MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bab 58


__ADS_3

"Selamat pagi," sapa dokter perempuan yang mengunjungi ruangan Fara.


"Bagaimana hari ini? Apa ada keluhan?" tanya dokter tersebut.


"Pagi ini saya mual muntah, Dok," jawab Fara.


Dokter cantik itu tersenyum. "Tidak apa-apa wajar, Bu. Nanti saya akan kasih tambahan vitamin supaya mengurangi mual dan muntahnya ya."


"Kapan saya boleh pulang, Dok?" tanya Fara.


"Hari ini juga sudah boleh pulang, Bu," jawab dokter itu. Setelah selesai memeriksa Fara dokter itu keluar.


"Sayang aku mau telepon Daisy sebentar." Fara mengangguk.


"Hallo Daisy."


"Ada apa, Bang? Kalau soal kado, bunga sama kuenya nanti mama yang ngurus."


"Fara pulang hari ini."


"Apa? Kalau gitu nanti aku kasih tahu mama. Apa hadiahnya butuh pagi ini?" tanya Daisy panik.


"Tidak, nanti malam saja kita adakan pesta di rumah mama. Aku ingin mengadakan perayaan untuk kehamilan istriku."


"Baiklah, aku akan bilang sama mama," jawab Daisy.


Usai menelepon, Cello masuk kembali ke ruangan istrinya. "Mau aku kupaskan buah?" tanya Cello. Fara menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ayo beres-beres. Aku ingin tiduran di rumah saja," rengek Fara. Cello menghela nafas.


"Baiklah." Laki-laki itu mengacak rambut istrinya gemas.


Di tempat lain, mama Cindy pergi untuk membeli hadiah ulang tahun untuk menantunya. "Beli apa ya? Gaun, sepatu atau tas?" Mama Cindy bingung. Kemudian dia tak sengaja lewat di depan toko perhiasan. Dia pun memasuki toko perhiasan itu.


"Mau cari apa, Bu? Bisa saya bantu?" tanya salah seorang pelayan toko perhiasan tersebut.


"Saya mau cari kalung untuk menantu saya," jawab Cindy.


Kemudian pelayan toko itu memperlihatkan koleksi mereka. "Ini sebagian koleksi terbaru di toko kami."


Mama Cindy memilih sebuah kalung yang cantik dengan bandul yang sederhana tapi tetap terlihat elegan. "Bungkus yang ini, Mbak."


Sesaat kemudian Daisy menghubungi ibunya. "Hallo Daisy ada apa?" tanya Mama Cindy.


"Kak Fara pulang hari ini. Abang minta mama persiapkan acara buat merayakan kehamilan sekaligus ulang tahun Kak Fara," kata Daisy memberi tahu.


Usai menutup telepon, Mama Cindy berbelanja kebutuhan untuk acara barbeque nanti malam. Ketika dia sedang memilih sosis dan daging, keranjangnya tak sengaja menyenggol seorang wanita. "Maaf," ucap Mama Cindy.


"Cindy." Rupanya wanita itu mengenal Cindy.


Cindy memperhatikan lagi wajah itu. "Lisa?" tebak Cindy. Wanita itu mengangguk.


Lisa adalah wanita di masa lalu Devon. Dia hampir saja merusak rumah tangga yang dibangun oleh Devon dan Cindy. Waktu itu Lisa sudah bersedia pergi. Namun, kenapa dia balik lagi? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Cindy.


"Sudah lama tidak bertemu. Apa kabar kamu?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Baik. Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Cindy.


"Aku tinggal di kota ini," jawab Lisa. Wanita yang masih cantik di usianya itu tersenyum tipis.


"Oh ya, aku harus belanja karena aku ada acara malam ini. Maaf, mungkin lain kali kita bisa ngobrol lebih lama." Mama Cindy pamit meninggalkan Lisa. Dia harus menyiapkan acara nanti malam.


Perasaan Cindy tiba-tiba tidak enak sejak kemunculan Lisa. "Semoga hanya perasaanku saja," gumam Cindy sambil berjalan menuju ke kasir.


Usai membayar, dia meminta sang supir untuk mengangkat barang-barangnya. Tak lupa dia menghubungi anak buahnya untuk mengirim kue ulang tahun nanti malam. Ya, seperti yang diketahui Mama Cindy memiliki toko jue yang lumayan besar dan cabangnya ada di mana-mana.


Dulu ketika dia tidak tahu harus bekerja di mana, Mama Cindy mencoba membuat kue. Awalnya dia menjualnya di sekitar rumah lalu ketika menikah dengan Papa Devon, suaminya itu memperbesar toko yang dimiliki oleh Mama Cindy.


***


"Mas, aku sudah siap. Ayo kita keluar!" ajak Fara.


"Biar aku saja yang bawa barang-barangnya." Cello meraih tas yang berisi keperluan Fara.


Sewaktu mereka akan menuju ke parkiran, Cello kembali berpapasan dengan ibu-ibu yang dia jumpai ketika di mushola tadi pagi. "Eh, Mas yang tadi pagi," panggil ibu itu.


Cello mengangguk hormat. "Siapa, Mas?" tanya Fara. Belum sempat Cello menjawab ibu itu menyela lebih dulu.


"Ini istrinya ya?" tanya ibu itu. Cello menarik pinggang istrinya.


"Iya, Bu. Di dalam sini ada anak kami." Cello malas sekali melayani ibu-ibu yang sok kenal sok dekat itu. Dia pun mengajak istrinya pergi.


"Kenapa sih, Mas? Keliatannya nggak suka sama ibu-ibu itu?" tanya Fara.

__ADS_1


Cello tersenyum. "Nggak apa-apa, sayang." Cello mengelus rambut istrinya sayang. "Ayo masuk!" Cello membuka pintu mobil untuk istrinya. Dia akan mengajak istrinya pulang ke apartemen.


Untung aja Cello orang yang nggak suka tebar pesona ya. Dia lebih setia sama Fara ketimbang mencari perempuan lain. Apalagi yang ngaku bujang, dih.


__ADS_2