
Hari ini Fara berbelanja kebutuhan bulanan. Dia pergi sendiri karena Cio diajak oleh Mama Cindy ke rumahnya. Tiba-tiba troli yang dibawa Fara tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Fara.
"Fara." Laki-laki itu menyebut nama Fara dengan jelas.
Fara mengamati laki-laki tampan yang berdiri di hadapannya. "Frans?" Fara menyebut nama laki-laki itu dengan ragu.
Frans Carlo adalah teman masa kecil Fara. Dulu mereka bertetangga, tapi suatu ketika orang tua Frans ditugaskan ke luar negeri sehingga Frans ikut pindah. Kejadian itu terjadi sebelum ayah Fara menikah dengan Miranda.
"Long time no see," ucap Frans.
"Maaf aku sempat tidak mengenali kamu. Tapi aku ingat kalung yang selalu kamu pakai," kata Fara.
"Aku selalu memakai kalung ini karena ini pemberian seseorang yang sangat berarti untukku," jawab Frans.
Deg
Fara merasa ucapan Frans mengandung arti lain. "Oh, sepertinya aku harus pergi untuk menjemput anakku, Frans. Duluan ya." Fara mencoba menghindar.
"Fara tunggu!" Frans menghentikan Fara.
"Ada apa?" tanya Fara dengan ragu.
"Apa aku boleh minta nomor teleponmu?" tanya Frans.
"Oh, aku jarang bawa handphone. Aku juga tidak hafal dengan nomorku," jawab Fara berbohong.
"Owh, baiklah. Bisakah kita bertemu lagi kapan-kapan?" Fara hanya mengangguk. Fara tidak ingin Frans mengharapkannya.
"Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Fara. Frans tersenyum tipis.
Fara melihat aura dingin Frans. Dia jadi bergidik ngeri. "Bagaimana bisa dia kembali ke sini?" gumam Fara di dalam taksi.
Ketika perjalanan pulang, tiba-tiba taksi yang dinaiki Fara mengalami ba bocor. "Pak kok berhenti?" tanya Fara panik.
__ADS_1
"Bannya sepertinya kempes, Bu," jawab sopir taksi tersebut. Fara meluruhkan bahu.
Dia berniat menelepon suaminya. Tapi sebuah mobil yang berhenti di samping taksi yang dia tumpangi mengalihkan perhatian Fara.
"Frans." Fara menyebut nama laki-laki yang keluar dari mobil tersebut. Jantung Fara berdebar kencang saat Frans berjalan mendekati mobil taksi yang dia tumpangi. Fara masih diam di dalam mobil taksi.
Dia melihat Frans mengobrol dengan sopir taksi tersebut. Rupanya Frans berniat membantu sopir itu mengganti ban mobilnya. Fara merasa tak enak telah berpikiran yang bukan-bukan. Akhirnya Fara keluar dengan perasaan lega ketika sopir taksi tersebut menyuruhnya keluar.
"Fara? Jadi dari tadi kamu berada di dalam mobil taksi ini?" tanya Frans memastikan. Fara mengangguk malu.
"Pak, sebaiknya antar saja ibu ini. Uangnya tidak usah dibayar tidak apa-apa," kata sopir taksi tersebut.
Frans menoleh ke arah Fara. "Fara apa kamu bersedia aku antar pulang?" tanya Frans pada wanita yang dia idamkan. Fara mengangguk pelan.
Fara merasa tidak enak jika menolak Frans dua kali. "Aku ambil barang-barangku dulu," kata Fara sebelum naik di mobil mewah Frans.
"Biar aku saja," ucap Frans dengan lembut. Dia pun mengangkat belanjaan Fara lalu memindahkan ke mobilnya.
"Terima kasih," ucap Fara ketika Frans membukakan pintu untuknya. Frans juga mengembangkan senyum lebar di wajahnya yang tampan. Selain itu, dia menutupi bagian kepala Fara agar tidak terbentur pintu.
Frans tersenyum tipis. "Kenapa kamu memejamkan mata? Aku hanya ingin memasang sabuk pengaman saja."
Ya, Fara lupa memasang sabuk pengaman karena saking gugupnya berada di samping Frans. Setelah itu, laki-laki tampan tersebut menyalakan mesin mobilnya.
"Di mana rumahmu?" tanya Frans pada Fara. Fara gugup menjawab pertanyaan laki-laki yang tak lain teman masa kecilnya dulu.
'Bagaimana jika Frans bertemu dengan Mas Cello nanti?' Fara benar-benar takut jika suaminya murka saat mengetahui istrinya diantar oleh laki-laki lain.
Ketika Fara sampai di depan rumahnya, Frans ikut turun. "Boleh aku masuk?"
Pertanyaan Frans tak langsung dijawab oleh Fara. Dia sangat keberatan meski mereka saling mengenal. "Frans, aku sudah menikah sekarang. Aku tidak bisa mengajak laki-laki lain masuk ke dalam rumah di saat suamiku tidak ada," kata Fara menjelaskan dengan hati-hati.
Frans tersenyum miring. "Aku kecewa ketika kamu menolakku memberikan nomor telepon ketika di supermarket tadi. Sekarang aku tahu alasan kamu tidak memberikan nomor teleponmu," balas Frans.
"Maaf, aku lupa memberi tahumu. Bisakah kamu pulang sekarang? Aku tidak mau suamiku salah paham," ucap Fara setengah memohon.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Frans.
Sebelum laki-laki itu naik ke mobilnya, tanpa disangka Cello baru saja tiba. Saat Cello turun dari mobil jantung Fara berdegup kencang. "Fara, siapa dia?" tanya Cello yang menatap tidak suka pada Frans.
Tapi Frans menanggapi dengan tenang. Dia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri di hadapan Cello. Cello tak membalas uluran tangan tersebut. Frans pun menurunkan tangannya.
"Mas, dia ini Frans tetangga aku dulu," kata Fara menjelaskan. Dia tentu saja tidak mau suaminya cemburu ataupun salah paham.
"Frans, katanya mau balik? Hati-hati ya," usir Fara secara halus. Selain itu dia tidak mau suaminya murka pada laki-laki itu.
Frans mengangguk. "Aku permisi," pamit Frans. Fara memeluk lengan suaminya. Lalu melambaikan tangan pada Frans.
Tiba-tiba tubuh Fara melayang. "Mas, apaan sih? Turunin, aku takut," pinta Fara pada suaminya.
"Kamu berani-beraninya mengajak laki-laki lain ke rumah. Kamu harus dihukum," ucap Cello seraya membawa Fara masuk ke dalam kamar.
"Memangnya kamu mau hukum aku apa?" tantang Fara.
Cello tersenyum menyeringai. Dia ingin mencium leher sang istri tapi Fara mengalihkan pandangannya. Cello merasa aneh. "Kenapa?" tanya Cello.
"Aku menolak berhubungan badan dulu denganmu," jawab Fara. Cello tak mengerti. Seharusnya dia yang menghukum istrinya tapi keadaan malah berbalik padanya.
"Kamu tidak ingat atau perlu aku ingatkan?" tanya Fara.
"Sayang, apa yang terjadi? Apa aku membuat kesalahan?" tanya Cello bingung.
Fara tersenyum sinis. "Bukankah semalam kamu bersama Bella?"
Deg
Cello terkejut dengan ucapan istrinya. Dari mana Fara tahu padahal jelas-jelas semalam tak ada seorang pun yang berada di lokasi. "Sayang, aku bisa jelaskan!" Cello ingin memeluk istrinya tapi Fara menepis tangan Cello.
"Kenapa baru sekarang? Lalu semalam kamu sengaja berbohong, Mas?" Cello tidak tahu harus menjawab apa?
Kira-kira bagaimana tanggapan Cello agar bisa menenangkan istrinya?
__ADS_1