MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 27


__ADS_3

Cello melarikan Fara ke rumah sakit. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. "Aku mohon bertahanlah Fara," ucap Cello sambil menangis. Dia sangat khawatir melihat Fara tak sadarkan diri dengan banyak darah yang keluar dari kepalanya.


Tak butuh waktu lama, Cello sampai di pelataran rumah sakit. Dia berlari untuk memanggil perawat. "Tolong istri saya," ucapnya pada salah seorang perawat yang lewat.


Setelah itu perawat tersebut mendorong brankar. Fara dipindahkan ke atas brankar. Mereka akan merawat luka Fara. Cello meraup mukanya kasar. Dia sangat mencemaskan istrinya itu.


Cello menghubungi orang tuanya. "Ma, Fara masuk rumah sakit," ucap Cello frustasi.


"Hah, bagaimana bisa? Bukankah tadi pagi masih baik-baik saja?" tanya Mama Cindy.


"Dia jatuh dari tangga, Ma. Ibu tirinya mendorong dia dari lantai atas," ungkap Cello.


"Apa? Kurang ajar sekali dia. Ya sudah mama akan ajak Daisy ke sana," ucap Mama Cindy kemudian.


"Ada apa, Ma?" tanya Daisy.


"Kakak ipar kamu masuk ke rumah sakit lagi," jawab Mama Cindy.


"Hah, kenapa lagi Ma? Apa kandungannya lemah?" tanya Daisy khawatir.


"Ya ampun mama sampai lupa kalau menantu mama sedang mengandung. Nanti mama ceritakan, sekarang kita susul abangmu di rumah sakit." Mama Cindy menarik tangan Daisy.


Cello duduk di depan ruang tunggu dengan gelisah. Kakinya dari tadi tak berhenti bergerak. Sesaat kemudian dokter yang merawat Fara keluar dari ruangan. "Apa ada kerabat pasien? tanya dokter itu.


"Ya, saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Cello pada dokter wanita itu.

__ADS_1


"Pasien mengalami cedera di bagian otaknya. Kami sudah lakukan CT scan dan hasilnya ada gumpalan darah di bagian kepalanya jadi kami akan lakukan operasi. Jika anda setuju maka anda bisa urus ke bagian admistrasi," perintah dokter itu.


"Baik, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya." Dokter itu mengangguk.


Ketika Cello sedang berjalan ke bagian administrasi dia berpapasan dengan Mama Cindy dan Daisy. "Cello mau ke mana?" tanya Mama Cindy.


Cello memeluk ibunya sambil menangis. Mama Cindy tak pernah melihat anak laki-lakinya itu menangis seperti itu. "Bagaimana keadaan Fara?" tanya Mama Cindy.


"Kepalanya cidera jadi dia harus segera dioperasi, Ma. Aku akan mengurus ke bagian administrasi dulu agar Fara cepat ditangani," kata Cello.


"Baik, pergilah. Ada di mana dia sekarang? Kami akan menunggu di sana."


"Masih di UGD, Ma." Mama Cindy dan Daisy pun berjalan ke sana sementara Cello sedang melakukan transaksi pembayaran.


Tak lama kemudian dia kembali. Dokter yang merawat mendapatkan laporan jika pembayaran sudah lunas maka operasi Fara pun akan segera dilaksanakan. Tapi sebelum masuk ke meja operasi dokter itu memberi tahu pihak keluarga pasiennya.


Cello dan keluarganya terkejut. Mama Cindy dan Daisy pun tak kuasa menangis. Dia tak sempat menanyakan bayi yang dia pikir hidup di rahim Fara. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan menantunya.


"Saya percaya pada dokter. Kami akan bantu doa dari sini, Dok," kata Cello dengan optimis. Dia yakin istrinya akan baik-baik saja. Fara bukan gadis lemah. Oleh karena itu dia berharap operasinya akan berjalan lancar.


Usai mengatakan hal itu, dokter memasuki ruang operasi. Mama Cindy mengabari suaminya. Devon pun menyusul ke rumah sakit. Dia melihat ketiga anggota keluarganya sedang berkumpul di depan rumah operasi.


Devon menepuk bahu anaknya. "Kamu yang sabar. Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Devon.


"Aku mengikuti Fara sampai ke rumahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi karena saat aku masuk dia sudah berada di bawah tangga. Namun, aku melihat ibu tirinya berdiri di ujung tangga. Aku menduga dia sengaja mendorong Fara ke bawah," ucap Cello dengan berapi-api.

__ADS_1


"Jadi Fara masih punya keluarga?" tanya Devon.


"Masih. Tapi mereka hanya ibu dan adik tiri. Fara pernah bercerita kalau perlakuan ibu tirinya padanya tidaklah baik. Dia selalu menyiksa Fara. Bahkan dia saat ini menempati rumah milik ayahnya sedangkan Fara diusir dari rumahnya sendiri."


Ucapan Cello membuat Mama Cindy murka. "Kalau mama sampai ketemu sama wanita itu mama akan jambak rambutnya. Jahat sekali dia pada menantuku," ucap Mama Cindy kesal.


"Apa kamu akan ambil tindakan pada ibu tirinya?" tanah Devon. Cello mengangguk.


"Pasti, Pa. Selama ini dia telah membuat hidup Fara menderita hingga detik ini. Bagaimana bisa aku membiarkan wanita sialan itu hidup bahagia sementara istriku sedang berjuang di meja operasi?" ungkap Cello.


"Bagus, lakukan apa yang perlu dilakukan. Terkadang memberi pelajaran pada orang yang membuat orang lain menderita itu juga perlu." Devon memberikan nasehat pada putranya.


Setelah kurang lebih empat jam menunggu, operasi Fara selesai. Dokter yang melakukan operasi keluar dari ruangan tersebut. Semua orang yang mengenal Fara pun mendekat.


"Bagaimana hasil operasinya, Dok?" tanya Cello mendahului.


"Operasinya berjalan lancar tapi kita lihat reaksi pasien beberapa jam lagi," kata dokter itu.


Tak lama kemudian Fara dipindahkan ke ruang VVIP. Cello melihat banyaknya selang yang dipasang di bagian tubuh istrinya. Dia merasa iba sekaligus bersalah karena selama ini tidak pernah berlalu layaknya suami yang baik untuk Fara.


Cello duduk di samping Fara dan memegang tangannya. "Kenapa tangan kamu dingin sekali sayang?"


Untuk pertama kalinya dia memanggil Fara dengan sebutan sayang. "Aku mohon bukalah matamu sekarang. Semua orang menunggumu sadar," imbuhnya dengan nada bergetar.


Mama Cindy tak kuasa menahan tangis. Dia meminta suaminya memeluk dirinya. Devon melakukan apa istrinya. Daisy juga terlihat sedih ketika melihat Fara tak bergerak sama sekali. Abangnya yang selalu angkuh kini berubah menjadi seseorang yang cengeng saat melihat istrinya sakit. Semua orang larut dalam kesedihan.

__ADS_1


Cello membiarkan istrinya beristirahat sementara waktu. Dia keluar untuk menghubungi bawahannya. "Anwar aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku," perintah Cello pada Anwar melalui sambungan telepon.


Apa ya kira-kira perintah Cello pada bawahannya?


__ADS_2