MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 35


__ADS_3

Fara menagih janji pada Cello agar dia mau mendaftarkannya ke kampus. "Jadi kapan aku bisa kuliah. Aku juga ingin merasakan jadi anak kuliahan seperti yang lain," rengek Fara.


Cello mengacak gemas rambut istrinya. "Baiklah, baiklah. Biar Anwar saja yang urus semuanya. Kamu tinggal masuk ke kampus," kata Cello pada istrinya. Fara merasa senang akhirnya dia akan merasakan jadi anak kuliahan.


"Tapi sayang bagaimana kalau kamu hamil?" tanya Cello. Fara tersedak ludahnya sendiri.


"Ah belum tentu jadi kan, Mas," jawab Fara. Ada ketakutan tersendiri pada dirinya. Dulu dia menginginkan anak tapi sekarang dia takut fokus belajarnya terganggu.


Usai sarapan, Cello berpamitan pada istrinya. "Jangan kelayapan. Di rumah aja. Kalau ingin pergi jangan pergi sendirian. Minta temani Daisy atau mama," pesan Cello pada istri kesayangannya itu.


"Siap bosku," gurau Fara. Dia memberikan sebuah kecupan di pipi suaminya. "Sudah sana berangkat!" usirnya. Cello melambaikan tangan.


Di tempat lain, Daisy yang akan menuju ke kantor tempat dia melamar kerja malah mengalami kempes ban mobil di jalan. "Sial banget sih pagi ini," gerutunya.


Jalan sangat ramai tapi dia bingung harus meminta tolong pada siapa. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di belakang mobilnya. Pemilik mobil itu keluar dengan memakai setelan jas hitam yang rapi. "Perlu bantuan?" tanya Anwar.


"Ya ampun kebetulan sekali. Mas Anwar seperti dewa penolongku. Ayo antar aku ke tempat kerja. Nanti jangan lupa suruh orang ambil mobilku ya. Benerin di bengkel," perintah Daisy seenaknya.


Setelah itu, gadis itu masuk ke dalam mobil Anwar. Anwar hanya bingung pada Daisy. Ditanya sekali jawabnya berkali-kali. "Mas Anwar ngapain berdiri di situ? Ayo masuk!" perintah Daisy pada bawahan kakaknya itu.


"Kita ke mana?" tanya Anwar.


"Ke perusahaan tempat aku melamar kerja Mas. Hari ini aku ada interview nggak boleh telat jadi Mas Anwar lebih baik naikkan sedikit kecepatan mobilnya."


Anwar memenuhi permintaan Daisy. Namun, ketika sudah sampai Daisy malah marah-marah. "Mas Anwar rambutku berantakan nih. Mana boleh penampilan aku kaya gini?" kesal Daisy karena Anwar membawa mobil tidak kira-kira.


Anwar menahan tawa. "Tadi katanya suruh ngebut," sindirnya.


"Naikin kecepatan buat ngebut ya. Bener-benar nih Mas Anwar. Nanti aku bilangin Abang biar dipecat tahu rasa," ancam Daisy. Tapi Anwar tak mengindahkannya. Dia tahu kebiasaan Daisy dari kecil suka marah-marah nggak jelas.


Setelah itu Daisy turun dari mobil Anwar. Bukannya berterima kasih dia malah membanting pintu mobil. Anwar hanya menggelengkan kepalanya.


Kemudian laki-laki itu berbalik arah menuju ke kantornya. "Tumben telat," tegur Cello pada bawahannya.


"Maaf. Tadi nganter Daisy dulu. Aku bertemu dia di jalan. Mobilnya kempes," terang Anwar secara mendetail.

__ADS_1


"Anwar cari universitas untuk Fara. Dia akan masuk kuliah tahun ini," perintah Cello pada bawahannya.


"Dia ingin masuk jurusan apa?" tanya Anwar.


"Ah, aku lupa menanyakannya. Tunggu sebentar." Cello pun merogoh ponsel miliknya.


"Sayang kamu ingin kuliah jurusan apa?" tanya Cello pada istrinya.


"Desain interior," jawab Fara.


"Wah pas sekali aku akan menggunakan jasamu nanti jika akan renovasi hotelku," kata Cello menjawab ucapan istrinya.


"Baiklah, aku akan menutup teleponnya."


"Cari jurusan design interior di kampus yang terdekat saja. Aku tidak mau dia kecapekan saat banyak kegiatan di kampus." Anwar mengangguk paham.


Sementara itu Daisy gagal dalam sesi wawancara. "Dasar perusahaan tidak kompeten. Kalian ini bukan apa-apa dari perusahaan ayahku," gumamnya kesal.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Daisy. "Maaf anda menghalangi jalan saya," kata laki-laki itu. Bukannya minggir Daisy malah mematung ketika melihat ketampanan laki-laki tersebut.


"Hallo." Laki-laki yang tak dikenal namanya itu melambaikan tangannya di depan wajah Daisy.


"Dari mana datangnya malaikat setampan itu?" gumamnya sambil melihat punggung laki-laki yang semakin menjauh itu.


Sesaat kemudian Daisy tersadar. Dia pun keluar dari perusahaan itu kemudian menaiki taksi. Daisy menuju ke hotel ayahnya.


Brak


Daisy mendobrak pintu ruangan Devon. "Papa, beri aku pekerjaan!"


"Dasar gadis nakal. Bagaimana bisa masuk ke ruangan papa tapi dengan cara tidak sopan seperti itu," tegur Devon.


Daisy pun menelusupkan tangannya ke perut papanya. "Papa, aku mau terima tawaran papa yang waktu itu," rayunya.


"Yang mana? Menikah dengan anaknya om Daniel?" gurau Devon.

__ADS_1


Daisy mengurai pelukannya. "Papa," protes Daisy. Devon pun terkekeh mendengarnya.


"Ya sudah mulai besok kamu kerja di perusahaan papa." Daisy senang mendengar keputusan papanya.


"Saya akan berusaha jadi yang terbaik Pak," ucapnya secara formal. Setelah itu keduanya tertawa.


"Ini bukan latihan militer."


Meninggalkan Daisy. Fara sedang gabut karena seharian tidak ada pekerjaan. "Masak sudah, beres-beres juga sudah. Bosen banget di rumah kaya gini," ucapnya sambil membetulkan posisi tidurnya yang semula miring menjadi tengkurap.


Pada akhirnya gadis itu ketiduran sampai sore. Cello sudah pulang dari bekerja dia masuk ke unit apartemen miliknya. Cello mencari keberadaan Fara ternyata dia sedang tertidur di sofa depan ruang televisi.


Cello duduk tepat di hadapan istrinya. Tangannya menyematkan anak rambut ke belakang telinga Fara. Cello menopang dagunya sambil memandangi wajah istrinya yang cantik.


Tanpa dia duga Fara membuka matanya. Gadis itu memilih bangun. "Mas kok duduk di bawah?" Fara pun menepuk sofa yang kosong di sebelahnya.


Cello melakukan apa yang diminta istrinya kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu Fara. "Kebalik tahu seharusnya aku yang menyandarkan kepalaku di bahumu." Cello terkekeh mendengar ucapan istrinya.


Cello mengira lantas mengangkat kepalanya. Dia merangkum pipi istrinya lalu matanya sibuk menjelajahi wajah sang istri. "Kenapa wajahku kusam ya?" tanya Fara pada suaminya.


Cello menggeleng. "Bukan, aku sedang mengagumi wajah istriku."


Fara mendorong tubuh Cello. "Gombal banget. Udah berapa wanita yang kamu gombalin seperti itu?" tanya Fara.


"Hanya kamu," jawabnya setelah itu Cello menempelkan bibirnya ke bibir Fara. Fara tersentak kaget tapi sesaat kemudian dia membalas ciuman suaminya.


"Mas aku belum mandi," ucapnya malu karena Fara tidak sadar dia akan tidur sampai sore.


"Kalau begitu lakukan saja di kamar mandi." Wajah Fara bersemu merah. Cello menggendong istrinya dan Fara mengalungkan tangannya ke leher Cello. Mereka kembali menempelkan bibir hingga masuk ke dalam kamar mandi.


♥️♥️♥️



Cello Genandra Felix

__ADS_1



Faraya Adisti


__ADS_2