
Fara bangun lebih dulu. Dia melihat wajah tampan suaminya masih terlelap ketika dia membuka mata. Fara tersenyum mengingat percintaannya semalam.
"Aku sudah tidak perawan," gumamnya sambil tersenyum malu-malu.
Cello sebenarnya sudah bangun ketika merasakan pergerakan istrinya. Tapi dia pura-pura tidur. Rasanya dia ingin tertawa mendengar ucapan istrinya tapi dia tahan. Cello takut Fara tersinggung jika dia tertawa.
Fara pun hendak bangun tapi yang dia rasakan badannya seperti habis dipukul oleh ibu tirinya. "Seperti kena pukulan ibu tiri. *Njir sakit semua," umpatnya secara terang-terangan.
Cello pun tak bisa lagi menahan tawa. Dia tertawa mendengar ucapan sang istri. "Apaan sih?" tanya Fara kesal melihat tingkah suaminya yang menyebalkan pagi ini. Fara mengerucutkan bibirnya. Cello jadi tergoda.
"Kamu pengen lagi, Yang? Pagi-pagi udah mancing," cibir Cello.
"Dih, nggak ada kolam ya. Apa yang mau dipancing?" balas Fara dengan ketus.
"Tuh bibirnya minta dicium lagi kan? Kalau nggak ngapain manyun-manyun gitu? Nah ketahuan kan siapa yang mesum?" ledek Cello habis-habisan. Wajah Fara bersemu merah. Dia pun menyibak selimutnya dan berdiri. Tapi dia kaget ketika melihat tubuhnya masih polos.
"Oh my God."
Cello pun menggendong dengan sekali hentakan. Dia reflek mengalungkan tangannya ke leher sang suami. "Eh eh mau ngapain?" tanya Fara.
"Mandi barenglah," jawab Cello dengan entengnya. Wajah Fara bersemu merah.
Cello mengisi bak mandi dengan air dan sabun hingga berbusa. Lalu dia mengajak istrinya masuk. Mereka melakukan kegiatan panas pagi ini di dalam kamar mandi.
Readers bayangin sendiri. Othor takut dosa kebanyakan adegan panas 🤣
Hampir satu jam berada di dalam kamar mandi, Fara mulai kedinginan. Cello yang pengertian pun mengambil handuk untuk istrinya. "Maaf aku terlalu bersemangat," ucap Cello agak menyesal. Fara hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Sudah jam delapan, kamu telat berangkat kerja," kata Fara.
"Jangan khawatir sayang, Anwar pasti sudah mengatur semua pekerjaanku," kata Cello dengan percaya diri.
__ADS_1
Sementara itu di kantor Anwar benar-benar dibuat kalang kabut karena jam meeting bersama klien tinggal setengah jam lagi tapi Cello belum juga sampai ke kantor. Dia sudah mencoba menghubungi Cello tapi panggilannya tidak dijawab.
Setelah itu dia menghubungi Fara. "Hallo, Mas Anwar," jawab Fara.
"Pak Cello ada?" tanya Anwar melalui sambungan telepon.
"Suamiku sudah berangkat setengah jam yang lalu," jawab Fara.
"Anwar," panggil Cello. Entah sejak kapan dia tiba-tiba berdiri di belakang Anwar.
"Pak, klien sebentar lagi datang," ucapnya memberi tahu. Sesaat kemudian dia mengamati leher Cello. "Pak, apa anda mengalami KDRT? Kenapa leher bapak memar?" tanya Anwar pada atasannya.
"Hish kamu ini. Apa kamu tidak tahu ini namanya tanda cinta. Makanya segeralah menikah," ledek Cello pada bawahannya itu.
Anwar membulatkan mata mendengar ucapan Cello. Tentu saja dia tak berpikir sejauh itu. Pikirannya masih polos.
"Atur ulang jadwalnya," perintah Cello pada bawahannya seenak jidatnya itu.
"Pak, izinkan saya yang memimpin rapat. Jika anda tidak mau hadir karena tanda cu*pang itu maka biarkan saya yang mengambil alih tugas anda," ucapnya meminta izin.
"Lakukan sesukamu," ucap Cello tanpa memandang ke arah Anwar. Anwar pun pergi untuk mengambil alih rapat.
Sementara itu Cello menghubungi istrinya. "Hallo sayang, kamu lagi apa?" Sebuah pertanyaan konyol yang tidak pernah dilontarkan oleh Cello selama ini. Tapi demi bisa mengobrol dengan istrinya Cello sengaja memulai pembicaraan lebih dulu.
"Aku tidak ada kegiatan. Bagaimana kalau aku mendaftar ke kampus lagi?" tanya Fara meminta izin.
"Baiklah, tapi ada syaratnya," kata Cello pada istrinya melalui sambungan telepon.
"Apa?"
"Aku yang akan mengantar jemput mu setiap hari. Lalu bilang ke semua orang kalau aku suamimu."
__ADS_1
Fara tersenyum mendengar ucapan suaminya. Itu artinya Cello benar-benar telah mengakui dirinya sebagai istrinya secara utuh.
"Iya, aku akan mengumumkan ke seluruh dunia kalau kamu suamiku," jawab Fara.
Setelah mengobrol panjang dengan suaminya Fara berencana untuk memasak makanan spesial untuk suaminya saat pulang nanti. Tapi ketika dia melihat isi kulkasnya dia tak mendapati satu pun bahan makanan. "Ah waktunya berbelanja," gumam Fara.
Ketika dia baru keluar dari unit apartemen miliknya, dia terkejut ketika Rendy berdiri di depan pintu. "Rendy, mengagetkan saja."
"Fara apa kabar? Sudah lama aku tidak melihatmu."
"Maaf, waktu itu aku mengalami kecelakaan dan aku koma selama hampir sebulan lamanya," ucap Fara memberi tahu. Rendy terkejut dengan ucapan Fara.
"Syukurlah kamu sudah sembuh. Maaf aku kira kamu sengaja menghindariku,"kata Rendy dengan wajah sendu.
"Handphoneku rusak jadi aku tidak bisa menghubungi kamu, maaf," timpal Fara. Dia terpaksa berbohong agar Rendy tidak berpikir macam-macam. Rendy pun mengangguk paham. Dia berpikir kalau handphone Fara pasti rusak ketika dia mengalami kecelakaan. Rendy mengira Fara kecelakaan di jalan raya. Fara tidak menjelaskan secara detail bagaimana dia bisa mengalami kecelakaan.
"Aku mau keluar," kata Fara. Secara tidak langsung dia mengusir Rendy tapi sepertinya dia tidak peka.
"Aku antar ya!" Rendy menawarkan tumpangan.
"Nggak usah aku sudah pesan taksi. Mungkin sudah menunggu di bawah," tolak Fara. Rendy pun tidak mau memaksa. Dia takut Fara akan menjauhinya. Rendy membiarkan Fara pergi seorang diri.
Sementara Fara sedang asyik memilih bahan makanan di bagian sayuran, Mitta datang menemui Fara. Dia yang tak sengaja melihat Fara berbelanja sendirian tak melewatkan kesempatan untuk bicara dengan istri Cello tersebut.
"Heh, gadis murahan!" panggil Mitta pada Fara.
Fara tak menanggapi. Dia memilih berbalik agar tidak menimbulkan keributan di tempat umum. Tapi Mitta yang kesal malah menghadang langkahnya. "Kamu pikir kamu bisa lari?" Mitta menarik rambut Fara dengan sengaja. Fara pun terpelanting hingga barang belanjaannya jatuh.
Semua orang mengarahkan pandangan mereka ke arahnya. "Apa mau kamu?" tanya Fara yang masih terduduk di lantai. Sesaat kemudian dia bangkit dan merapikan rambutnya.
"Dasar wanita murahan! Kamu pikir kamu bisa menguasai Cello." Mitta hampir saja melayangkan tangannya ke arah Fara tapi Fara menangkap tangan Mitta.
__ADS_1