
Seingat Fara dia sudah tidak menstruasi selama beberapa minggu. "Biasanya tepat waktu," gumam Fara. Untuk memastikan dia pun mengecek apakah dia hamil atau tidak menggunakan alat ted kehamilan.
Fara membulatkan matanya ketika dia melihat dua garis di alat tes kehamilan tersebut. "Hamil lagi," ucap Fara tak percaya. Padahal niatnya untuk bekerja sudah bulat karena Cio sudah bisa ditinggal.
"Sayang, kamu ngapain di dalam? Kok lama banget," gerutu Cello.
Fara menyembunyikan alat tespeknya. "Iya, aku keluar."
"Sayang, gantian perutku mulas." Cello menerobos masuk ke kamar mandi.
Setelah itu, Fara menyiapkan keperluan suaminya. "Yang pasangkan dasi!" perintah Cello usai memakai kemeja.
Fara yang tingginya tak seberapa harus naik kursi kecil untuk memasang dasi suaminya. "Dulu kamu minum susu apa nggak sih, Yang. Pendek banget," ledek Cello.
Fara memukul dada bidang suaminya. "Kamu nggak ingat kalau aku pernah cerita kalau ibuku meninggal habis melahirkan aku, Mas."
"Jadi kamu diasuh oleh ibu tirimu itu?" tanya Cello.
"Tidak, Mas. Ayahku menikah dengan ibu tiriku mulai aku SMP." Wajah Fara berubah menjadi sendu ketika dia menceritakan masa lalunya.
"Maaf sayang." Fara tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Ya sudah hati-hati Mas berangkatnya." Cello mencium kening Fara.
Usai kepergian suaminya, Fara membangunkan Cio. Dia menciumi pipi anaknya yang masih tertidur lelap. "Cio, bangun. Ayo bangun!"
Cio malah berguling membelakangi ibunya. Fara yang jail pun menggelitiki anaknya itu. "Mama geli."
"Makanya bangun, ayo kita mandi sudah siang Cio." Fara menarik selimut anaknya itu.
Mau tak mau Fara menggendong anaknya itu. "Aduh." Fara merasakan sakit di bagian perutnya.
"Mama kenapa?" tanya Cio yang cemas.
"Perut mama sakit, Cio."
"Maafkan Cio, Ma. Aku akan jalan sendiri ke kamar mandi." Fara tersenyum melihat sikap anaknya yang lebih dewasa.
Setelah itu Fara memandikan Cio. Sehari-hari Fara mengurus Cio dan itu membuatnya bosan. Dia ingin bisa menggunakan ijazah yang telah dia peroleh untuk bekerja layaknya wanita karir lainnya. Tapi dia belum meminta pendapat sang suami.
"Cio, kalau mama kerja boleh nggak?" Fara meminta pendapat pada anaknya.
"Nanti Cio sama siapa, Ma?" tanya Cio. Dia terlihat sedih.
"Cio kan sudah besar. Cio nanti akan mama daftarkan ke sekolah." Fara mengusap kepala anaknya dengan lembut.
"Mau, Ma. Cio mau sekolah," ucap Cio dengan bersemangat.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain Rizka menyambut kepulangan ibunya dari lapas. "Akhirnya ibu keluar." Rizka melepas rindu pada sang ibu dengan memeluknya.
"Kita pulang ke mana?" tanya Miranda.
"Selama ini aku hanya tinggal di rumah kontrakan kecil, Ma," jawab Rizka.
"Ini semua gara-gara Fara. Kita harus buat perhitungan padanya," ucap Miranda. Dia masih menyimpan dendam pada anak mantan suaminya itu.
Kemudian Rizka dan Miranda menaiki angkot menuju ke rumahnya. "Kamu yakin kita tinggal di sini?" tanya Miranda.
"Mau bagaimana lagi, Ma. Aku tidak lulus sekolah mana bisa aku mendapatkan pekerjaan yang layak."
"Lalu apa pekerjaan kamu sekarang?" tanya Miranda. Rizka gugup menjawab pertanyaan ibunya.
"Ah, mama tidak perlu tahu yang penting kita bisa makan dan tidak hidup menggelandang."
"Bagaimana dengan rumah ayahmu?" tanya Miranda.
"Fara menjual rumah itu. Dia sama sekali tidak membagi hasil penjualan rumahnya padaku. Dia sengaja membuat aku menderita. Asal mama tahu aku terpaksa putus sekolah karena tidak punya uang untuk biaya hidup."
Rizka memanas-manasi ibunya. Miranda mengepalkan tangan. "Kita akan balas perbuatannya. Kali ini kita lakukan dengan halus. Aku tidak mau masuk ke dalam bui dua kali."
"Tenang saja, Ma. Aku akan bantu mama." Miranda tersenyum menyeringai.
Sementara itu Fara mencari sekolah terbaik untuk anaknya, Cio. "Cio mama ingin mendaftarkan kamu di sini? Bagaimana menurut kamu?" Fara meminta pendapat anaknya.
"Sekolahnya bagus, Ma. Cio tidak sabar pengen sekolah."
"Bagaimana kalau kita belanja ke mall? Kita beli tas, sepatu lalu apa lagi ya?" Fara mengetuk-ngetuk dagunya seraya berpikir.
"Pensil warna, Mam."
"Baiklah, ayo kita jalan!"
"Let's go!" seru Cio bersemangat.
Mereka pun menghabiskan hari ini untuk berbelanja banyak. Usai berbelanja, Cio ketiduran di mobil. Fara ingat kalau perutnya sempat sakit ketika dia mengangkat anaknya itu. "Bagaimana ini?" Fara clingak-clinguk mencari petugas keamanan gedung supaya dapat dimintai tolong.
"Perlu bantuan?" tanya seseorang yang berdiri di belakang Fara.
"Rendy. Kapan kamu pulang ke Indo?" tanya Fara.
"Seminggu yang lalu," jawab Rendy. Dia mengintip dari luar dan melihat seorang anak kecil tertidur di dalam mobil.
"Apa kamu butuh bantuan untuk mengangkat anakmu hingga ke atas?" tebak Rendy. Fara mengangguk malu. Dia merasa tidak enak pada teman lamanya itu.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Fara.
__ADS_1
Rendy tersenyum. "Tentu saja tidak. Biar aku saja yang gendong." Rendy mengangkat tubuh Cio dengan perlahan.
"Dia umur berapa?" tanya Rendy.
"Tiga setengah tahun," jawab Fara.
"Tubuhnya lumayan besar untuk anak seusia dia," balas Rendy dengan terkekeh.
"Iya, dia banyak minum susu."
'Kamu tidak berubah Fara. Tetap cantik bahkan sekarang bertambah cantik,' puji Rendy dalam hati sambil tersenyum.
"Aku tidak menyangka kamu masih tinggal di sini," kata Rendy.
"Iya, kami belum sempat cari rumah yang lebih luas. Mungkin nanti kalau Cio sudah punya adik." Fara mengelua perutnya.
"Kamu hamil lagi?" tanya Rendy. Fara terkesiap.
"Ah, aku bilang nanti," elak Fara. Dia saja belum memberi tahu suaminya. Masa Rendy tahu duluan, pikir Fara.
Rendy tersenyum. "Sudah sampai." Mereka saat ini berada di depan unit apartemen milik Fara.
"Ren, bisakah kamu menaruh Cio di kamarnya. Pinggangku sakit kalau mengangkat dia."
"Baiklah. Dengan senang hati, jawab Rendy.
Usai membaringkan Cio di kamarnya, Rendy dan Fara sama-sama keluar. "Sayang, kenapa dia ada di sini?"
Suara itu membuat Fara dan Rendy terkejut. Fara tak menyangka suaminya akan pulang cepat. "Mas, kamu sudah pulang." Fara berjalan menghampiri Cello.
"Apa yang kalian lakukan di dalam kamar bersama?" Dada Cello naik turun karena menahan amarah.
"Long time no see, Cello. Kamu masih saja temperamental," cibir Rendy. Fara menatap tajam pada Rendy. Dia ingin Rendy mengontrol ucapannya.
"Katakan!" bentak Cello.
"Rendy hanya membantuku mengangkat Cio, Mas," jawab Fara.
"Apa yang kamu katakan itu tidak bohong bukan?" tanya Cello memastikan.
"Tidak, aku memang sengaja mengunjungi Fara." Rendy tiba-tiba mengatakan lain. Fara menjadi ketakutan. Dia takut kalau Cello emosi dan memukuli Rendy.
"Breng*sek!" Cello melangkah maju.
Apakah yang selanjutnya terjadi?
...♥️♥️♥️...
__ADS_1
Rekomendasi novel dari temanku jangan lupa mampir ya