang dia sukai malah bertunangan dengan orang lain."
Anwar melotot tak percaya ketika Fara berkata demikian. Seingatnya dia hanya bercerita pada Cello. Lalu Anwar pun meminta penjelasan pada Cello mengenai pertanyaan Fara.
Cello angkat tangan. "Ampun, Bro. Gue cuma cerita sedikit sama dia," ucap Cello membela diri.
Semua orang memberikan ucapan selamat pada Daisy dan Arjuna. Daisy terlihat sumringah sedangkan Arjuna bersikap dingin. Cello dan Anwar pun menyadari akan hal itu. "Gue yakin mereka tidak akan bertahan lama," gumam Cello.
__ADS_1
Anwar setuju dengan perkataan atasannya. Dia tersenyum sinis melihat ke arah pasangan yang baru resmi tunangan itu. "Mau bertaruh berapa lama?" balas Anwar menanggapi ucapan Cello.
Hari ini pada jam makan siang, Daisy sengaja datang ke kantor Arjuna. Niatnya ingin memberikan surprise pada tunangannya dengan mengantarkan makan siang malah dirinya dikejutkan oleh aksi seorang wanita yang duduk di atas paha Arjuna.
Daisy tidak bodoh. Wanita itu sedang berciuman dengan tunangannya. Mata Daisy memerah. Arjuna sangat keterlaluan karena mereka berciuman tanpa menghiraukan sekeliling. Hingga Daisy sengaja menjatuhkan kotak makanan yang dia bawa agar mereka menyadari keberadaannya.
Brak
Mendengar suara kotak makan terjatuh Arjuna dan Laura pun melepas pagutannya. "Apa kedatanganku mengganggu acara ciuman panas kalian?" sindir Daisy.
"Mas aku keluar dulu," pamit Laura yang mengerti akan situasinya.
"Tunggu, kenapa kamu terburu-buru?" ledek Daisy. Laura pun menghentikan langkahnya.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Arjuna dengan ketus. Sementara itu Laura meminta izin untuk pergi dari ruangan Arjuna.
Daisy tersenyum miring. "Begitu tanggapan kamu jika tunanganmu datang untuk berkunjung?" Daisy sungguh tidak terima jika kedatangannya dianggap sebagai pengganggu. Bukankah dia yang seharusnya melarang wanita itu untuk mendekati calon suaminya?
"Aku menerima pertunangan ini karena terpaksa," ucap Arjuna seraya membetulkan jasnya yang berantakan.
"Apakah harus kamu menjelaskan secara terang-terangan seperti ini, Mas? Apa yang membuatmu terpaksa?" tanya Daisy. Kini air mata Daisy tak dapat dibendung. Dia mengusap air matanya dengan kasar.
"Aku tidak mencintaimu tapi aku mencintai Laura. Kami sudah lama berhubungan tapi ayahku belum tahu. Aku takut dia akan menentang hubungan kami," terang Arjuna.
"Kamu pikir aku akan merasa kasian pada kalian? Setelah pengkhianatan kamu padaku aku bisa saja melapor pada paman. Namun, aku memilih diam. Bagaimana kalau kita batalkan pertunangan kita?" Daisy mencoba mengajak Arjuna untuk membuat kesepakatan.
Arjuna tanpa ragu mengangguk setuju. Dia memang tidak ingin menikah dengan wanita manapun selain Laura. Daisy merasakan tenggorokannya tercekat. Dia merasakan sakit hati yang luar biasa.
"Beginikah rasanya ditolak? Mulai sekarang aku tidak akan menyakiti hati siapa pun," gumam Daisy selama hatinya.
"Baik, aku akan bilang kalau pertunangan kita batal. Tapi siapkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan ayahmu," kata Daisy pada tunangannya itu.
Arjuna berpikir sejenak. Jika orang tuanya tahu maka doa akan tamat. "Daisy tunggu!" Arjuna mengejar Daisy dan meninggalkan Laura.
Apakah Arjuna akan meminta maaf pada Daisy?
__ADS_1