MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 93


__ADS_3

Setelah mendapatkan ancaman Frans, Fara mulai resah. Sedari tadi dia melamun padahal saat ini dia sedang makan siang bersama Daisy. "Kak, kamu udah beli baju buat bayi kamu belum?" tanya Daisy.


"Kak, Kak Fara," teriak Daisy.


"Eh, iya. Maaf aku nggak dengar."


"Kak Fara mikirin apa sih? Uang nyalon kurang? Minta abanglah!" ledek Daisy. Fara terkekeh.


"Ada-ada aja. Kamu tadi bilang apa?" tanya Fara.


"Kamu udah beli baju buat bayi kamu belum? Kita belanja bareng yuk!"


"Hish, mana boleh usia kandungan kamu kan baru jalan tiga bulan. Beli tuh nanti aja kalau udah ketahuan anaknya cewek apa cowok," terang Fara.


"Gitu ya? Habis aku tidak sabar mempersiapkan segalanya," ucap Daisy.


"Iya, aku juga gitu kok pas hamil Cio. Rasanya seneng banget." Fara mengingat kembali ketika suaminya banyak memberi perhatian.


'Ah, Mas Cello. Sedang apa dia?'


Fara mengambil handphone lalu dia menelepon suaminya. "Mas, kamu jari jemput Cio siang ini?" tanya Fara.


"Maaf, sayang. Klien ngajak meeting dadakan. Aku lupa mengabari kamu."


Deg


Fara jadi was-was. Dia pun menghubungi wali kelas Cio. "Hallo, Bu. Apa Cio masih di sana? Maaf saya telat menjemput anak saya."


"Cio sudah pulang bersama Omnya. Katanya dia sudah izin ibu. Kalau tidak salah namanya Frans."


Jantung Fara berdegup kencang. "Kak kenapa?" tanya Daisy ketika melihat Fara panik.


"Daisy, kamu pulang sendiri. Aku mau cari Cio," kata Fara. Fara menyambar tasnya lalu dia pergi begitu saja.


"Cari Cio?" Daisy merasa ada yang tidak beres. Lalu Daisy pun menghubungi abangnya.


"Bang, ada yang tidak beres. Kak Fara buru-buru pergi katanya dia mau cari Cio," lapor Daisy.


"Apa?" Cello terkejut mendengar ucapan adiknya.

__ADS_1


"Anwar kamu saja yang persentasi depan klien. Aku ada urusan lain." Cello menepuk bahu Anwar kemudian pergi. Dia setengah berlari menuju ke parkiran mobil. Saat itu dia berpapasan dengan Devon di lobi hotelnya.


"Cello mau ke mana?" tanya Devon.


"Ada urusan, Pa," jawab Cello sembari berlalu meninggalkan papanya. Devon merasa aneh tapi akan dia tanyakan nanti ketika Cello sudah kembali.


Di tempat lain, Fara bingung mau cari Cio ke mana karena dia tidak tahu ke mana Frans membawa pergi anaknya. Sesaat kemudian Fara mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenal.


"Hallo," jawab Fara ragu.


"Fara, apa kamu mencari anak kamu?" Fara mendengar suara yang tidak asing dari balik telepon.


"Frans, ke mana kamu membawa pergi Cio?" tanya Fara sambil terisak.


"Datanglah ke sini. Aku ingin kita berkumpul selayaknya keluarga."


"Baik, aku akan datang."


"Jangan coba hubungi suamimu karena satu meter saja dari sini maka dia akan tertembak oleh anak buahku," ancam Frans.


"Baik, beritahu di mana kalian berada?" Fara terpaksa menuruti kemauan Frans.


Tak butuh waktu lama Fara turun dari taksi di sebuah taman bermain. Di sana Frans sudah menunggu Fara. "Sayang," panggil Frans seraya melambaikan tangan.


Frans tersenyum manis. Dia merangkul bahu Fara dengan posesif. "Tenanglah sayang, dia sedang bermain mobil-mobilan di sana." Frans mengajak Fara berjalan tanpa melepas rangkulannya. Fara merasa tidak nyaman tapi Frans tidak mau melepas tangannya.


Sesaat kemudian dia mengeluarkan handphone. Frans mencium pipi Fara tanpa izin sambil memotret dirinya. Dia ingin menampar Frans tapi sayangnya saat itu banyak kerumunan orang yang lewat.


"So sweet banget ya suaminya, Bu. Saya jadi iri," tegur salah seorang wanita yang menggandeng anaknya.


Frans menarik pinggang Fara. "Apa kamu serasi?" tanya Frans pada ibu-ibu itu.


"Sangat serasi. Yang satu cantik yang satu ganteng. Eh kalau dilihat postur tubuh mbak ini sedang hamil ya? Wah selamat ya. Jaga istrinya baik-baik Mas. Biasanya wanita hamil banyak maunya," saran ibu itu panjang lebar. Dia tidak mengetahui kalau mereka bukanlah pasangan suami istri.


"Bu, kami..." Fara ingin menyela tapi Frans memotong ucapannya.


"Terima kasih sarannya, Bu. Kami mau menyusul anak pertama kami," pamit Frans seraya menarik tangan Fara. Fara hanya bisa pasrah dengan perlakuan Frans.


Sesaat kemudian dia melihat Cio yang sangat gembira saat bermain mobil-mobilan. Terus terang Cello jarang mengajak anaknya ke taman bermain sehingga ketika Frans menawari Cio ke taman bermain dia langsung setuju.

__ADS_1


"Mama," panggil Cio sambil melambaikan tangan.


"Bukankah aku pandai menyenangkan anakmu itu?" tanya Frans seraya menatap mata Fara. Fara mengalihkan pandangannya. Namun, Frans mengambil dagu Fara agar dia kembali menatapnya.


"Jangan abaikan aku Fara. Aku juga bisa berbuat sesuatu pada anakmu itu agar kamu menuruti semua kemauanku," bisik Frans. Fara meneteskan air mata. Frans ingin mencium bibir Fara tapi seseorang menarik bajunya.


Cello datang dan memukul Frans. "Ba*jingan!" umpat Cello usai memukul laki-laki itu. Para pengunjung taman bermain itu berteriak histeris.


Frans terjatuh lalu mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Fara menutup mulutnya karena terkejut dengan kedatangan sang suami yang mendadak.


Cello memasang alat pelacak di handphone istrinya. "Mas." Fara memeluk suaminya erat. Dia sangat takut menghadapi psikopat seperti Frans.


Sesaat kemudian Cio berlari ke arah ayah dan ibunya. Namun, Frans lebih dulu menangkap Cio. Setelah itu fia menodongkan pistol ke pelipis anak kecil itu. Cio menangis histeris.


"Frans jangan apa-apakan Cio?" teriak Fara histeris. Dia hendak mendekat tapi Cello menahan Fara.


Fara mendongak. "Mas, anak kita," ucap Fara lirih.


"Tenang sayang!"


Cio anak cerdas dia pun menggigit tangan Frans. Saat dia berlari Frans hendak menembakkan pistol ke arah Cio. Namun, Cello dengan sigap berlari lalu menendang tangan Frans. Sayangnya tangan Frans sempat menarik pelatuk hingga peluru itu mengenai kaki Cello.


"Aw," Cello meringis kesakitan.


"Frans cukup! Hentikan semua ini!" teriak Fara agar Frans menghentikan kegilaannya.


"Apa yang kamu mau Frans?" tanya Fara to the point.


"Come to me, Baby!"


Cello memberi kode pada istrinya agar tidak mendekat tapi Fara tetap melakukannya. Orang-orang yang menonton itu tidak bisa berbuat apa-apa karena laki-laki itu mengambil kembali senjatanya yang sempat terjatuh.


Fara melangkah dengan berderai air mata. Tiba-tiba seseorang memberanikan diri untuk memukul bagian punggung Frans sehingga dia jatuh tersungkur. Beberapa orang lalu mengamankannya.


Fara terduduk lemas lalu menangis sesenggukan. Cio memeluk ibunya sambil menangis. Cello pun menghampiri anak dan istrinya.


"Mas, kakimu?"


"Tidak apa-apa. Hanya luka kecil," ucapnya agar Fara tidak khawatir.

__ADS_1


...♥️♥️♥️♥️...


VOTE nya yang kenceng ya


__ADS_2