
"I love you," ucap Fara mengungkapkan perasaannya pada sang suami.
Cello menjadi terkejut. Dia tak menyangka Fara menyukai dirinya. "Ehem, aku keluar sebentar." Cello menghindar dari istrinya.
Fara memukul tempat tidurnya berulangkali. "Bego kamu Fara kenapa juga bilang cinta ke dia. Sampai kapan pun Cello nggak akan membalasnya," ucapnya sambil menangis.
Sementara itu, Anwar tiba-tiba datang ke rumah sakit. "Ada apa kamu sampai menemuiku di sini?" tanya Cello.
"Saya ingin melapor, Pak."
"Melapor tentang apa?" tanya Cello penasaran.
"Seseorang yang menyebarkan rumor gay tentang anda," imbuh Anwar. Cello mengerutkan keningnya.
"Siapa?" tanya Cello. Anwar membisikkan namanya di telinga Cello. Cello mengepalkan tangannya karena menahan marah.
Setelah dia tahu siapa yang menyebarkan rumor tersebut, Cello pulang ke rumah orang tuanya. "Ma, mama," panggil Cello dengan cara berteriak.
"Mama nggak ada, lagi pergi," kata Daisy.
"Ke mana?" tanya Cello.
"Kenapa sih, Bang? Kayaknya kesel banget."
"Kamu nggak perlu tahu. Jawab saja di mana mama?" Cello mengulangi pertanyaannya.
Daisy menggedikkan bahu. "Dia nggak bilang sama aku," jawabnya.
Cello kemudian keluar dari rumah itu dengan tergesa-gesa. Namun, saat dia sedang keluar dia tiba-tiba mematung. "Mitta," panggilnya.
Mitta merentangkan tangannya hendak memeluk Cello tapi Daisy menghalanginya. "Bukan mahrom, dilarang peluk-peluk," ucapnya ketus.
"Long time no see," kata Mitta sambil tersenyum lebar.
"Kak Cello katanya mau pergi, sana susul istrimu." Daisy sengaja memanas-manasi Mitta. Dia tidak suka dengan wanita yang telah meninggalkan kakaknya itu.
__ADS_1
"Hah? Istri?" tanya Mitta bingung.
"Ya, kak Cello udah nikah, kenapa?" tantang Daisy.
"Daisy kenapa kamu tidak sopan padanya?" tegur Cello pada adiknya. Daisy merasa kesal.
"Ikut aku!" titah Cello pada Mitta.
Mitta pun mengikuti Cello ke mobilnya. Dia sengaja tidak membawa mobil sendiri agar Cello bisa mengantarnya pulang nanti.
Daisy kesal melihat kakaknya memilih pergi bersama wanita itu. Dia pun melapor pada ibunya. "Ma, si dedemit itu datang. Abang malah mengajaknya pergi," lapor Daisy pada ibunya.
"Hah, siapa yang kamu maksud? Apa mama perlu panggilkan pengusir setan?" gurau Mama Cindy.
"Ya ampun mama ada-ada saja, yang aku maksud itu si Mitta," terang Daisy setengah kesal pada ibunya.
"Hah Mitta? Bukannya dia jadi artis di luar negeri? Ngapain balik ke sini?" tanya Mama Cindy.
"Tau tuh udah bener ngilang dari permukaan bumi, eh dia balik lagi ke sini. Jadi gimana nih, aku takut Kak Fara tersisihkan," kata Daisy.
"Tenang aja kakak iparmu tidak akan tersisihkan karena sekarang dia sendang hamil," jawab Mama Cindy.
"Eh jangan ke apartemen, dia ada di rumah sakit," jawab Mama Cindy.
"Hah, kalau gitu kasih alamat rumah sakitnya, Ma. Aku mau nyusul ke sana." Daisy pun menyambar tasnya lalu mengambil kunci mobilnya. Dia akan meluncur ke rumah sakit.
"Dok kapan saya boleh pulang? Saya sudah sehat kok, Dok," rengek Fara.
"Besok boleh pulang," jawabnya.
"Saya pengen pulang sekarang, tolong lepasin infus saya!" Fara tidak tahan di rumah sakit. Di tempat itu dia seakan trauma karena kedua orang tuanya meninggal di rumah sakit. Dia jadi tidak betah. Selama hampir tiga hari ini Cello menemaninya sehingga merasa tenang. Namun, ketika Cello pergi dia merasa gelisah. Ingatan tentang kematian orang tuanya membuat Fara tidak bisa beristirahat dengan tenang di rumah sakit.
"Sabar dulu ya, Bu. Nunggu suaminya datang," kata suster tersebut. Akan tetapi hingga malam tiba Cello tidak datang menemaninya. Fara semakin gelisah.
Dia pun mencopot paksa infus yang masih menempel di tangannya. Setelah itu dia berganti pakaian lalu kabur. "Urusan bayar biar ditagih sama dia," gumam Fara sambil berjalan mengendap-endap.
__ADS_1
"Bu Fara mau ke mana?" tanya salah seorang perawat yang akan mengunjungi Fara di kamarnya.
Fara berlari lalu tak sengaja dia menabrak Daisy. "Kak kok lari-larian sih nanti jatuh," tegurnya.
Fara tak sempat menjelaskan pada Daisy. Dia menarik tangan adik iparnya itu lalu mengajaknya pergi. "Kak mau ke mana sih? Katanya kakak sakit kok malah kabur?"
"Daisy bawa aku pergi aku tidak tahan di rumah sakit. Please aku punya trauma," terangnya.
Daisy pun segera masuk ke dalam mobil setelah itu dia menyalakan mesin mobilnya. "Kita mau ke mana, Kak?" tanya Daisy.
"Cari makan yuk! Lapar," ucap Fara sambil mengusap perutnya. Daisy pun tersenyum.
"Ya ampun ternyata kabur karena nggak tahan makan makanan rumah sakit ya?" tebak Daisy. Dia mengira Fara sedang ngidam.
"Mau makan apa? Aku traktir deh. Sekalian mau kasih selamat buat kehamilan kakak." Ucapan Daisy membuat Fara membulatkan matanya.
"Ini pasti mama yang bilang deh. Duh jujur nggak ya sama dia," batin Fara bingung.
"Kak kita makan di sini saja ya?" Daisy berhenti di sebuah restoran mewah.
Fara pun turun. Tapi matanya tak berkedip ketika melihat suaminya sedang makan dengan seorang wanita. "Kak ada apa?" tanya Daisy ketika melihat Fara melamun.
Dada Fara seketika merasa sesak. Dia berjalan begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Daisy. "Cello," panggil Fara.
"Fara, kok kamu di sini? Kamu kabur dari rumah sakit?" bentak Cello. Tiba-tiba air mata Fara lolos begitu saja.
"Jadi ini alasan kamu tidak bisa menerima aku sebagai istri kamu? Jadi ini alasan kamu meninggalkan aku di rumah sakit sendirian?" ucapan Fara dengan nada bergetar.
Mitta bingung tapi ketika mendengar ucapan Fara dia bisa menebak kalau dia adalah istrinya Cello. "Kenalin aku Mitta," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Dia setenang itu? Apa dia tidak merasa bersalah karena telah mendekati pria beristri?" batin Fara geram sambil menatap tajam ke arah Mitta.
Ya, Mitta tidak kaget dengan kemunculan Fara karena Cello telah menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Mulai dari rumor gay yang sengaja disebarkan oleh ibunya sendiri hingga pernikahan kontrak 100 hari dengan Fara.
"Dasar wanita ja*Lang," umpat Fara pada Mitta.
__ADS_1
Plak
Kira-kira siapa yang nampar dan tertampar? Hayo komen yang banyak