MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 74


__ADS_3

Daisy tidak bilang pada keluarganya kalau dia akan menjalani operasi. Daisy malu jika orang lain mengetahui dirinya penyakitan. "Sayang, apa tidak sebaiknya kita kabari orang tuamu dulu. Mereka juga berhak tahu," kata Anwar memberi saran pada istrinya.


Daisy menggelengkan kepala. "Sebaiknya tidak usah, Mas. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir padaku," tolak Daisy.


"Baiklah terserah kamu saja."


Sesaat kemudian Daisy dibawa ke ruang operasi untuk menjalani operasi pengangkatan penyakitnya. Anwar menunggu di depan ruang operasi selama hampir 4 jam lamanya.


Kemudian setelah operasi berhasil Daisy dipindahkan ke ruang rawat pasien. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Anwar ketika istrinya sudah sadar.


"Aku baik-baik saja semoga setelah ini kita bisa mendapatkan keturunan."


Daisy sangat berharap dengan diangkatnya penyakit yang dia derita maka kesempatan untuk hamil akan terwujud. "Tentu saja."


Setelah itu Anwar kembali ke kantor. Cello bertanya pada bawahan sekaligus adik iparnya itu. "Daisy ke mana kata Papa hari ini dia tidak pergi bekerja?" tanya Cello.


"Dia hanya kurang enak badan," jawab Anwar berbohong.


"Oh baiklah. Aku kira dia kenapa-kenapa."


Usai pulang kerja Anwar kembali ke rumah sakit untuk menemani Daisy. Tidak disangka ketika dia berjalan menuju ke ruangan istrinya, dia bertemu dengan Laras, tetangga yang dulu pernah merawat sang Ibu sebelum meninggal.


"Mas Anwar."


"Laras, kamu bekerja di sini?" Anwar melihat Laras berpakaian ala suster rumah sakit.


"Iya Mas. Mas Anwar sendiri sedang apa di sini?" tanya Laras heran.


"Ada kerabatku yang sakit aku ingin menjenguknya." Lagi-lagi Anwar berbohong pada orang lain.


"Oke baiklah aku kembali bekerja dulu, Mas," pamit Laras. Anwar mengangguk paham.


Setelah itu Anwar masuk ke dalam ruangan Daisy. Dia melihat sang istri sedang tertidur lelap. Anwar duduk di sofa yang disediakan rumah sakit itu.


Anwar merasa sangat lelah sehingga dia tertidur di sofa. Tak lama kemudian Daisy bangun dia terkejut ketika melihat suaminya sudah berada di ruangan tempat dia dirawat. Saat Desi ingin mengambil air tangannya tidak sampai karena perutnya masih sakit jika digunakan untuk bergerak sehingga gelas itu terjatuh.

__ADS_1


Prank


Suara berisik itu membuat Anwar bangun. "Kamu ngapain?"


"Aku hanya ingin mengambil air minum, Mas."


"Biar aku saja." Anwar membantu Desi untuk bangun kemudian dia memberikan segelas air minum kepada istrinya.


"Terima kasih Mas."


"Kamu tahu hari ini aku harus berbohong pada semua orang. Ayahmu bertanya kepada Cello dan aku bilang kalau kamu sedang tidak enak badan."


"Lalu kamu berbohong pada siapa lagi?" tanya Daisy penasaran.


Anwar menjadi gugup ketika akan menjawab. "Aku tidak sengaja bertemu dengan temanku ketika aku akan memasuki ruangan ini," jawab Anwar berbohong.


"Maafkan Aku Mas. Aku tidak bermaksud menyuruhmu untuk menjadi pembohong, tapi aku hanya tidak ingin anggota keluargaku yang lain merasa khawatir padaku. Aku tahu mereka sangat menyayangiku. Jika mereka tahu aku operasi pasti mereka sangat sedih."


"Ya sudah tidak apa-apa sekarang istirahatlah."


"Besok aku ingin pulang, aku tidak mau Papa dan Mama curiga."


Lagi-lagi dia bertemu dengan Laras. "Belum pulang, Mas?" tanya Laras ketika mereka berpapasan.


"Belum. Aku ingin mengurus administrasi kepulangan saudaraku besok," jawab Anwar.


"Jangan berbohong Mas. Bukankah yang ada di ruangan itu adalah istrimu."


Sial ternyata Laras mengetahuinya. "Kamu pasti bertanya pada bagian administrasi bukan? Laras sebenarnya apa maksud kamu?" Tanya Anwar curiga.


"Kenapa kamu dulu mau menikahi wanita seperti dia Mas? Bukankah aku lebih cantik dari istrimu. Aku juga lebih muda darinya. Aku tahu kalian belum memiliki keturunan. Apa kamu mau menikah denganku? Aku subur, aku bisa memberimu berapapun anak yang kamu mau."


"Laras kamu tidak sopan." bentak Anwar.


"Maaf, Mas sampai sekarang aku tidak bisa melupakanmu. Kamu cinta pertamaku dan sampai kapanpun. Kalau kamu mau aku rela menjadi istri keduamu asalkan kita bisa bersama."

__ADS_1


"Minggir! Aku ingin mengurus ke bagian administrasi."


Laras memberi jalan pada Anwar. "Jika kamu membutuhkanku suatu saat nanti aku akan datang kepadamu secara sukarela."


Anwar tidak menggubris omongan Laras. Menanggapi wanita seperti Laras hanya akan membuat rumah tangganya hancur dengan hadirnya orang ketiga.


Usai mengurus administrasi kepulangan Daisy besok, Anwar menuju ke sebuah bar untuk menenangkan pikiran.


"Hai ganteng, kamu sendirian aja mau aku temani?" Seorang wanita malam mendekati Anwar ketika dia sedang minum sendirian.


"Aku tidak butuh teman," tolak Anwar.


"Jangan berbohong, sepertinya kamu sangat kesepian. Apa kamu sedang patah hati?" Wanita itu masih berusaha keras membujuk Anwar. Tangannya mengusap ke bagian dada bidang laki-laki itu. Tapi Anwar segera menepis tangannya.


Brak


Semua orang melihat ke arah Anwar. "Sudah aku peringatkan kamu untuk minggir tapi kamu tidak peduli pada ucapanku. Jangan salahkan aku jika aku berbuat kasar padamu." Anwar pergi setelah mengatakan itu.


Kepalanya sangat pusing karena mabuk. Dia berjalan sempoyongan mencari keberadaan mobilnya. Ketika dia berjalan kakinya menyandung sesuatu. Anwar pun terjatuh. Kemudian seorang wanita menolong Anwar.


"Daisy." Anwar mengira wanita itu adalah istrinya.


Setelah itu wanita itu membawa Anwar masuk ke dalam taksi. Dia tidak peduli walaupun Anwar membawa mobil sendiri karena dia tidak bisa menyetir jadi dia putuskan untuk menaiki taksi sampai ke kosannya.


Tangan Anwar memeluk gadis yang dia kira istrinya itu dengan erat. "Sayang, Apa kamu sudah sembuh? Kenapa kamu bisa berada di sini?"


Gadis itu tidak menjawab karena kalau dia menjawab Anwar akan mengenali suaranya. Sejak pulang bekerja tadi dia mengikuti Anwar.


Ketika Anwar masuk ke dalam sebuah bar dia menunggu di luar hingga Anwar keluar sendiri. Saat dia melihat Anwar terjatuh gadis yang mengenal Anwar sangat baik itu segera menolongnya dan membantu Anwar bangun.


"Kamu tidak bisa lepas lagi dariku, Mas," gumamnya dalam hati.


Anwar memicingkan mata ketika dia turun di sebuah tempat yang dirasa asing. "Kita di mana, Sayang?"tanya Anwar.


"Masuklah dulu!"

__ADS_1


Samar-samar Anwar mengingat suara tersebut. Dia menyipitkan mata untuk mengenali wanita yang berdiri di hadapannya saat ini. "Laras?"


Apakah Anwar mau mengikuti Laras masuk ke dalam kosannya? Atau Anwar akan kembali setelah dia mengetahui kalau wanita yang dihadapannya itu bukanlah sang istri?


__ADS_2