MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 62


__ADS_3

Devon memesan taksi untuk Lisa. Lisa menolak diantar pulang oleh laki-laki itu. Dia malah meminta Devon untuk menyusul istrinya. "Jelaskan padanya supaya tidak ada salah paham. Aku tidak mau dituduh menjadi seorang pelakor," kata Lisa sebelum masuk ke dalam taksi.


"Tenanglah! Aku akan menjelaskan semuanya pada Cindy. Istirahat dan minumlah obat kalau perlu," pesan Devon pada Lisa.


Setelah memastikan Lisa pergi, Devon masuk ke dalam mobilnya sendiri. Ketika dia sampai di rumah, Cindy membuang bantal dari dalam kamar. "Tidur di luar!"


"Ma, aku mau ambil baju sebentar," kata Devon.


"Di luar aja nanti aku ambilkan bajumu," jawab Cindy dengan ketus.


Devon meluruhkan bahu. Daisy yang melihat papanya saat akan menuruni tangga tiba-tiba memalingkan muka. Dia juga kesal mengetahui papanya berselingkuh. Itu yang saat ini ada di pikiran Daisy sebab ketika Devon ditanya dia tidak menjawab.


Sesaat kemudian Cindy melempar pakaian kering untuk Devon. "Ma, aku ganti baju di mana?" tanya Devon.


"Ganti baju di kamar tamu bawah aja."


Brak


Cindy membanting pintu kamar. Devon mengacak rambutnya frustasi. Tapi dia akan menjelaskan besok jika istrinya mulai tenang.


Mama Cindy menangis semalaman. "Jahat kamu, Mas. Kenapa kamu masih berhubungan dengan Lisa?"


Tok tok tok


Daisy mengetuk kamar ibunya. "Apa lagi, Mas?" teriak Mama Cindy dari dalam.


"Ini Daisy, Ma."

__ADS_1


Mama Cindy mengusap air matanya kemudian berjalan untuk membukakan pintu. "Ma, aku boleh tidur di sini?"


Daisy berniat menemani ibunya yang sedang sedih. Mama Cindy mengangguk.


"Ma, apa mama tahu siapa wanita yang ditolong oleh papa?" tanya Daisy penasaran.


"Dia itu wanita di masa lalu papamu. Dulu dia adalah tunangan Pak Bayu, tapi dia malah lebih tertarik pada papamu. Dia sempat menjadi orang ketiga di antara kami," terang mama Cindy menceritakan kisah masa lalunya yang berkaitan dengan Lisa.


"Siapa nama wanita itu, Ma?"


"Lisa. Walau usianya makin bertambah tapi wajahnya tidak berubah. Mama kecewa sama papamu. Kenapa dia memilih menolong wanita itu dan mengabaikan perasaan mama."


Mama Cindy menangis sesenggukan. Daisy memeluk ibunya agar lebih tenang. "Jangan berpikiran negatif, Ma. Barang kali papa menolong atas dasar kemanusiaan saja."


"Entahlah. Pokoknya besok mama mau minta kejelasan sama papa. Dia milih mama atau wanita itu. Mama nggak sanggup di madu. Lebih baik kita berpisah. Mama akan menghabiskan sisa hidup mama untuk mengurus cucu saja."


"Jangan seperti itu, Ma. Aku masih membutuhkan mama. Lagi pula mama bukan asisten rumah tangga. Sebaiknya kita dengarkan penjelasan papa besok." Mama Cindy mengangguk setuju dengan usul anak gadisnya.


Sementara itu di apartemen milik Cello, Fara sedang membaca buku seputar kehamilan sebelum tidur. "Baca apaan sih sayang? Serius banget," tegur sang suami.


"Ini Mas aku baca seputar informasi tentang ibu hamil. Aku mau merawat anak kita dengan baik," jawab Fara. Cello ikut bergabung dengan istrinya.


"Tutup dulu bukunya. Sudah malam kamu harus istirahat," kata Cello memberikan perintah pada sang istri. Fara mengangguk setuju.


"Dia lagi apa ya sekarang?" Cello mengusap perut sang istri. Fara merasa terharu. Ternyata dia sangat bahagia menjadi calon ibu. Apalagi sang suami begitu perhatian.


"Coba kamu dengarkan!"

__ADS_1


Cello yang dari awal sudah penasaran akhirnya menempelkan telinganya ke perut sang istri. "Tidak ada suara apa-apa," ucapnya sambil mendongak.


"Mungkin karena usianya masih beberapa minggu. Coba nanti kalau sudah di atas empat bulan. Mas Cello pasti bisa merasakan dia."


Cello menahan senyum. "Rupanya kamu banyak mengetahui informasi dari membaca buku itu."


"Aku sudah tidak sabar merasakan tendangan dia di perutku, Mas." Fara mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut.


"Mas berjanjilah untuk tidak berpaling dariku." Ucapan Fara membuat Cello berpikir.


"Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Cello pada istrinya.


"Mas apakah papa berselingkuh dengan wanita yang dia tolong? Kenapa papa begitu sigap menolong wanita itu dan mengabaikan mama?" tuduh Fara.


"Entahlah. Selama ini aku tidak tahu bagaimana papa di luar sana. Namun, aku berharap papa bukan laki-laki seperti itu. Pasti ada alasan yang tidak kita ketahui."


"Semoga papa bisa menjelaskan pada mama." Fara berharap tidak ada masalah besar yang timbul setelah Devon menolong wanita yang tidak dia kenal itu.


"Tidur sayang!" Cello mengecup kening istrinya dengan sayang.


Keesokan harinya Devon menunggu istrinya di meja makan tapi sepertinya tidak ada tanda-tanda istrinya itu akan keluar. "Daisy, papa akan berangkat kerja sekarang."


"Nanti aku akan berangkat bareng Mas Anwar," kata Daisy memberi tahu.


Devon merasa menyesal telah menolong Lisa pada acara semalam. Tapi jika dia tidak menolong wanita itu maka Lisa bisa mati tenggelam.


Ketika Devon badu saja memarkirkan mobilnya. Lisa menghampiri. "Lisa, ada urusan apa ke sini pagi-pagi?" tanya Devon.

__ADS_1


"Lisa! Mau lari ke mana kamu?" Suara bariton itu membuat Lisa ketakutan.


Kira-kira siapakah dia?


__ADS_2