
Hari ini Cello mengajak istrinya pulang ke apartemen lebih dulu. Nanti malam barulah dia akan ke rumah mamanya.
Cello menata bantal untuk sandaran Fara. "Kamu istirahat dulu ya. Jangan banyak bergerak!"
"Mas, aku nggak sakit kok," protes Fara.
"Kata dokter kamu harus banyak istirahat, sayang. Pekerjaan rumah biar aku cari pembantu infal atau jasa tukang bersih. Kalau urusan makan kita delivery aja. Kamu boleh pesan sesuka hatimu."
Mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut suaminya tiba-tiba Fara menginginkan sesuatu. "Aku pengen makan rujak," rengek Fara pada Cello.
"Siap, Nyonya! Akan aku belikan. Kalau perlu aku bawa penjualnya ke sini."
Fara terkekeh. "Nggak usah banyak-banyak. Tapi jangan pedas ya!"
"Iya, sayang. Sambil nunggu aku cari rujak. Kamu bisa tiduran." Fara mengangguk.
Setelah menaikkan selimut istrinya, Cello keluar dari kamar. Dia mengendarai mobil untuk mencari penjual rujak. Namun, tak satupun penjual rujak yang dia temui. Akhirnya dia datang ke rumah orang tuanya lalu meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan rujak.
"Lho Cello acaranya kan nanti malam," seru Mama Cindy.
"Ini ma Fara pengen makan rujak. Aku sudah cari tapi nggak nemu satupun," jawab Cello.
"Ya sudah mama taruh dulu belanjaan mama. Nanti malam ajak dia ke sini."
"Oke, Ma. Aku pamit ya, rujaknya udah selesai. Aku meninggalkan Fara sendirian di apartemen." Cello membawa satu kotak bekal yang berisi rujak kemudian dia pamit pulang.
Cello mengendarai mobil secepat mungkin agar segera sampai di rumah. Ketika dia dalam perjalanan menuju ke apartemennya, Cello melihat mobil sang ayah. "Papa mau ke mana?" gumam Cello. Dia ingin mengikuti tapi Cello lebih memilih untuk mengutamakan istrinya.
__ADS_1
Setelah sampai di parkiran, Cello segera turun dari mobil. Dia tak sabar memberikan pesanan rujak itu pada istrinya. "Sayang, ini aku sudah bawakan rujak pesanan kamu."
Cello menyodorkan kotak bapperware yang berisi rujak pada istrinya. "Kok bungkusnya bagus begini? Beli di mana?" tanya Fara.
"Aku minta bibi buat bikinin. Soalnya aku sudah muter-muter nggak nemu sayang."
Fara menahan senyum. "Makasih ya Mas udah dibawain rujaknya." Cello mengangguk. "Apapun yang kamu minta akan aku berikan."
"Aku cicipi ya?" Cello menopang dagu saat melihat istrinya memakan rujak. Fara mengambil sepotong buah kedondong yang rasanya pastilah masam menurut Cello. Lelaki itu hampir saja meneteskan air liurnya.
"Asem nggak?" tanya Cello.
"Manis kok. Cobain deh!" Fara menyodorkan potongan kedondong ke mulut suaminya. Cello mencoba mengunyah kedondong itu. Namun, sesaat kemudian dia melepehnya.
"Ya ampun asem banget, Yang," protes Cello pada istrinya. Fara tertawa karena berhasil mengerjai suaminya.
"Kamu ngerjain aku ya?" Fara mengangguk tanpa rasa bersalah. Cello kemudian menggelitiki tubuh istrinya.
"Awas ya! Apa kamu mau aku hukum hm?" Cello menciumi ceruk leher istrinya. Fara jadi mende*sah.
Sesaat kemudian mereka saling menempelkan bibir. Cello melakukannya dengan lembut. Tapi Fara sepertinya lebih bersemangat membalas ciuman suaminya. Dia ingin suaminya melakukan lebih. Cello juga ingin tapi sesaat kemudian dia melepas pagutannya.
"Aku takut melukai bayi kita." Dia menempelkan dahinya ke dahi sang istri. Fara merasa sedih. Untuk mengurangi kesedihan Fara, Cello memeluknya.
"Lain kali aku akan tanya pada dokter soal ini. Aku juga tidak tahan jika dekat denganmu," bisik Cello ke telinga Fara. Wajah Fara jadi bersemu merah.
"Nanti malam kita ke rumah mama ya? Mereka mengundang kita untuk makan malam," kata Cello memberi tahu pada istrinya. Fara mengangguk setuju.
__ADS_1
Saat malam tiba, Fara diminta suaminya berdandan cantik malam ini. "Emangnya makan malamnya dalam rangka apa sih, Mas?" tanya Fara penasaran. Dia tidak ingat hari ulang tahunnya sendiri karena selama ini dia tidak pernah merayakan hari kelahirannya itu.
"Sudah ikut saja." Cello pun memberikan lengannya agar Fara melingkarkan tangan ke lengan suaminya itu.
Ketika mereka sampai di kediaman keluarga Devon, Cello membukakan pintu untuk istrinya. Setelah itu dia menutup mata Fara. "Kok pakai ditutup segala sih mataku, Mas," protes Fara.
"Diam dulu. Pegang tanganku lalu jalan pelan-pelan!" perintah Cello pada istrinya.
Sesampainya di halaman belakang, Cello membuka penutup mata istrinya. Fara terkejut sekaligus bahagia ketika suami dan keluarganya menyiapkan pesta kecil-kecilan. "Mas." Fara menoleh pada suaminya.
Bagian belakang rumah mereka disulap dengan dekorasi balon dan lampu yang banyak. Mama Cindy mempersiapkan dengan baik pesta perayaan ulang tahun untuk menantu kesayangannya.
Mama Cindy berjalan mendekat ke arah Fara. "Selamat ulang tahun, sayang." Mama Cindy memeluk erat Fara.
Daisy dan Papa Devon juga memberikan ucapan selamat. Terakhir, Cello mengucapkan selamat ulang tahun sambil memakaikan kalung ke leher Fara. Semua itu atas bantuan mama Cindy. Fara jadi terharu. "Terima kasih semuanya. Aku bahkan lupa dengan tanggal kelahiranku," ucapnya sambil menangis sesenggukan.
Cello memeluk istrinya agar lebih tenang. Setelah itu mereka merayakan ulang tahun Fara dengan bakar-bakaran. "Sayang kamu mau jagungnya nggak?" tanya Cello pada istrinya.
"Boleh."
"Ma, ini konsepnya kok aneh sih? Kita udah dandan sekeren ini terus dekorasinya juga oke tapi kenapa malah bakar-bakaran?" tanya Cello heran.
Mama Cindy dan yang lainnya tertawa mendengar protes yang diajukan Cello. "Karena istrimu sedang hamil muda. Mama takut kalau dia mencium bau-bau amis masakan seperti daging dan semacamnya dia malah nggak suka,"terang mama Cindy. Cello manggut-manggut.
Tak lama kemudian seseorang hadir di antara mereka. Daisy menghampiri laki-laki tersebut. "Ma, Pa kenalin, pacar baru aku."
Semua orang terkejut ketika Daisy memperkenalkan Anwar sebagai pacar barunya. Bagaimana reaksi Devon? Apakah dia akan setuju dengan hubungan Anwar dan Daisy?
__ADS_1
...♥️♥️♥️...
Like dan komennya ditunggu