
"Arjuna jangan lupa nanti malam kita datang ke rumah Pak Devon," perintah Daniel pada putranya.
"Apa aku perlu ikut pa?" tanya Arjuna.
"Tentu saja, karena papa mau jodohin kamu sama anaknya, Daisy."
Arjuna terkejut bukan main. Dia tidak menerima perjodohan ini. "Papa come on. Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Aku sudah punya gadis pilihan sendiri, Pa," tolak Arjuna.
"Kamu jangan buat papa malu Juna. Papa sudah sepakat dengan Pak Devon untuk menjodohkan anaknya dengan kamu."
"Lebih baik jodohkan saja dia dengan Rendy."
"Adik kamu itu mana mau dia terikat. Lagi pula dia masih kuliah belum waktunya menikah. Kamu belum mengenal Daisy jadi cobalah mengenalnya," bujuk Daniel.
Arjuna pun hanya bisa pasrah. Mau tak mau dia mengikuti perintah ayahnya. "Papa juga akan mengajak Rendy dan mamamu."
Pada saatnya tiba keluarga Devon menyambut keluarga Daniel yang datang dengan anggota keluarga lengkap. "Selamat malam Pak Daniel," sapa Devon seraya menyalami calon besannya itu.
"Selamat malam, Pak Devon. Senang bisa menghadiri undangan makan malam dari anda. Saya mengajak istri dan anak-anak saya, Arjuna dan itu adiknya Rendy."
"Mari silakan masuk!" ajak Devon.
Tak lama kemudian Cello dan Fara turun dari mobil. Semua orang melihat ke arah pintu. "Maaf, saya datang terlambat," sela Cello yang mengenakan jas hitam bersama sang istri yang melingkarkan tangannya di lengan Cello.
Fara melihat ke arah anggota keluarga Daniel. Dia tidak menyangka kalau Rendy ikut di antara rombongan orang-orang itu. Fara jadi kikuk dibuatnya.
"Ini menantu saya, Fara." Fara mengangguk sopan ke arah mereka.
Deg
__ADS_1
"Menantu? Jadi selama ini dia sudah menikah dengan laki-laki yang lebih tua darinya?" gumam Rendy di dalam hatinya seraya menatap tajam ke arah wanita yang memakai gaun peach itu. Tangannya mengepal menahan amarah. Tapi dia mencoba menahan diri agar tidak mempermalukan keluarganya.
"Sebaiknya kita ke meja makan sekarang," ucap Mama Cindy.
Rendy duduk tepat di hadapan Fara. Cello menatap tidak suka pada Rendy karena dia tahu kalau Rendy terus menatap istrinya sejak tadi. "Jadi siapa yang akan dijodohkan dengan Daisy?" tanya Cello blak-blakan.
Arjuna tersedak ketika sedang makan. Ibunya mengambilkan air putih untuknya. "Cello belum waktunya bicara," tegur sang ayah.
"Kami sepakat untuk menjodohkan Arjuna dengan Daisy," kata Daniel. Daisy tersenyum malu-malu.
Cello bernafas lega karena Daisy tidak dijodohkan dengan Rendy. "Selamat Daisy," bisik Fara. Daisy mengangguk.
"Apakah kita akan segera menentukan tanggal pernikahannya?" tanya Devon.
"Tidak. Maksud saya bukankah kamu belum saling mengenal Om. Apa tidak sebaiknya kita pacaran dulu?" usul Arjuna. Padahal niatnya adalah untuk menunda pernikahan. Dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada kekasihnya nanti.
"Aku setuju dengan saran Mas Arjuna," seru Daisy. Orang tua dari kedua belah pihak pun sama-sama sepakat untuk memberi anak-anaknya kesempatan untuk mengenal satu sama lain.
"Lain kali saja, Ma. Besok aku harus bangun pagi-pagi sekali soalnya OSPEK terakhir," jawab Fara.
"Cie yang jadi anak kuliahan," ledek Daisy.
"Cie yang sekarang udah punya pacar. Ganteng lagi." Cello menatap tajam istrinya ketika Fara memuji laki-laki lain selain dirinya.
Daisy, Mama Cindy dan Devon pun terkekeh melihat anak dan menantunya itu. Fara pun bergelayut manja di lengan suaminya. "Ayo pulang Mas," ucapnya sambil tersenyum. Keduanya pun akhirnya meninggalkan kediaman Devon.
Sepanjang perjalanan pulang Cello tak bicara sepatah kata pun pada istrinya. "Mas aku minta maaf kalau aku tadi memuji calon tunangannya Daisy."
HM
__ADS_1
Hanya jawaban itu yang diberikan oleh suaminya. Fara menjadi kesal. Dia memilih untuk melihat keluar. Tapi matanya tidak bisa diajak kompromi. Tiba-tiba dia tertidur pulas. Cello melirik ke arah istrinya. Dia tersenyum tipis ketika melihat wajah damai sang istri yang sedang tertidur.
Ketika sampai di depan gedung apartemen, Cello menggendong Fara hingga naik ke unit apartemen miliknya. Sebenarnya Fara tidak benar-benar tidur tapi dia ingin mendapatkan perhatian dari suaminya.
Setelah sampai di kamarnya, Cello membaringkan tubuh istrinya secara perlahan. Ketika Cello hendak bangun Fara tiba-tiba menarik dasi suaminya hingga tubuhnya menindih sang istri. "Aw, Mas Cello berat," ucap Fara dengan nafas tercekat.
Cello tertawa lepas. "Siapa suruh menarik dasiku?" ucapnya.
"Kalau kamu ingin bermain denganku malam ini, bilang saja?" Kata-kata yang keluar dari mulut Cello membuat bulu kuduk Fara berdiri. Tangan Cello mulai memainkan benda kenyal milik istrinya.
"Mas." Fara beringsut tak karuan. Rasanya Fara ingin menepis tangan nakal suaminya itu.
Tak berhenti sampai di situ, Cello menciumi ceruk leher istrinya hingga Fara dibuat men*de*sah. Setelah puas menciumi leher, Cello menempelkan bibirnya ke bibir Fara. Fara yang telah terbuai mengikuti permainan istrinya. Semakin lama permainan itu semakin panas. Hingga Cello merobek pakaian yang dipakai oleh istrinya. Padahal gaun itu dibeli dengan harga yang tidak murah.
Namun, Fara tak peduli. Malam ini mereka lalui dengan adegan panas di atas ranjang yang selalu membuat mereka mabuk kepayang. Keduanya baru mengakhiri percintaan mereka ketika menjelang pagi.
"Aku bisa gila jika tanpamu. Jangan sekali-kali melirik laki-laki lain jika kamu tidak ingin menjadikan aku pembunuh."
"Hah pembunuh?"
"Iya, aku akan menghabisi semua laki-laki yang mencoba menggodamu," ancam Cello.
"Aku juga akan menghabisi wanita lain yang coba merayu suamiku. Aku akan menjambak, menampar bahkan menendangnya." Fara terlalu menghayati setiap perkataan yang keluar dari mulutnya hingga membuat Cello jatuh dari atas ranjang.
"Sayang, yang benar saja. Apa kamu dendam padaku? Kenapa menendangku?" bentak Cello. Fara menahan tawa. Sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk melampiaskan kekesalannya pada Cello yang terlalu cemburu pada orang lain.
"Maaf, aku hanya terlalu menghayati perkataanku," ucapnya beralasan.
Fara mengulurkan tangan pada suaminya. "Bangunlah lalu tidur di sampingku. Aku tidak mau telat di hari terakhir OSPEK besok pagi."
__ADS_1
Cello pun menuruti kemauan istrinya. Dia sudah terlalu mengantuk dan lelah untuk melanjutkan lagi. Jadi mereka berdua memilih tidur. Cello memeluk istrinya dari belakang. Dia berharap akan segera mendengar kabar baik setelah melakukan hubungan malam ini.