MAHAR 10 MILIAR

MAHAR 10 MILIAR
Bsb 54


__ADS_3

"Ra, jajan yuk di pinggir kampus tuh abang jualan lagi berjajar," ujar Gita seraya menarik lengan Fara.


"Tapi kamu yang traktir ya, Git," gida Fara. Gita mengacungkan jempol.


Kedua wanita itu berdiri di depan penjual cilok. "Aku nggak mau ini ah. Aku mau itu," tunjuk Fara ke arah penjual rujak.


"Ya ampun jangan-jangan kamu ngidam ya?" tebak Gita.


"Hush, sembarangan. Aku cuma pengen makan yang seger-seger. Nanti sekalian beli es degan yang ada di sampingnya itu tuh."


"Aku ke sana ya," pamit Fara. Gita mengangguk.


"Nanti aku susul," jawab Gita.


Fara berjalan ke arah penjual rujak tersebut. "Bang bikinin satu porsi nggak usah pedes-pedes. Kedondongnya banyakin ya!" perintah Fara pada penjual rujak itu.


Air liur Fara seolah ingin menetes ketika penjual sedang memotong kedondongnya. "Woi, Ra. Air liur kamu netes tuh," ledek Gita seraya tertawa mengejek.


"Ra, kamu nggak dijemput sama asisten suami kamu lagi?" tanya Gita.


"Siapa? Mas Anwar?" tanya Fara memastikan. Gita mengangguk.


"Kenapa tiba-tiba nanyain dia? Kamu naksir?" tebak Fara. Gita menaik turunkan alisnya.


"Boleh kali dikenalin." Gita menyenggol bahu Fara.


"Ck, cari cowok lain aja!" saran Fara. Tangannya sedang menerima sebungkus rujak yang sudah jadi. "Seger bener nih kayaknya." Fara mencicipi rujak itu dia terlihat menikmatinya.


"Lah, kenapa Ra? Apa dia sudah punya pacar?" tanya Gita penasaran. Fara mengangguk.


"Em, enak. Mau?" Fara menyodorkan sepotong buah untuk sahabatnya itu.


"Nggak, nggak. Jawab dong, Ra. Penasaran nih," rengeknya.

__ADS_1


"Adiknya suamiku naksir dia. Mas Anwar juga tapi mereka belum jadian. Tahu tuh napa," jawab Fara. Dia mengambil sepotong demi sepotong buah yang dicampur dengan bumbu rujak itu.


"Pedes nggak?" tanya Gita. Fara mengangguk. Gita menyodorkan minuman air mineral yang dia bawa.


"Berarti masih ada kesempatan rong buat aku deketin Mas Anwar. Kali aja dia bisa pindah haluan. By the way adik ipar kamu cantik nggak? Cantikan mana sama aku?" tanya Gita meminta pendapat.


Fara menelisik penampilan Gita. "Maaf nih Git, terus terang cantikan Daisy. Gaya berpakaian dia lebih kekinian dari pada kamu." Gita meluruhkan bahu.


Tin tin


Suara klakson mobil membuat kedua wanita itu menoleh. "Aku udah dijemput nih. Eh, mau nebeng nggak? Mas Anwar tuh yang jemput," kata Fara memberi tahu. Gita dengan senang hati menghampiri Fara.


"Mas, Gita mau bareng boleh ya?" tanya Fara meminta izin. Anwar mengangguk.


Gita duduk di bagian belakang. Sedangkan Fara duduk di samping Anwar. "Git, nanti kasih tahu aja alamat rumah kamu!" perintah Fara pada sahabatnya itu.


"Iya," jawab Gita dengan lirih.


"Mas Cello masih sibuk ya, Mas?" tanya Fara pada bawahan suaminya itu.


"Papa ke sana?" Anwar mengangguk.


"Ra, nanti kalau ada gang perumahan kamu masuk ya," sela Gita. Dia memberi tahu di mana Anwar harus menghentikan mobilnya.


"Oh, iya Git," jawab Fara. Fia hampir lupa kalau temannya itu sedang menumpang.


"Rumah kamu nomor berapa, Gita?"


"Nomor 6B," jawab Gita. Anwar berhenti di depan gerbang rumah yang menjulang tinggi.


"Ini rumahnya?" tanya Anwar.


"Iya, udah tahu rumahku bukan? Kapan pun kalau mau mampir pintuku selalu terbuka," kata Gita memberi kode. Fara tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Sedangkan Anwar hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


Setelah Gita turun, Anwar mengantar Fara pulang ke apartemen. "Makasih, Mas," ucap Fara ketika dia sudah turun dari mobil.


"Iya," jawab Anwar.


Setelah kepergian Anwar, Fara merasa lapar. Dia pun memesan makanan lewat delivery order. Sambil menunggu makanan sampai, Fara membersihkan diri setelah itu dia ketiduran di depan televisi.


Beberapa saat kemudian bel rumahnya berbunyi. Namun, Fara yang terlelap tidak bisa membukakan pintu. Beruntung Cello pulang lebih awal dari biasanya. Jadi ketika dia melihat kurir dia langsung membayar uang untuk membeli makanan tersebut.


"Terima kasih banyak, Pak," ucap kurir tersebut.


"Sama-sama."


Sesaat kemudian Cello membuka pintu apartemen. "Sayang," panggil Cello. Tapi Fara tak menyahut. Cello pun mencari keberadaan istrinya. "Ternyata ketiduran di sini," gumam Cello. Dia membangunkan Fara.


"Sayang, bangun!"


Fara pun bangun. "Lho Mas, kok udah ada di rumah?" tanya Fara bingung.


"Kamu yang pesan semua makanan ini?" tanya Cello menunjukkan beberapa kotak makanan yang ada di atas meja. Fara mengangguk.


"Aku lapar baru pulang kuliah, jadi aku pesan makanan. Aku malas masak, masih capek," ucapnya dengan manja.


"Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Fara. Bagaimana pun dia tak lupa melayani suaminya.


"Tidak usah. Biar aku sendiri saja. Kamu makan duluan aja," perintah Cello. Fara pun menurut. Perutnya sudah kerongkongan, lapar tak tertahankan.


Ketika Cello selesai mandi, Fara tak menyisakan makanan untuknya. "Sayang makanan tadi ke mana?" tanya Cello.


Fara menepuk perutnya. Cello melotot tak percaya. "Semuanya masuk dalam sini? Tadi kamu lari keliling lapangan atau bagaimana bisa sampai kelaparan kaya gitu?" ledek Cello.


"Nggak tahu, makanannya enak. Mulutku jadi tidak bisa berhenti mengunyah," jawab Fara enteng.


"Mas mau aku pesankan makanan lagi?" tanya Fara. Cello mengangguk. Dia masih bingung dengan perubahan pola makan istrinya. Padahal biasanya Fara akan makan sedikit sekali.

__ADS_1


"Pasti ada yang salah," pikir Cello.


♥️♥️♥️


__ADS_2