
Daisy menunggu kepulangan suaminya. Dia sudah tidak sabar memberi tahu pada Anwar tentang kabar kehamilannya saat ini.
Sesaat kemudian Anwar membuka pintu rumahnya. Daisy berjalan menyambut suaminya dengan perasaan riang.
"Mas sini aku bantuin bawa tasnya." Daisy meraih tas kerja suaminya. Anwar jadi heran dengan sikap manis Daisy.
"Ada apa sih? Dari tadi aku perhatikan senyum-senyum terus," tanya Anwar.
"Aku punya hadiah buat kamu, sebentar aku ambilkan." Daisy menaruh tas Anwar di sofa kemudian dia memberikan sebuah kotak.
"Apa ini, sayang?" tanya Anwar pada Daisy heran. "Aku nggak sedang berulang tahun," imbuh Anwar.
"Buka saja!" perintah Daisy. Anwar pun menuruti permintaan istri tercintanya. Anwar terkejut ketika melihat sebuah tespek di dalam kotak hadiah itu. Dia mengangkat tespek itu.
"Ini punya siapa sayang?"
"Punyaku," jawab Daisy sambil tersenyum malu-malu. Anwar oun melotot tak percaya. Sesaat kemudian dia menangis.
"Mas kenapa kamu meneteskan air mata?" Daisy pun mengusap air mata suaminya.
__ADS_1
Anwar memeluk Daisy dengan erat. "Apa aku bermimpi?" tanya Anwar memastikan.
Daisy mengurai pelukan suaminya. "Tidak, Mas. Aku pun awalnya tidak percaya tapi aku sudah periksa ke dokter dan hasilnya aku beneran hamil." Anwar kembali memeluk erat istrinya.
"Aku bahagia sayang. Terima kasih." Daisy mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Mulai saat ini kamu tidak usah bekerja. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada kandunganmu ini sayang."
"Baiklah, aku pun berpikir demikian. Besok aku akan bilang pada papa untuk berhenti bekerja." Daisy setuju pada usulan suaminya. Dia sudah lama menantikan buah hati jari tidak ada salahnya kalau dia menjaga dengan baik anaknya itu.
"Aku sudah siapkan makanan untukmu. Mari kita makan setelah Mas bersih-bersih." Anwar mengangguk setuju.
Devon menutup laptop yang ada di hadapannya. "Kenapa tiba-tiba kamu membuat keputusan sebesar ini? Siapa yang akan bantu papa di kantor kalau bukan kamu?" tanya Devon bingung.
"Karena aku ingin fokus menjaga anakku," jawab Daisy. Devon berpikir sejenak. Dia baru sadar sesaat kemudian.
Devon berdiri dari kursi kebesarannya. "Kamu hamil?" tanya Devon memastikan bahwa dia akan segera memiliki cucu dari anak bungsunya itu. Daisy mengangguk sambil tersenyum.
Devon berjalan menuju ke arah putrinya. "Papa sangat senang mendengar kabar ini? Katakan! Apa papa orang yang terakhir kalau kamu hamil?"
__ADS_1
"Bukan, Pa. Papa orang kedua setelah Mas Anwar. Aku belum beritahu yang lain karena aku baru tahu kemaren setelah memeriksakan kesehatan ke dokter," ungkap Daisy.
"Ajaklah suamimu makan malam di rumah papa. Kita beri tahu abangmu dan istrinya juga," usul Devon. Daisy mengangguk setuju.
Setelah itu Devon mengabari Cello. "Ada apa, Pa?" tanya Cello pada sang ayah melalui sambungan telepon.
"Nanti malam papa akan adakan acara makan besar. Datanglah ke rumah bersama anak dan istrimu," perintah Devon pada putra sulungnya.
"Dalam rangka apa, Pa?" tanya Cello penasaran.
"Kamu akan tahu nanti," jawab Devon setelah itu dia mengakhiri panggilan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Anwar. Kebetulan saat itu mereka sedang membahas bahan meeting besok.
"Papa ngajak aku dan Fara ke rumah untuk makan malam. Apa kamu tidak mendapatkan kabar dari papa untuk datang ke sana?" tanya Cello.
Anwar menggedikkan bahu. "Mungkin Daisy yang diberitahu papa," jawab Anwar dengan muka sendu. Hingga saat ini dia masih menganggap Devon belum bisa menerima dirinya dengan penuh.
Cello mengerti perasaan Anwar. Dia menepuk bahu adik iparnya itu. "Papa pasti akan luluh padamu suatu saat nanti. Bersabarlah!" Anwar mendongak. Di saat seperti ini Cello bisa dijadikan orang yang bisa diandalkan.
__ADS_1