
Cello dan Fara pulang ke apartemen. Meskipun suasana hati Fara sedang tidak baik karena dua hal yang membuatnya kesal, dia tetap ingin memasak untuk suaminya.
"Mas, mau makan apa hari ini?" tanya Fara pada suaminya.
"Tidak usah masak sayang. Kita nanti makan di luar saja," jawab Cello.
"Nggak, Mas. Aku ingin di rumah saja."
Cello tak mau memaksa istrinya. Untuk menyenangkan Fara, Cello meminta Fara memasak cumi pedas hari ini. "Oke, siap Mas aku akan memasak sesuatu dengan pesanan kamu."
Sementara menunggu istrinya selesai masak, Cello menghubungi Anwar. "Maaf aku baru mengabari. Apa hari ini ada masalah di kantor?" tanya Cello pada bawahannya.
"Tidak, Pak. Hanya saja Daisy tadi ke sini membawa berkas yang harus anda tanda tangani," lapor Anwar.
"Baiklah, antarkan kemari!" perintah Cello pada bawahannya itu.
"Baik," jawab Anwar. Tania ragu dia pun segera menuju ke apartemen Cello.
Namun, ketika Anwar sedang menyetir tiba-tiba handphonenya berbunyi. "Mas, Anwar ibunya pingsan di rumah," lapor seorang tetangga yang menelepon Anwar.
Anwar pun putar balik menuju ke rumahnya. Dia akan menghubungi Cello ketika dia sampai di rumah. Tak butuh waktu lama Anwar sampai di rumahnya. "Bagaimana keadaan ibu?" tanya Anwar pada seorang ibu yang menunggui wanita yang terbaring di ranjang saat ini.
"Kata dokter darah tingginya kumat. Jadi dia pingsan. Namun, tidak perlu dirawat di rumah sakit asal obatnya diminum."
Anwar yang ingat kalau dia harus mengantarkan berkas ke apartemen Cello pun meminta izin untuk pergi sebentar. "Tolong jaga ibu saya, saya harus mengantarkan surat penting ke atasan saya." Anwar memberikan sejumlah uang ketika dia akan pergi pada tetangganya itu. Dia merasa tidak enak karena telah merepotkan sang tetangga.
Anwar mengendarai mobil menuju ke apartemen Cello. Sementara itu Fara telah selesai memasak. "Mas cobain!" Fara meletakkan nasi dan lauk di atas meja.
"Wow sepertinya enak sayang."
Sesaat kemudian bel rumah mereka berbunyi. Fara berjalan untuk membuka pintu. "Eh Mas Anwar masuk!"
Anwar mengangguk. "Pak ini berkasnya. Oh ya saya tidak bisa lama-lama karena ibu saya sedang sakit. Bolehkah saya cuti selama dua hari untuk menjaganya?" Anwar meminta izin.
"Sakit apa, Mas?" tanya Fara.
__ADS_1
"Darah tingginya kumat. Beliau habis pingsan," jawab Anwar.
"Kamu tidak boleh cuti," sahut Cello.
"Mas," protes Fara.
Cello tersenyum. "Tapi bekerjalah dari rumah," imbuh Cello kemudian. Fara langsung memeluk suaminya. Anwar merasa lega.
"Aku kira suamiku ini kejam terhadap bawahannya," ucap Fara yang merasa bangga memiliki suami seperti Cello.
"Dulu mungkin aku kejam. Tapi aku berubah setelah mengenal kamu," goda Cello seraya mencubit dagu istrinya.
"Ehem." Anwar berdehem untuk memberi tahu keberadaannya.
"Saya permisi, Pak," pamit Anwar.
Setelah Anwar pergi Cello tiba-tiba mengangkat tubuh Fara. "Mas, turunin!"
"Nggak, aku mau lembur hari ini," kata Cello.
"Lembur apa? Kamu juga bawa kerjaan ke rumah?" tanya Fara dengan polosnya.
Fara menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami. Dia merasa bersalah karena dia mengkonsumsi pil kontrasepsi. "Maaf," ucap Fara tiba-tiba.
Cello sebenarnya sudah tahu tapi dia pura-pura tidak tahu. "Untuk apa?" tanya Cello dengan lembut.
"Aku belum bisa memberi kamu anak," jawab Fara dengan mata berkaca-kaca.
"Tenanglah sayang sebentar lagi kita pasti memiliki anak," jawab Cello dengan yakin. Fara menyipitkan matanya.
"Seyakin itu?" Cello mengangguk menjawab pertanyaan istrinya.
"Kamu tidak tahu saja aku telah menukar obatmu. Awas saja aku akan menghukum kamu dengan caraku supaya kamu tidak bisa lepas dariku," batin Cello.
Kini dia membawa istrinya ke dalam kamar. "Aku menginginkanmu malam ini." Fara sudah tahu maksud suaminya itu. Meski bukan yang pertama kali tapi jantung Fara selalu berdebar setiap kali akan melakukan hubungan intim dengan sang suami.
__ADS_1
Cello mulai menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Dia menciumnya dengan lembut. Fara langsung membalas ciuman Cello. Dia juga menginginkan sentuhan laki-laki yang telah dinikahi selama setengah tahun itu.
Cello seolah enggan berhenti ketika merasakan manis bibir Fara. Dia menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Cello pun mulai menyusuri leher jenjang istrinya. Mencium setiap inchi bagian tubuh dengan lembut. Cello ingin meninggalkan kesan manis di setiap permainannya. Dia juga ingin membuat moment berharga yang dihabiskan dengan istrinya itu hanya menyisakan rasa yang tak terlupakan.
Tahapan demi tahapan telah dilakukan dengan baik untuk membuat istrinya puas menikmati olah raga kali ini. Usia melakukan penyatuan, Fara terkulai lemas. Cello menyelimuti tubuh istrinya yang polos lalu terakhir mengecup keningnya.
"Terima kasih sayang. Aku harap kamu segera mengandung anakku," ucap Cello sebelum ikut tertidur.
Hari ini mereka tak ingin keluar rumah jadi seharian dihabiskan untuk bermesraan. Fara dibuat kelelahan oleh suaminya. Tapi Cello tidka pernah merasa puas jika sudah menyentuh istrinya.
Keesokan harinya Cello bangun lebih dulu. Dia mengecup bahu Fara yang polos. "Cukup Mas. Aku sudah kelelahan," ucap Fara yang masih merapatkan matanya.
Cello terkekeh. "Aku minta maaf sayang. Rasanya aku tidak pernah puas jika bersamamu. Mau aku gendong?" goda Cello.
Fara menarik selimut lalu berlari ke kamar mandi. "Dasar iblis mesum!" umpatnya di dalam kamar mandi.
Setelah persiapan pagi ini, Cello mengantar Fara ke kampus. "Nanti aku pulangnya naik taksi saja. Aku ingin ke rumah mama.
"Baiklah, nanti malam aku jemput," balas Cello. Setelah mencium pipi suaminya, Fara turun dari mobil.
Hari ini Fara datang ke kampus ingin menyelidiki siapa orang yang telah menyebarkan video saat dirinya berpelukan dengan Rendy. "Jadi kamu udah tanya sama yang lain belum Git?" tanya Fara.
"Tere, dia yang udah nyebarin berita hoax itu," lapor Gita.
Fara mengepalkan tangannya. "Sialan tuh adiknya dedemit," gumam Fara kesal. Dia berjalan ke gedung fakultas Tere. Setelah menemukan Tere, Fara melepas sepatu lalu melemparnya ke arah Rere dari belakang.
"Aduh. Sepatu siapa nih?" tanya Rere pada teman-temannya.
"Sepatu gue! Balikin!" jawab Fara dengan nada lantang. Tere berbalik badan.
Gita merasa ketakutan. "Waduh bakalan perang dunia ketiga ini," gumamnya. "Ra, mending kita pergi aja yuk! Nggak usah balas dia," bujuk Gita.
Fara tak mengabaikan ucapan Gita. "Heh, adiknya dedemit kamu kan yang nyebarin video itu di grub kampus?" tanya Fara.
"Siapa yang adiknya dedemit?" tanya Tere. Fara berjalan mendekat ke arah Tere. Dia menunjuk bahu Tere dengan satu jarinya.
__ADS_1
"Kamu adiknya Mitta bukan? Kamu dan kakak kamu ternyata sebelas dua belas," ledek Fara sambil tersenyum sinis. Tere mengepalkan tangannya.
Apa yang terjadi setelah itu?