
"Mas Cello, Rendy, cukup! Aku bilang cukup!" Keduanya yang sedang bertengkar tak menghiraukan teriakan Fara.
Kegaduhan keduanya membuat Cio terbangun. Tak tahu bagaimana Fara menghentikan perkelahian mereka. Fara mengambil sapu lalu memukul ke arah Cello dan Rendy.
"Keluar kalian! Keluar!" Fara menutup pintu lalu menghampiri anaknya.
"Cio jangan nangis ya." Fara mencoba menenangkan Cio.
Sesaat kemudian Cello menelepon. "Sayang, bukain pintunya!" perintah Cello pada sang istri.
"Iya," jawab Fara dengan malas.
Fara pun berjalan seraya menggandeng tangan Cio. "Lho Cio kok nangis?" tanya Cello. Dia menggendong anaknya supaya tidak lagi menangis.
"Masih tanya lagi. Tadi siapa yang buat keributan?" geram Fara.
"Itu kan karena kamu yang ngajak cowok sialan itu ke sini." Cello tak terima disalahkan oleh istrinya.
"Mas, Rendy cuma bantuin aku ngangkat Cio itu aja."
"Biasanya kamu kuat gendong Cio sendirian," protes Cello.
"Sekarang nggak lagi."
"Kenapa?" tanya Cello penasaran.
"Punggung aku sakit, Mas. Udah ah ajak Cio makan."
"Emangnya udah beli?" tanya Cello.
"Belum."
"Ya idah kita makan di luar yuk!" ajak Cello seraya merayu istrinya. Fara pun tersenyum lebar.
Ketika mereka sampai di restoran, Fara protes karena Cello mengajaknya ke restoran seafood. "Yang, pindah aja yuk?" ajak Fara.
"Kok pindah? Bukannya kamu suka makan seafood?"
"Hari ini pengen makan yang lain."
"Udah Yang. Di sini aja yuk kasihan Cio kelaparan." Fara meluruhkan bau. Perutnya seakan diaduk ketika mencium bau seafood yang menyeruak di hidungnya.
"Kamu kenapa sih, Yang? Kok tutup hidung?" Cello benar-benar heran dengan sikap Fara.
__ADS_1
"Baunya nggak enak," jawab Fara ketus.
"Cobain dulu!" Cello menyodorkan kepiting ke arah Fara. Fara tak tahan lagi. Dia mual kemudian dia berlari mencari toilet.
"Cio, kamu tunggu di sini. Papa mau susul mama." Cio mengangguk patuh.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Cello melihat istrinya lemas.
"Kamu kenapa? Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tuduh Cello. Fara mengangguk sambil tersenyum.
"Aku hamil," ucapnya. Cello senang bukan main. Dia memutar tubuh Fara.
"Mas, turunin. Malau tahu dilihat banyak orang."
"Sejak kapan? Kenapa baru bilang, hm?" Cello mencubit hidung Fara.
"Aku baru tahu tadi pagi. Setiap kali aku menggendong Cio perutku kram."
"Ayo kita kasih tahu Cio kalau dia aman menjadi kakak." Fara mengangguk setuju dengan usulan suaminya.
"Lho, Cio mana Mas?" Fara panik ketika dia kembali tapi tak menemukan Cio.
"Mas, Cio di mana?" tanya Fara dia sudah tidak bisa menahan air matanya.
"Sabar sayang. Kita tanya satpam," usul Cello.
"Tidak, Pak."
Bahu Cello meluruh. Sedangkan Fara yang tak sanggup kehilangan anaknya akhirnya pingsan. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana. Cello pun menggendong Fara yang tengah pingsan. Dia membawa Fara masuk ke dalam mobil.
"Sayang, please jangan buat aku semakin khawatir."
Cello bingung ingin menghubungi siapa. Di saat seperti ini biasanya Anwar yang bisa dia andalkan. Tapi Anwar sedang sakit. Mau tak mau dia minta bantuan papanya untuk mencari tahu keberadaan Cio.
"Apa? Bagaimana bisa cucuku hilang?" Papa Devon murka mendengar ucapan Cello.
"Kerahkan anak buah papa, tolong! Aku sedang mengurus Fara yang pingsan."
"Baiklah, kamu tenang saja."
Sementara itu di tempat lain, kini Cio bersama dengan dua orang wanita yang tidak dia kenal. "Ma, mau kita apakan dia?" tanya Riska pada Miranda.
"Ajak dia pulang dulu ke rumah. Jangan sampai ketahuan Fara. Riska mengangguk.
__ADS_1
Cio merasa ketakutan sehingga dia menangis. "Mama, mama," teriak Cio.
Miranda membekap mulut anak kecil itu. "Ma, jangan kencang-kencang nanti dia tidak bisa bernafas."
Miranda menoyor kepala anaknya. "Bodoh, bernafas pakai hidung. Sudah ayo jalan!" perintah Miranda.
Dia membawa Cio ke rumahnya pada malam hari supaya tidak ada orang yang melihat mereka menyembunyikan Cio. Miranda mengikat Cio di sebuah bangku. "Ma, apa kita tidak terlalu kejam pada anak ini?" Riska takut menyakiti anak kecil berusia empat tahunan itu.
"Diikat saja tidak akan ma*ti. Heh bocah aku akan menambal mulutmu dengan plester supaya kamu tidak membuat orang lain curiga."
Cio semakin ketakutan. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Cio yang menangis semalaman akhirnya lelah dan tertidur dalam keadaan terikat tangannya.
Keesokan harinya Miranda menyiram Cio menggunakan segelas air. "Bangun!"
"Ma, jangan keterlaluan! Dia hanya anak kecil. Sudah cukup membuat Fara kehilangan anaknya. Mama mau dia mati lalu kita akan masuk ke dalam penjara?" Riska benar-benar tidak tahan dengan sikap kasar ibunya pada Cio.
Bagaimana pun dia hanya anak kecil. Diperlakukan seperti itu membuat Riska ingin menolongnya.
"Berisik kamu! Bukankah bagus kalau kita siksa anaknya seperti ini? Kita bisa balaskan dendam kita. Dia sudah membuat aku mendekam di dalam jeruji besi. Bagaimana bisa aku terima?"
"Tapi waktu itu Mama yang bersalah karena telah mendorong Fara."
"Memang kamu melihat langsung? Mereka itu nuduh mama," sangkal Miranda.
"Terserah Mama deh. Jangan bawa-bawa aku kalau sampai anak ini celaka," ancam Riska.
Gadis itu keluar dari rumahnya. Dia sungguh tidak tahan melihat ibunya yang menyiksa Cio. "Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan Mama? Kalau aku lapor Fara pasti Mama akan membunuhku?" Riska meremat kedua tangannya secara bergantian.
Tak lama kemudian Riska melihat Fara dan suaminya sedang lewat di depannya. Riska pun memalingkan wajah agar tidak ketahuan Fara. "Haduh, hampir saja." Jantung Riska berdebar kencang.
Kemudian Riska berada di sebuah hotel untuk melayani pelanggannya. Riska bekerja sebagai wanita bayaran yang diundang oleh laki-laki yang sudah beristri untuk melayaninya.
Riska menjalani pekerjaan itu lumayan lama semenjak dia duduk di bangku SMA. Riska terpaksa karena itu cara cepat mendapatkan banyak uang di tengah kehidupannya yang serba kesulitan sebab diusir oleh Fara.
"Hai, Om," sapa Riska pada pelanggannya. Dia memang mau diundang kapan saja. Pagi, siang, malam, dia selalu standby. Uang memaksa dirinya untuk menjadi wanita penghibur.
Riska pun mulai melayani pelanggannya. "Aku kurang puas dengan layanan kamu," protes pelanggan Riska.
"Maaf, Om. Aku tidak tahu kalau kepalaku tiba-tiba sakit seperti ini." Sebenarnya dia sudah beberapa hari merasakan tubuhnya yang tidak enak. Akhirnya Riska pun menyempatkan diri untuk periksa ke dokter.
"Jadi saya sakit apa, Dok?" tanya Riska.
"Apa Anda seorang pekerja se** komersial?" tebak dokter itu. Riska mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Penyakit ini memang sering ditularkan melalui pasangan. Terutama yang selalu bergonta-ganti pasangan seperti Anda. Anda terkena HIV."
Bagaimana reaksi Riska?