MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 21


__ADS_3

"Hah hamil? Mama ada-ada saja. Mana bisa dia hamil orang aku saja tidak pernah menyentuhnya," batin Cello. Dia tidak mungkin bilang pada mamanya kalau mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri.


Mama Cindy menengok menantunya yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Saat itu Fara baru saja sadar. "Sayang, kamu sudah siuman?" tanya Mama Cindy.


"Kepalaku masih pusing," kata Fara.


Mama Cindy melihat pipi Fara lebam dan membandingkan dengan wajah Cello. "Ya ampun kenapa wajahmu begini sayang? Siapa yang melukai kamu?" tanya Mama Cindy heboh.


"Apa Cello mukul kamu?" tuduh wanita itu.


"Bukan aku, Ma," elak Cello. Karena memang bukan dia yang memukul Fara hingga pingsan.


"Lalu kenapa? Ceritakan pada mama!" desak Mama Cindy. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada pasangan suami istri tersebut.


"Suami, aku pengen pulang," rengek Fara.


"Lho kok pulang sekarang sayang kamu kan baru masuk rumah sakit. Infusnya aja belum habis tuh," ucap mama Cindy.


Fara tiba-tiba merasakan pusing. Lalu dia ingin muntah. "Huek, huek."


Mama Cindy dengan telaten memijit tengkuk menantunya. "Mual banget ya? Nggak apa-apa hamil muda memang wajar kalau mual muntah."


Fara jadi menoleh pada Mama Cindy. "Hah, hamil?" tanya Fara yang bingung. Lalu dia bertanya pada Cello dalam diam. Cello hanya menggedikkan bahu. Fara jadi menarik kesimpulan kalau ibu mertuanya itu salah paham.


"Ya ampun kamu pasti belum tahu ya tanda-tanda hamil muda," ucap Fara ketika melihat ekspresi wajah menantunya yang bingung.


"Mama seneng banget sayang akhirnya mama mau punya cucu. Nanti mama akan kabari papa sama Daisy. Sepulang dari rumah sakit nanti kita rayakan kehamilan kamu ini," ucap Mama Cindy sambil memeluk menantunya.


Cello jadi menepuk jidatnya. Mamanya sudah salah sangka. Sedangkan Fara malah menahan senyum. "Apa itu artinya dia akan menghamili aku?" batinnya bersorak. Fara tahu Cello pasti tidak tega jika menyakiti hati mamanya. Jadi kemungkinan dia akan mewujudkan keinginan sang ibu, pikir Fara. Dia membayangkan malam pertama bersama suaminya.


"Kamu istirahat saja dulu, mama mau pulang, jangan lupa minum obat biar kamu cepat sembuh," pesan Mama Cindy sebelum keluar dari ruangan.


Setelah kepergian mama Cindy, Fara merengek minta pulang. Dia menyibak selimut lalu mencopot infus secara paksa. "Fara apa yang kamu lakukan?" tanya Cello khawatir.

__ADS_1


"Aku pengen pulang," ucapnya. Sesaat kemudian dia memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Dokter belum mengizinkan kamu pulang, jangan membantah!" Cello mendudukkan Fara secara paksa.


"Aku juga ingin tahu kamu hamil apa tidak," tuduh Cello. Fara menatap tajam pada suaminya.


"Memangnya aku hamil anak siapa?"


"Mana aku tahu, jangan-jangan kamu hamil anak Rendy."


Fara merasa tersinggung. "Kapan sih mulut kamu itu berbicara manis?" Dia memalingkan mukanya.


Di tengah pertikaian suami istri itu, seorang perawat datang mendekat. "Permisi, saya mau memperlihatkan hasil pemeriksaan Ibu Fara." Perawat itu itu memberikan sebuah map pada Cello.


"Jadi bagaimana hasilnya, Sus?" tanya Cello. Meskipun dia membaca tapi dia tidak mengerti istilah medis yang tertera di sana.


"Istri anda mengalami gegar otak ringan. Bukankah dia mengalami mual dan pusing?" tanya perawat itu memastikan. Fara mengangguk membenarkan ucapan perawat wanita itu. Ketika Rendy memukulnya, Fara terjatuh dan kepalanya membentur tanah dengan keras mungkin itu yang menyebabkan dia gegar otak.


"Jadi dia tidak hamil?" tanya Cello memastikan.


Perawat itu tersenyum. Dia berpikir jika Cello tidak sabar memiliki momongan. "Mungkin anda harus berusaha lebih keras lagi, Pak," ledeknya.


"Sus, tolong pasangkan kembali infusnya!" perintah Cello. Perawat itu pun memenuhi permintaan laki-laki itu. Setelah selesai dia keluar dari ruangan Fara.


Fara menahan senyum. "Apa?" tanya Cello ketus.


"Jadi kamu kecewa kalau ternyata aku tidak hamil?" ledek Fara.


"Cih, siapa bilang? Aku hanya bingung bagaimana menjelaskan pada mama nanti?" tanya Cello meminta pendapat.


"Ya kalau gitu tinggal diwujudin saja keinginan mama," ucap Fara dengan entengnya. Wajah Cello jadi memerah. Dia lebih memilih keluar dari ruang perawatan tersebut.


Fara dirawat selama dua hari di rumah sakit. Selama itu Cello dengan sabar menunggui istrinya. "Fara kamu mau apa?" tanya Cello.

__ADS_1


"Aku ingin ke toilet," jawabnya. Cello langsung menggendong Fara.


"Eh, eh lepasin," perintah Fara.


"Jangan bergerak nanti kamu jatuh," ucap Cello. Fara pun pasrah ketika Cello membawanya ke toilet dengan cara digendong. Fara reflek mengalungkan tangannya ke leher Cello.


"Ya ampun, jantungku rasanya ingin loncat saja," gumam Fara dalam hati.


"Aku tunggu di luar," kata Cello dengan lembut. Dia menurunkan istrinya setelah sampai di toilet. Ruangan tempat Fara dirawat lumayan luas sehingga Fara perlu berjalan beberapa langkah jika ingin sampai ke toilet.


Cello masih menunggu istrinya di depan toilet itu. Fara terkejut ketika dia masih berdiri di sana. "Ya ampun ngagetin saja."


Cello ingin menggendongnya tapi Fara menolak. "Aku bisa jalan sendiri," ucapnya merasa tidak enak.


Cello pun tak memaksa gadis itu. Dia merangkul Fara lalu menuntun dia sampai ke tempat tidurnya. "Istirahatlah!" Cello menaikkan selimut istrinya.


"Aku ingin pulang," rengek Fara.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka kalau aku di sini bersamamu?" goda Cello. Wajah Fara memerah karena malu.


"Jangan membuatku baper. Kamu selalu memberiku harapan palsu. Dasar tukang PHP," ucap Fara menggerutu. Cello gemas sekali melihat tingkah Fara yang sedang ngambek seperti itu. Dia selalu ingin menggodanya terus dan terus. Rasanya dia kesepian jika tidak ada Fara.


Wajah Cello berubah serius. "Apa rencana kuliahmu masih akan berlanjut?" tanya Cello.


Fara mengangguk. "Jangan halangi aku. Aku tidak punya tujuan hidup yang pasti jadi aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk belajar setelah berpisah denganmu nanti," ucap Fara sambil menunduk. Dia menangis sedih.


Cello mengangkat dagu Fara. "Kenapa kamu menangis?" tanya Cello dengan lembut. Mereka saling bersitatap. Saat itu tanpa sadar Cello menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Fara terkejut tapi dia hanya bisa pasrah ketika sang suami menciumnya secara mendadak.


Cello tak hanya mencium sekilas dia menyesap dan melu*mat bibir Fara dengan lembut. Fara pun menjadi terbuai. Entah sejak kapan tangannya mengalung di leher suaminya. Mereka saling membalas ciuman. Ketika Fara mulai kehabisan oksigen, Cello pun melepas pagutannya. Mereka saling terengah-engah dan menempelkan dahinya.


"I love you."


Hayo siapa yang bilang I love you duluan?

__ADS_1


__ADS_2