MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 92


__ADS_3

Pagi ini, Fara mendiamkan Cello. Dia hanya menyediakan telur rebus dan nasi sebagai sarapan. "Sayang, kamu nggak masak pagi ini?" tanya Cello.


"Aku malas," jawab Fara ketus.


Cello pun berdiri dari tempat duduknya. Dia memeluk Fara dari belakang. "Apa kamu capek, hm?" tanya Cello seraya menjatuhkan kepalanya di atas bahu Fara.


Fara melepas pelukan suaminya. "Mas, aku mau bangunin Cio dulu." Cello jadi kecewa.


Cello mengekori istrinya. "Apa sih Mas? Jangan kaya anak kecil deh."


Cello tersenyum. "Sayang, maafin aku!" Tangan Cello menghadang Fara. Fara berbalik tapi Cello malah menahan istrinya dengan kedua tangan. Dia ingin mencium Fara tapi Fara menahan bibir Cello dengan satu jarinya.


"Kok nggak boleh sih Yang?" protes Cello.


"Jelasin dulu kenapa kamu bisa sama Bella?" desak Fara.


"Semalam dia tiba-tiba jatuh di dekat mobilku. Waktu itu sepi, jadi tidak ada yang dimintai tolong. Akhirnya kubawa dia ke rumah sakit. Setelah itu tidak terjadi apa-apa."


"Benarkah?" Fara tak yakin dengan penjelasan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, apakah kamu akan diam jika melihat orang lain pingsan di depan kamu?" tanya Cello meminta pendapat istrinya.


"Ya, baiklah. Kali ini aku percaya. Lalu bagaimana kabar Bella?" tanya Fara. Cello menggedikkan bahu.


"Aku tidak tahu dan itu juga bukan urusanku," jawab Cello cuek. Dia lebih tidak mau Fara makin salah paham.


"Ya sudah, sekarang boleh cium." Fara menunjuk pipinya. Tapi Cello memilih bibir Fara yang merah bagai buah cherry itu. Fara terkejut tapi sekaligus malu ketika Cello mencium bibirnya.


Belum lama mereka berciuman, Cio bangun. "Mama," panggil Cio. Cello langsung melepas pagutannya. Fara terkekeh kecil. Lalu wanita itu mengajak anaknya masuk lagi ke kamar.


"Sudah saatnya sekolah. Kita mandi dulu ya sayang."


"Hati-hati di jalan ya, Mas," pesan Fara pada Cello. Laki-laki itu meninggalkan kecupan di kening istri tercintanya. Cio melambaikan tangan pada sang ibu saat mobil mulai melaju.


Tak lama setelah kepergian mereka, tiba-tiba bel rumah Fara berbunyi. "Siapa ya datang pagi-pagi begini?" tanya Fara pada dirinya sendiri.


Fara pun membukakan pintu. Wanita itu terkejut ketika dia kedatangan Frans. "Frans, ada apa?" tanya Fara lirih. Sungguh laki-laki itu benar-benar mengusik ketenangan Fara.


"Aku hanya mampir untuk memberikan ini." Frans membawa roti lapis kesukaan Fara. Frans yang telah lama mengenal Fara masih ingat apa saja yang disukai oleh wanita idamannya itu.

__ADS_1


"Kamu tidak menyuruhku masuk?" tanya Frans. Fara ragu tapi dia terpaksa.


"Aku harap kamu tidak akan lama di sini karena..."


"Kenapa kamu tidak menungguku Fara?" sela Frans. Frans menatap ke dalam mata Fara.


"Frans kamu pergi ke luar negeri tanpa kabar bagaimana mungkin aku menunggumu?"


"Aku pergi bukan kemauanku Fara. Aku terpaksa. Sekarang aku kembali tapi kamu sudah bersama laki-laki lain." Frans memegang pergelangan tangan Fara.


"Frans lepaskan sakit, Frans." Fara berusaha memberontak tapi Frans semakin mempererat cengkeraman tangannya.


"Aku tidak terima kamu menikahi laki-laki lain selain aku Fara. Orang tua kita sudah menjodohkan kita sejak kecil bukan?"


"Bukankah orang tuamu yang mengingkari kesepakatan Frans. Mereka yang membuat kita terpisah. Frans jangan ganggu kehidupanku. Aku sudah bahagia bersama anak dan suamiku."


"Aku akan merebut kamu dari suamimu. Bukankah dia satu-satunya penghalang? Aku akan singkirkan dia!" ancam Frans sehingga membuat Fara ketakutan. Dia takut Frans berbuat nekad dan mencelakai suaminya.


'Apa yang harus aku lakukan?' gumam Fara dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2