MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 42


__ADS_3

Malam ini Fara tidur di samping suaminya dengan posisi duduk. Tak lama kemudian Fara merasakan pergerakan tangan suaminya. Fara pun mengumpulkan nyawanya untuk bangun. "Mas, kamu sudah sadar?" tanya Fara pada suaminya.


Cello tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja. Maaf membuatmu khawatir," ucapnya dengan lirih. Dia ingin bangun tapi Fara menahannya.


"Mas, tetaplah berbaring. Kamu belum sembuh benar," ucap Fara yang mencemaskan suaminya.


"Berapa lama aku tidur di sini? Aku ingin pulang."


"Baru sehari. Jangan membuatku susah mas. Kamu masih perlu perawatan dokter, jangan coba-coba kabur dari rumah sakit," ancam Fara.


"Bukankah besok kamu kuliah?" Fara mengangguk. "Mama akan menjagamu besok pagi."


"Biar aku antar besok."


"Mas. Tidurlah lagi ini sudah larut biarkan aku tidur juga agar besok tidak telat kuliah. Aku berangkat dari sini." Fara menaikkan selimut suaminya hingga di atas dada.


"Istriku galak sekali."


"Aku hanya ingin kamu cepat sembuh, Mas. Aku tidak mau lama-lama tidur di rumah sakit. Apa kamu tidak merindukanku," goda Fara.


Cello tersenyum miring. "Untuk apa menunggu, sekarang pun aku bisa menyentuhmu," balas Cello.


"Jangan macam-macam. Lukamu itu akan lama keringnya jika kamu banyak bergerak seperti ini. Jadilah anak baik dan menurutlah apa kataku." Fara mendaratkan kecupan singkat di kening suaminya.


"Kok cium di kening sih sayang. Di sini dong!" Cello menunjuk bibirnya.


"Dasar iblis mesum. Nanti kalau kamu sudah sembuh."


"Tapi sayang..."


"Tidur!"


Waktu terus berjalan matahari mulai menampakkan sinarnya. Fara bangun lalu bersiap-siap ke kampus. Sementara itu Cello masih terlelap. Fara tak mau membangunkan suaminya. Tak lama kemudian Mama Cindy datang. "Ma," sapa Fara.


"Kamu naik apa?" tanya Mama Cindy.


"Taksi. Titip suamiku ya, Ma." Mama Cindy mengangguk. Fara pun mencium tangan mama mertuanya lalu pergi.


"Eh, dia sudah sarapan apa belum ya? Aku lupa bertanya pada Fara," gumam Mama Cindy.


Fara menunggu taksi yang lewat di depan rumah sakit. Namun, sebuah mobil berhenti di depannya. Anwar keluar dari mobil tersebut. "Ayo naik!"


Fara pun menurut. Dia sama sekali tidak sungkan pada bawahan sekaligus sahabat suaminya itu. "Mas Anwar kok lewat sini? Bukannya arah ke kantor tidak lewat sini ya?" tanya Fara bingung.

__ADS_1


"Aku sengaja agar bisa mengantarkan kamu," jawab Anwar dengan jujur.


"Ah maaf merepotkan." Fara merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Sudah seharusnya aku melayani istri atasanku." Fara tersenyum menanggapi ucapan Anwar. Dia sudah menganggap Anwar sebagai keluarganya sendiri.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan gerbang kampus tempat Fara menuntut ilmu. "Makasih buat tumpangannya," ucap Fara pada Anwar. Laki-laki itu hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan area kampus.


"Fara," panggil Gita yang baru turun dari taksi.


"Hai, Git. Baru dateng juga?" Gita mengangguk.


"Lho baju-baju yang aku beliin kok nggak dipakai sih Git?" protes Fara ketika melihat penampilan Gita masih seperti dulu.


"Kebagusan, Ra. Sayang tahu."


"Yah, aku kecewa nih," guraunya menggoda Gita.


"Ah maaf deh. Besok aku pakai ya," bujuk Gita agar temannya itu tidak lagi merajuk padanya.


"Yuk kita cari gedungnya," ajak Fara. Mereka pun berjalan bersama.


"Yang tadi nganterin kamu itu siapa, Ra?" tanya Gita penasaran.


"Kakak kamu?" tanya Gita lagi.


"Bukan, dia itu bawahan suamiku di kantor," jawab Fara.


Gita terkejut mendengar jawaban Fara. Dia lebih tidak percaya gadis yang seumuran dengannya sudah berstatus istri saat ini. "Jadi kamu beneran sudah nikah, Ra?" Fara mengangguk.


"Kenapa? Kamu malu ya punya teman yang sudah menikah kata aku?" tanya Fara penasaran. Jujur dia minder karena merasa khawatir teman-temannya akan menghina dia di kampus.


"Kamu ko ngomong gitu sih? Aku justru iri sama kamu. Di umur kamu yang semuda ini sudah punya suami. Dia izinin kamu kuliah lagi. Berarti suami kamu itu orang baik," ucap Gita menarik kesimpulan. Fara hanya tersenyum menanggapi ucapan Gita.


"Eh di sini ya gedungnya?" tanya Fara memastikan.


"Iya, keknya. Kita masuk dulu yuk," ajak Gita. Mereka pun duduk bersebelahan.


Fara dan Gita serius mengikuti kuliah. Usai kuliah Gita mengajak Fara makan bakso di warung depan kampus. "Yah, sorry Gita. Next time aja ya. Aku mesti buru-buru balik," jawab Fara seraya meringkas buku-bukunya yang berserakan.


"Ya udah deh," jawab Gita agak kecewa.


"Maaf, ya. Next time aku janji aku mau makan bakso bareng kamu. Aku yang traktir, Oke?" Gita mengangguk senang.

__ADS_1


Setelah itu Fara berjalan lebih dulu keluar dari gedung fakultasnya lalu dia menunggu taksi di depan kampus.


Rendy tak sengaja melihat Fara dari kejauhan. Ketika dia hendak menghampiri Fara lebih dulu masuk ke dalam taksi. "Sial. Aku pengen minta maaf sama kamu, Ra," gumam Rendy yang tidak bisa menyusul Fara.


Fara kembali ke rumah sakit pukul tiga sore. "Maaf, Ma. Aku baru sampai. Apa mama capek? Mama oleh pulang sekarang kalau mau," ucap Fara.


"Baiklah, besok mama akan kembali lagi," kata Mama Cindy.


"Maaf ya Ma merepotkan." Fara merasa tidak enak pada mertuanya.


"Tidak usah sungkan, Nak. Cello juga anak mama," jawab Mama Cindy dengan bijak. Sebagai seorang ibu dia akan senang hati menjaga anaknya.


"Mas kamu sudah makan?" Cello mengangguk.


"Sudah minum obat?" Cello mengangguk lagi.


"Apa kata dokter?" tanya Fara pada suaminya.


"Besok pagi aku sudah bisa pulang." Fara tidak mempercayai ucapan suaminya.


"Nanti aku tanya pada dokter. Aku tidak percaya ucapanmu." Fara mencolek hidung mancung suaminya. Cello terkekeh karena istrinya tahu kalau dia sedang becanda.


"Ya sudah aku mau bersih-bersih dulu. Habis itu baru temani kamu," pamit Fara sebelum ke kamar mandi.


"Jangan lama-lama sayang," teriak Cello.


Sementara Fara mandi, Cello melihat handphone Fara yang diletakkan di meja kecil dekat ranjangnya berbunyi. Cello pun melihat nama yang tertulis di layar handphone milik istrinya.


"Rendy? Ngapain kunyuk itu menelepon istriku?" geram Cello. Dia pun mengangkat teleponnya.


"Hallo, Fara," panggil Rendy melalui sambungan telepon.


"Istriku sedang mandi," jawab Cello dengan suara beratnya.


Rendy pun terkejut. "Aku ingin bicara dengan Fara."


"Jangan coba-coba lagi hubungi istriku. Kamu dengar dia sudah bersuami," ucap Cello dengan tegas lalu menutup teleponnya.


Cello pun memblokir nomor tersebut lalu menghapusnya. "Mulai sekarang kamu tidak bisa lagi mendekati istriku," gumam Cello dengan kesal.


"Mas, lagi ngapain?" tanya Fara yang baru keluar dari kamar mandi. Saking terkejutnya Cello malah menjatuhkan handphone Fara hingga pecah.


"Hah, ya ampun handphoneku," ucap Fara sambil terisak.

__ADS_1


__ADS_2