
Hari ini Mama Cindy mengadakan acara empat bulanan kandungan Fara. Cello mengundang beberapa teman dan saudara mereka.
Acara empat bulanan yang digadang sederhana malah terkesan meriah karena banyaknya tamu yang hadir. Semua orang yang datang pun mendapatkan souvernir.
Orang-orang yang datang mengikuti pengajian dan makan-makan bersama. Mama Cindy yang notabene pemilik rumah makan mensuplay makanan dari restorannya sendiri.
"Sayang, kamu nggak makan?" tanya Cello ketika melihat Fara sedang duduk diam saja.
"Kamu lagi ngapain sih? Dari tadi aku perhatikan malah melihat tamu-tamu undangan?" tanya Cello penasaran.
"Aku sedang menghafal wajah-wajah saudaramu. Sebelumnya aku kan tidak pernah bertemu dengan mereka," jawab Fara. Cello tertawa mendengar jawaban sang istri.
"Kamu ada-ada saja, sayang. Kalau mau kenal sama mereka ajak ngobrol dong," usul Cello.
Sesaat kemudian Marsel, anak Ruby mendekati Fara. "Tante, adek kapan lahir?" tanya Marsel.
Semua orang yang mendengar ucapan anak itu pun tertawa. Lain hal dengan Marsel yang bingung kenapa dia ditertawakan. "Nanti sayang, kalau udah sembilan bulan," jawab Fara dengan lembut.
Usai acara empat bulanan yang begitu melelahkan, Fara menginap lagi di rumah Mama Cindy. "Mas, besok pagi aku ada kuliah jam tujuh, jangan lupa bangunin ya," pesan Fara pada suaminya.
__ADS_1
"Iya, sayang. Kamu tidur saja dulu. Aku harus melanjutkan pekerjaanku." Cello membawa pekerjaan ke rumah. Dia sedang berkutat dengan laptopnya.
Ketika Fara akan memejamkan mata dia tiba-tiba merasa lapar. Fara pun terbangun. Cello yang menyadari istrinya belum tidur akhirnya menoleh. "Ada apa, sayang?" tanya Cello.
"Mas, pengen nyemil. Aku lapar. Tadi di acara kita aku nggak sempat makan," rengek Fara.
"Ya ampun, kamu ini ada-ada saja, sayang," ucap Cello sambil terkekeh. Cello pun beranjak dari tempat duduknya menuju ke lantai dasar kediaman ayahnya.
Namun, ketika dia menuruni tangga dia melihat Anwar dan Daisy kembali membujuk ayahnya. "Pa, aku sudah pernah tidur dengan Mas Anwar. Apa papa masih menentang hubungan kami?" ungkap Daisy yang membuat semua orang kecewa.
Plak
Daisy memegangi pipinya yang terasa panas. "Ma, aku cinta sama Mas Anwar," kata Daisy.
"Tapi apa perlu kamu berhubungan badan sebelum menikah?" bentak Mama Cindy.
Cello yang mendengar itu kemudian berjalan cepat dan memukul Anwar. Anwar jatuh tersungkur. "Ba*ji*ngan kamu! Selama ini aku percaya kamu akan melindungi Daisy tapi kamu malah merusak adikku," umpat Cello.
Fara yang mendengar teriakan suaminya memilih turun. Dia terkejut ketika melihat Cello memukuli Anwar. "Mas Cello," panggil Fara agar sang suami mengehentikan kegiatannya.
__ADS_1
Fara berjalan perlahan menuruni tangga. Cello menyusul istrinya dan membiarkan Anwar tergeletak. Daisy tentu saja tidak tinggal diam. "Mas Anwar." Daisy menangis sesenggukan.
"Mas apa yang terjadi?" tanya Fara. Dia tidak tega melihat keadaan Anwar yang penuh dengan luka.
"Tidak apa-apa sayang. Ayo kita masuk lagi ke kamar." Cello tentu tidak membiarkan istrinya yang sedang hamil melihat perdebatan antara sang ayah dengan Daisy.
"Pa, apa belum cukup Mas Anwar membuktikan kalau dia mau menikahi aku? Mas Anwar bukan lelaki breng*sek. Aku yang memintanya lebih dulu bukan dia," ungkap Daisy. Padahal mereka melakukannya secara bersama-sama bukan siapa yang lebih dulu mengajak siapa.
"Daisy," bentak Devon. "Papa kecewa kamu telah memberikan kehormatanmu pada laki-laki seperti dia," geram Devon pada putrinya sendiri.
Daisy mengusap air matanya dengan kasar. "Awalnya aku berharap agar anak Mas Anwar tumbuh di rahimku sehingga papa tidak akan bisa menentang hubungan kami, tapi aku salah perhitungan sehingga aku tidak hamil."
"Daisy kamu tahu apa yang kamu lakukan ini melanggar norma."
"Iya, Ma. Aku tahu. Maka dari itu tolong restui kami, Pa. Apa papa akan membiarkan kami terus menerus berzina?"
Devon memicingkan mata. "Aku bisa saja membuang dia hanya dengan menjentikkan satu jari. Namun, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada anakku. Nikahi dia secepatnya." Devon memberikan keputusan.
Daisy tersenyum bahagia. Anwar juga demikian. Setelah itu, Mama Cindy memanggil satpam dan meminta dia mengantar Anwar ke rumah sakit. Walau pun sempat dimarahi dan dicaci tapi Anwar tetap diperlakukan baik oleh keluarga Daisy.
__ADS_1
Setelah mendapatkan pengobatan, Anwar kembali ke rumahnya. Dia tinggal seorang diri setelah ibunya meninggal. Dia merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Tapi dia sadar kalau dia memang pantas mendapatkan apa yang seharusnya dia terima.